Laba Turun 4,84%, Begini Penjelasan Presdir BCA

Reporter: Petrus Dabu
0
132

Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA/Ist

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Jahja Setiaatmadja mengatakan  penyebab turunnya laba bersih BCA adalah karena berkurangnya kredit baru akibat kelesuhan bisnis di tengah pandemi Covid-19.

Salah satu yang paling ekstrim, misalnya penurunan kredit kendaraan bermotor. Biasanya dalam kondisi normal, jelas Jahja kredit kendaraan bermotor bisa mencapai Rp2,5 triliun hingga Rp3 triliun per bulan.

“Tetapi kemarin itu betul-betul drop sampai ke titik nadir yang paling bawah sekitar Rp200-300  miliar per bulan dari Rp2,5 triliun sampai Rp3 triliun,” ujarnya.

Sepanjang semester pertama 2020, total Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) BCA turun 11,9% year on year (yoy) menjadi Rp42,5 triliun.

Jahja berharap seiring dengan pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) saat ini, diharapkan pasar otomotif kembali pulih dari kelesuhannya. Apalagi menurutnya para pelaku industri otomotif juga sudah kembali optimis seiringan adanya masa transisi saat ini.

“Dengan adanya masa transisi kita harapkan berangsur-angsur paling tidak mencapai 50-60% dari  kondisi normal yang dulu,” ujar Jahja.

Baca Juga :   Pekan Ini, Direksi BCA Jual Saham BBCA Senilai Rp20,27 Miliar

Sepanjang semester pertama 2020, bank dengan sandi saham BBCA ini membukukan penurunan laba bersih sebesar 4,84% yoy menjadi Rp12,24 triliun.

Selain karena turunnya kredit baru, penurunan laba bersih juga terjadi karena adanya penyesuaian bunga kredit sebagai bagian dari program restrukturisasi kredit yang dilakukan. “Kita satu per satu melihat kemampuan nasabah dalam membayarkan bunga. Kalau memang mereka menghadapi kesulitan tentu harus kita lakukan adjustment,” jelasnya.

Kemudian, penurunan laba juga terjadi karena adanya peningkatan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) terutama pada kuartal kedua. Total CKPN pada semester pertama 2020 ini sebesar Rp6,5 triliun dimana pada kuartal kedua saja mencapai Rp5,6 triliun.

“Kita harus mempersiapkan pencadangan yang cukup. Kita juga enggak mau kaget-kaget, sebab itu kita menyiapkan CKPN yang memadai sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan kita ke depan,”ujarnya.

Jahja menjelaskan laba sebelum provisi dan pajak BCA sebenarnya masih bagus yaitu mencapai Rp21,5 triliun, tumbuh 15,8% yoy, dimana pertumbuhan yang baik tersebut telah memberikan ruang untuk mengantisipasi kenaikan biaya pencadangan kredit.

Baca Juga :   Gandeng JCB International, BCA Mudahkan Nasabah ke Luar Negeri

Total penyaluran kredit BCA pada semester pertama 2020 sebesar Rp595,1 triliun, naik  5,3% yoy, terutama ditopang oleh pertumbuhan kredit korporasi. Hingga akhir tahun nanti, BCA memperkirakan pertumbuhan kredit hanya 1%-2%. Meski terbilang rendah, tetapi proyeksi ini lebih baik dibandingkan proyeksi saat paparan kinerja kuartal pertama 2020 lalu.

“Estimasi kredit kita waktu itu kita sampaikan lebih kurang turun 1%-2%.  Saat ini setelah kita lihat lagi, kita estimasi kredit kita akan tumbuh sedikit tahun ini, ya lebih kurang mudah-mudahan bisa positif 1-2%,” ujar Direktur Keuangan BCA, Vera Eve Lim.

TagsBCA

Leave a reply