Setelah Terkontraksi -5,32%, Pemerintah Berupaya Dorong Pemulihan Ekonomi di Kuartal III/2020

Reporter: Yehezkiel Sitinjak
0
143

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto/Dok. Ekon

Pemerintah berupaya mendorong terjadinya pemulihan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2020 setelah kuartal II terkontraksi -5,32%. Fakta ini disebut karena pandemi Covid-19 yang berdampak luas ke 213 negara termasuk Indonesia.

“Kalau kita lihat dari data, tadi baru di-announce pertumbuhan Indonesia di kuartal II/2020 -5,32%. Dan memang pada Maret dan April adalah puncak dari pandemi Covid-19 terutama dari segi perekonomian,” kata Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto saat telekonferensi pers secara virtual, Rabu (5/8).

Airlangga menuturkan, meski ekonomi Indonesia telah mencapai titik terendahnya (bottom) pada kuartal II, masih terdapat beberapa sektor ekonomi yang menunjukkan resiliensi dan mampu mencatat pertumbuhan positif sepanjang periode tersebut.

Sektor-sektor tersebut adalah informasi dan komunikasi (+10,88%); pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang (+4,56%); jasa kesehatan dan kegiatan sosial (+3,71%); real estat (+2,3%); pertanian, kehutanan, dan perikanan (+2,19%); jasa pendidikan (+1,21%); dan jasa keuangan dan asuransi (+1,03%).

“Jadi walau terjadi penurunan di kuartal II tadi, tapi sektor-sektor riil masih mempunyai resilience atau daya tahan untuk beroperasi secara positif,” kata Airlangga.

Baca Juga :   PR In The Age Of Physical Distancing

Selain itu, kata Airlangga, melihat tren dari beberapa indikator ada beberapa momentum pemulihan selama beberapa bulan terakhir. Semisal, indeks PMI manufaktur yang naik dari 27,5 pada Maret 2020 ke 46,9 pada Juli 2020.

Lalu, segi penjualan kendaraan bermotor juga mengalami kenaikan demand yang jatuh ke -82% secara tahunan (yoy) di Juni mulai naik ke -54% yoy. Demikian juga penjualan retail dari -20,6% yoy di Mei naik ke -14,4% yoy di Juni 2020. Kemudian Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) mencatat kenaikan dari 77,8 di Mei, naik menjadi 83,8 di Juni 2020.

“Ini menandakan demand baik dari dalam negeri maupun ekspor sudah mulai muncul, ini momentum harus kita jaga. Jadi, diharapkan oleh pemerintah ada keyakinan bahwa ini recovery-nya dalam shape pembalikan,” katanya.

 

Leave a reply