7 Sektor Tetap Tumbuh Positif di Tengah Kontraksi Ekonomi Indonesia

Reporter: Petrus Dabu
0
349

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto memaparkan kinerja ekspor impor Indonesia Januar 2020, Senin (17/2). (The Iconomics)

Di saat perekonomian Indonesia mengalami kontraksi yang dalam sebesar 5,32% pada triwulan kedua 2020, masih ada sektor yang tumbuh positif yang menahan kejatuhan lebih dalam.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan nilai Produk Domesitk Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku pada triwulan kedua 2020 adalah Rp3.687,7 triliun dan atas dasar harga konstan (tahun dasar 2010) adalah sebesar Rp2.589,6 triliun.

“Kalau PDB atas dasar harga konstan ini kita bandingkan dengan posisi pada triwulan kedua 2019 (year on year), maka pertumbuhan ekonomi pada triwulan kedua 2020 ini mengalami kontraksi sebesar 5,32%,”ujarnya saat konferensi pers virtual di Jakarta, Rabu (5/8).

Suhariyanto mengatakan ini merupakan pertumbuhan PDB negatif terendah sejak triwulan pertama tahun 1999. Pada saat itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar 6,13%.

Namun, meski secara umum perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan negatif, tetapi ada sejumlah sektor yang masih tumbuh positif.

“Dari 17 sektor yang ada, hanya ada 7 sektor yang masih tumbuh tetapi melambat, kecuali untuk sektor informasi dan komunikasi,” ujar Suhariyanto.

Baca Juga :   Menkeu: Defisit Anggaran Rp62,8 Triliun Hingga Februari

Ada pun 7 sektor yang tumbuh positif pada triwulan kedua 2020 dibandingkan triwulan kedua 2019 (yoy) adalah Informasi dan Komunikasi (+10,88%); Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,
Limbah dan Daur Ulang (+4,56%); Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (+3,71%); Real Estat (+2,3%); Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (+2,19%); Jasa Pendidikan (+1,21%) dan Jasa Keuangan dan Asuransi (+1,03%).

Suhariyanto mengungkapkan pada masa pandemi Covid-19, sektor informasi dan komunikasi tumbuh signifikan terjadi karena adanya peningkatan belanja iklan televisi dan media digital, peningkatan traffic atau lalu lintas data penggunaan internet dan juga peningkatan jumlah pelanggan penyedia jasa internet maupun televisi berbayar.

“Jadi satu-satunya sektor yang tumbuh positif dan meningkat adalah informasi dan komunikasi. Enam sektor lainnya masih tumbuh tetapi melambat,” ujarnya.

Suhariyanto mengatakan dengan pertumbuhan yang mengalami kontraksi di banyak sektor, maka ada pergeseran dalam struktur PDB. Misalnya, kontribusi pertanian pada triwulan kedua 2019 adalah sebesar 13,57%, tetapi pada triwulan kedua 2020 ini kontribusi sektor pertanian kepada PDB meningkat menjadi 15,46%.

Baca Juga :   Apa yang Bisa Dimaksimalkan untuk Mencegah Resesi Ekonomi?

Sebaliknya, untuk transportasi dan pergudangan yang pada triwulan II 2020 ini mengalami kontraksi yang paling dalam yaitu 30,84%, kontribusinya pada PDB pun menurun. Pada triwulan kedua 2019 lalu kontribusinya pada PDB sebesar 5,57%, turun menjadi 3,57 pada triwulan kedua 2020.

Namun, lebih lanjut Suhariyanto mengatakan struktur PDB secara keseluruhan tidak mengalami perubahan dimana 65% PDB Indonesia itu dipengaruhi oleh 5 sektor yaitu industri, pertanian, perdagangan, konstruksi dan pertambangan. Pergerakan di lima sektor besar ini akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Sayangnya pada triwulan kedua ini hanya ada satu sektor yang tumbuh positif yaitu pertanian, sementara empat sektor besarnya mengalami kontraksi,” ujarnya.

Ada pun sektor industri pengolahan mengalami kontraksi sebesar 6,19%; perdagangan -7,57%; kontruksi -5,39% dan pertambangan -2,72%.

Dari sisi pengeluaran, semua komponen mengalami kontraksi yang dalam. Konsumsi rumah tangga tumbuh negatif 5,51%; investasi (PMTB) -8,61%; ekspor -11,66%; konsumsi pemerintah -6,9%; lembaga non profit yang melayani rumah tangga -7,76%; dan impor -16,96%.

Leave a reply