BKPM ‘Pedekate’ 152 Perusahaan untuk Relokasi Investasi dari Tiongkok

0
96

Nurul Ichwan, Deputi Perencanaan Penanaman Modal BKPM /Iconomics

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyampaikan sedang melakukan ‘pedekate’ alias pendekatan kepada ratusan perusahaan untuk melakukan relokasi dan diversifikasi investasi dari Tiongkok ke Indonesia. Sebanyak 13 perusahan diantaranya sudah menyatakan kepastian untuk melakukan relokasi ke Indonesia.

“…dalam bentuk pendekatan yang kita lakukan, kita sudah berhasil mendapatkan kepastian bahwa 13 perusahaan yang akan relokasi ke Indonesia baik itu perusahaan yang kapitalnya milik Amerika, Jepang, Taiwan, Korea Selatan maupun Hongkong,” ungkap Nurul Ichwan, Deputi Perencanaan Penanaman Modal BKPM dalam diskusi virtual pada Selasa (13/10/2020).

Dari 13 perusahaan yang sudah menyatakan kepastiannya itu, dua perusahaan Amerika Serikat, empat perusahaan Jepang, tiga perusahaan Taiwan, dua perusahaan Korea Selatan dan dua perusahaan Hongkong.

Tak hanya 13 perusahaan tersebut, Nurul mengatakan sebanyak 15 perusahaan lainnya sudah menunjukkan minatnya untuk relokasi ke Indonesia dan 124 sedang didekati lebih jauh lagi oleh BKPM.

“Sehingga kita ada total ada 152 perusahaan yang harapannya bisa kita dekati dan melakukan relokasi industri ke Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga :   Targetkan Penjualan SR013 Rp75 M, Inilah Strategi BNI Syariah

Hingga semester pertama 2020 lalu, realisasi investasi tahun 2020 ini mencapai R402,6 triliun atau 49,3% dari target sepanjang tahun ini yaitu sebesar Rp817,2 triliun. Dari realisasi investasi tersebut, realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp195,6 triliun atau 48,6% dari total realisasi investasi. Sedangkan jumlah Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp207 triliun atau 51,4%.

Nurul mengatakan pencapaian investasi pada semester pertama ini masih dalam koridor yang benar meski di tengah pandemi. Ia mengatakan hampir setiap tahun juga realisasi investasi memenuhi target yang ditetapkan. Hanya saja, dia mengakui realisasi investasi ini tidak memberikan kontribusi yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi.

“Artinya bisa jadi realisasi investasi yang ada di Indonesia ini bukan realiasi yang berkualitas dalam pengertian bahwa dia memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. Kemungkinan besar adalah kegiatan investasi yang masuk ke Indonesia itu tidak berorientasi kepada ekspor, sehingga apa yang dihasilkan itu hanya ditujukan kepada market dalam negeri sehingga pendapatan devisa dari sisi ekpsornya relatif sedikit,” ujarnya.

Leave a reply