Sinar Mas Agribusiness and Food Tetap Edukasi Pencegahan Karhutla Meski Pandemi Covid-19

0
125

Peluncuran buku cerita anak sekolah dasar (SD) berjudul “Rimbun dan Sahabat Rimba”/Sinar Mas Agri

Sinar Mas Agribusiness and Food terus mendorong pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui edukasi. Dalam 2 pekan terakhir, perusahaan menggelar 2 gelombang lokakarya edukasi pencegahan karhutla virtual bagi lebih dari 400 guru di Sumatera, Kalimantan dan Papua menggunakan teknologi konferensi.

“Awalnya, kami merencanakan lokakarya tatap muka bagi guru-guru di area yang rawan terjadi karhutla. Dalam kondisi Covid-19 seperti saat ini, saya dan tim mencari cara terbaik agar lokakarya tetap dapat dilakukan, yaitu secara virtual,” kata praktisi CSR Bidang Pendidikan, Sinar Mas Agribusiness and Food Donni Indra dalam siaran pers.

Menurut Donni, dengan hal tersebut anak-anak tetap bisa mendapatkan pemahaman mengenai bahaya karhutla dan pencegahannya. Ia pun menyatakan akan menindaklanjuti kegiatan tersebut di lapangan setelah pandemi Covid-19 reda.

Selain kegiatan virtual tersebut, perusahaan akan meneruskan keterlibatan bersama para guru melalui tips harian yang akan dikirimkan melalui WhatsApp untuk memastikan mereka mendapat dukungan dalam menerapkan apa yang telah dipelajari selama lokakarya.

“Komitmen dan upaya perusahaan untuk mencegah karhutla akan terus berlanjut. Kami memulai program pencegahan karhutla di 2016 dengan program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) yang menyasar kelompok orang dewasa. Program tersebut telah sukses mengurangi titik panas dan titik api secara signifikan di dalam maupun di area sekitar konsesi Perusahaan,” kata Managing Director Sustainability Sinar Mas Agribusiness and Food Agus Purnomo.

Baca Juga :   Lewat Program Desa Peduli Gambut, Sinar Mas Agribusiness and Food Bersama BRG Mitigasi Karhutla

Adapun dalam lokakarya virtual ini, bagi peserta yang mengalami kendala jaringan internet, mereka tetap dapat mengikuti kegiatan dari kantor kebun dengan protokoler Covid-19 yang sangat ketat.

Perusahaan mengatakan koneksi internet yang sangat bervariasi di wilayah Kalimantan dan Papua dibandingkan Sumatera, menjadi sebuah tantangan tersendiri. Setidaknya, tim panita harus melakukan uji coba jaringan 10 hari sebelum acara dan menyusun beberapa skenario untuk memastikan semuanya bekerja dengan baik pada hari pelaksanaan.

Leave a reply