Digitalisasi dan Insurtech Dorong Pertumbuhan Industri Asuransi

Reporter: Yehezkiel Sitinjak
0
122

OJK soal penarikan objek jaminan fidusia/Republika

Penerapan teknologi digital dan kehadiran insurtech diharapkan dapat mendorong penetrasi asuransi di Indonesia yang masih relatif rendah. Jalur distribusi ini dinilai sangat untuk mendorong penetrasi asuransi.

Keuntungan lainnya insurtech dapat meminimalkan biaya asuransi sehingga lebih efisien. Pemasaran asuransi secara digital juga lebih efektif dalam proses bisnis asuransi.

Menurut Deputy Komisioner Pengawasan IKNB II Otoritas Jasa Keuangan (OJK) M. Ihsanuddin, literasi masyarakat terhadap produk asuransi serta densitas dan penetrasi masih sangat rendah. Untuk IKNB, misalnya, pertumbuhan asuransi kalah bersaing dengan produk lain seperti pegadaian dan fintech P2P lending.

Ihsanuddin akan tetapi optimistis penetrasi yang rendah itu bisa jadi peluang bisnis bagi industri, bukan sebagai tantangan yang mengerikan. Soalnya, potensi pasar Indonesia masih sangat luas, terutama dari sisi digital di mana data menunjukkan ada 338 juta penggunaan telepon seluler yang aktif.

“Ini bagian dari peluang bisnis di asuransi kalau melihat persentasenya masih kecil itu sebagai hal yang mengerikan. Justru itu suatu peluang bagaimana kita penetrasi ke sana sehingga bisa dimanfaatkan menjadi suatu bisnis yang menguntungkan karena masih sangat kecil dibanding negara-negara Asia Tenggara apalagi dengan developed country di Barat,” kata Ihsanuddin dalam acara diskusi secara daring, Jakarta, Kamis (30/7).

Baca Juga :   Ketua Koperasi dan CEO Indosurya Group Sama, Ini Buktinya

Dengan kondisi berat yang dihadapi seluruh sektor riil akibat dampak pandemi Covid-19, menurut Ihsanuddin, sulit bagi industri asuransi untuk tumbuh saat ini. Itu sebabnya,  industri sebaiknya “tiarap” terlebih dahulu sekaligus menata lagi posisinya. Ketika kondisi ekonomi telah pulih, industri dapat rebound kepada pertumbuhan yang baik.

“Tantangannya juga cukup berat, beberapa perusahaan asuransi, bahkan bukan hanya asuransi tapi sektor riil pun, terkena dampak semua. Jadi, pusarannya di sektor keuangan juga kena, karena hubungan antar sektor sudah sangat erat sehingga saling mempengaruhi. Dengan adanya situasi ekonomi seperti ini tidak mudah bagi pelaku (perusahaan asuransi),” kata Ihsanuddin.

Sementara itu, Director & Chief of Partnership Distribution Officer PT Asuransi Allianz Life Indonesia Bianto Surodjo mengatakan, potensi pasar digital sangat penting bagi industri asuransi untuk mempercepat pertumbuhan penetrasi asuransi yang masih rendah, atau sekitar 2% dari PDB.

Dalam hal ini, industri asuransi dapat mengikuti jejak pertumbuhan yang dialami oleh industri sistem pembayaran yang kini telah sangat meluas berkat pengadopsian digital.

Baca Juga :   CIMB Niaga Rombak Susunan Direksi dan Komisaris Lewat RUPS Tahunan

“Mengapa hal ini terjadi? Karena digital payment sudah mencapai satu critical mass. Ini semua tercapai karena terbentuknya ekosistem, keterhubungan, yang mempengaruhi customer experience dalam menggunakan produk tersebut,” kata Bianto.

Lewat keterhubungan yang diciptakan dengan terbentuknya suatu ekosistem yang luas, maka pengguna diberikan kemudahan dalam memanfaatkan layanan tersebut dalam menjangkau kehidupan keseharian mereka, sehingga membuat layanan digital payment sangat populer.

Karena itu, kata Bianto, jika industri asuransi mau berkembang lebih cepat, maka asuransi harus memasukkan ekosistem digital. Dalam penetrasi dunia digital, industri asuransi dapat berkolaborasi dengan platform e-commerce dan e-services yang merupakan jangkar pada ekosistem digital saat ini dan akan membantu produk asuransi menjangkau calon pelanggan secara lebih luas.

“Di Asuransi umum sudah berjalan, menempelkan asuransi perjalanan ke platform perjalanan. Allianz juga sudah memulai menerapkan ini dengan bekerja sama dengan bukalapak misalnya, untuk menawarkan asuransi kesehatan dan jiwa,” kata Bianto.

Leave a reply