Restrukturisasi Kredit Sudah Melandai, Perbankan Didorong Mulai Menyalurkan Kredit

Reporter: Petrus Dabu
0
72

Ketua DK OJK Wimboh Santoso/OJKKetua DK OJK Wimboh Santoso/OJK

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan permintaan restrukturisasi kredit ke perbankan sudah mulai melandai pada bulan Juni ini. Karena itu perbankan pun didorong untuk mulai kembali menyalurkan kredit kepada dunia usaha.

Namun, pemberian kredit harus tetap esktra hati-hati karena tren rasio kredit bermasalah menunjukkan peningkatan.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengungkapkan Juni ini restrukturisasi kredit sudah mulai melandai. Artinya, sebagian besar sudah dilakukan di bulan April dan Mei.

“Ini adalah tanda bahwa sebenarnya peak-nya ini sudah dilakukan. Kalau ada tambahan barang kali enggak begitu banyak. Dan ini sudah waktunya kita akan minta perbankan untuk mulai memberikan kredit kepada debitur-debitur yang kemarin melakukan restructuring maupun yang tidak,” ujar Wimboh saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin (29/6).

Menurutnya, pemberian kredit kepada debitur yang tak melakukan restrukturisasi sudah pasti kondisinya bagus dan potensial untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Sedangkan kredit kepada debitur yang melakukan restrukturisasi memang membutuhkan perhatian khusus. OJK, kata dia, akan memantau rencana bisnis bank hingga Desember bahkan hingga ke sektor-sektor terutama sektor yang melakukan restrukturisasi.

Baca Juga :   OJK Siapkan Kebijakan Lanjutan untuk Debitur Terdampak Corona

OJK melaporkan bahwa hingga 22 Juni lalu restrukturisasi kredit yang dilakukan perbankan terhadap debitur terdampak pandemi Covid-19 sudah mencapai Rp 695,34 triliun. Restrukturisasi kredit itu diberikan kepada 6,35 juta debitur.

Terkait penyaluran kredit ke dunia usaha untuk mendukung pemulihan ekonomi, OJK mengapresiasi kebijakan pemerintah yang menempatkan dana di bank Himbara atau bank BUMN. Ia mengatakan diharapkan dana sebesar Rp30 triliun tersebut dapat mempercepat pemulihan perekonomian.

“Ini adalah bentuk perhatian dan dorongan bagi perbankan untuk lebih agresif dalam mempercepat proses pemberian kredit di dalam rangka mendukung recovery ekonomi ini,”ujarnya.

OJK kata dia akan meminta kepada Himbara detil penggunaan dana Rp30 triliun tersebut termasuk ke sektor mana saja disalurkan dan bahkan juga termasuk per kluster bila disalurkan ke UMKM. “Bakal kami monitor secara khusus dan tentunya akan kami lakukan koordinasi dan laporkan ke Menteri Keuangan bersama Gubernur BI dalam KSSK. Secara khusus kita akan monitor sebagai bagian dari secara keseluruhan monitor dari business plan perbankan dalam rangka recovery ini,” ujarnya.

Baca Juga :   2020: 4 Faktor Pendorong KPR Non Subsidi Tumbuh Signifikan

Secara umum, jelas Wimboh kondisi perbankan di Indonesia relatif tak ada masalah baik dari sisi permodalan maupun likuiditas. Salah satunya karena adanya kebijakan menurunkan Giro Wajib Minimum (GMW) yang dilakukan oleh Bank Indonesia. “Jadi secara total likuiditas tidak ada masalah,” ujarnya.

Tetapi, Wimboh mengungkapkan pada bulan Mei ini rasio Non Performing Loan (NPL) sudah mulai meningkat. Peningkatan NPL ini, jelasnya sudah diprediksikan OJK sebelumnya.

“Peningkatan NPL ini menunjukkan bahwa memang beberapa sektor sudah mulai terkena imbas dari Covid ini. Kalau sebelumnya kita hanya memprediksikan sekarang sudah kenyataannya sudah terjadi,” ujarnya.

Karena itulah, menurutnya penyaluran kredit kepada dunia usaha harus tetap hati-hati. Salah satu pertimbangan yang bisa menjadi perhatian adalah sejauh mana aktivitas sosial masyarakat kembali pulih seperti aktivitas travelling. “Ini  adalah syarat utama bahwa nanti kredit ini kalau kita salurkan efektif betul bisa meng-generate revenue bagi perusahaan-perusahaan. Kalau katakanlah hotel kreditnya sudah kita disburse, tetapi ternyata enggak ada penghuninya juga tentunya tidak akan memberikan manfaat yang optimal. Juga transportasi, kalau kita sudah kita disburse, ada kredit tambahan modal kerja, tetapi ternyata eggak ada yang naik juga akan menjadi masalah,” ujarnya.

Baca Juga :   OJK Minta Perbankan Percepat Transmisi Kebijakan Stimulus dari Pemerintah, OJK dan BI

Pertimbangan pulihnya aktivitas sosial masyarakat ini, jelas Wimboh harus menjadi perhatian perbankan dalam memberikan kredit. Perbankan diminta untuk sangat hati-hati dalam hal mengalokasikan kredit ke sektor-sektor yang betul-betul bisa menyerap tenaga kerja dan akhirnya bisa tumbuh.

“Tetapi kalau kami lihat ini kayaknya semua sudah antusias sektor-sektor riil. Kalau lihat di jalan sudah mulai penuh, ini adalah tanda yang sebenarnya bagus bahwa ekonomi bisa segera tumbuh. Namun demikian kami juga melihat ada tanda-tanda bahwa covid ini korbannya di beberapa daerah memang nambah,” ujarnya.

 

Leave a reply