Harga Saham Babak Belur, 4 BUMN Konstruksi Alokasikan Rp 950 Miliar untuk Buyback Saham

Reporter: Petrus Dabu
0
127

Ilustrasi/Katadata

Empat BUMN konstruksi sudah mengumumkan rencana pembelian kembali saham (buyback) di bursa saham. Keempatnya menyediakan total dana Rp 950 miliar untuk mengembalikan harga saham yang babak belur.

Pembelian kembali saham ini merupakan upaya untuk meredam gejolak harga saham akibat wabah coronavirus. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan kelonggaran bagi emite untuk melakuakan buyback tanpa terlebih dahulu melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

PT PP (Persero) Tbk mengalokasikan dana Rp 250 miliar untuk buyback. Emiten dengan kode saham PTPP ini akan melakukan pembelian kembali saham pada periode 13 Maret hingga 12 Juni 2020.

“Pembelian Kembali Saham Perseroan akan dilakukan di harga yang dianggap baik dan wajar oleh Perseroan dengan memperhatikan peraturan yang berlaku,” ungkap manajemen PTPP dalam keterbukaan informasi, Kamis (12/3).

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk mengalokasikan dana Rp 300 miliar untuk hajatan yang sama. Aksi korporasi ini akan dilakukan pada 13 Maret hingga 13 Juni 2020.

Dana untuk pembelian kembali ini diambil Wijaya Karya dari saldo laba yang belum ditetapkan penggunaanya per tanggal 30 September yang berjumlah Rp 5,25 triliun.

Baca Juga :   Kementerian BUMN Berkoordinasi dengan 12 Perusahaan untuk Buyback Saham

PT Waskita Karya (Persero) Tbk juga mengalokasikan dana Rp 300 miliar untuk melakukan buyback. “Biaya pembelian kembali saham Perseroan akan berasal dari Kas internal,” tulis manajmen Waskita dalam keterbukaan informasi, Kamis (12/3).

Per 30 September 2019, emiten dengan kode saham WSKT ini memiliki kas sebesar Rp 3,49 triliun.

Anggaran buyback dari PT Adhi Karya (Persero) Tbk lebih kecil dibandigkan tiga BUMN konstruksi lainnya. Emiten denhan kode ADHI ini mengalokasikan dana Rp 100 miliar untuk buyback.

Parwanto Noegroho, Corporate Secretary PT Adhi Karya (Persero) Tbk mengatakan pembelian kembali ini rencananya akan dilakukan secara bertahap selama tiga bulan mulai 13 Maret hingga 13 Juni 2020.

Dengan pembelian kembali saham ini, manajemen berharap dapat menjaga stabilitas harga saham di pasar modal. Disebutkan bahwa pada saat ini harga saham Perseroan tidak mencerminkan kondisi fundamental dan prospek Perseroan.

“Pembelian Kembali Saham Perseroan tidak akan memberikan dampak negatif yang material terhadap kegiatan usaha Perseroan mengingat Perseroan memiliki modal kerja dan cash flow yang cukup untuk melaksanakan pembiayaan transaksi bersamaan dengan kegiatan usaha Perseroan,” tulis Parwanto.

Baca Juga :   BPJS Ketenagakerjaan dan Dana Pensiun Sedang Dalami Pembelian Saham

Harga Saham Babak Belur

Harga saham empat BUMN konstruksi ini mengalami penurunan yang tajam sepanjang 2020 ini. Penyebabnya, selain karena wabah coronavirus yang terjadi saat ini, juga karena kinerja keuangan perushaaan yang kurang begitu bagus, setidaknya hingga kuartal ketiga 2019 lalu.

Secara year to date, penurunan saham yang paling dalam dialami oleh Waskita Karya (WSKT) yang turun 57,14% hingga Kamis (12/3). Menyusul kemudian adalah saham PT PP turun 51,24%, Adhi Karya (ADHI) turun 50,43% dan Wijaya Karya (WIKA) turun 43,32%.

Sedangkan secara harian pada perdagangan Kamsi (12/3), penurunan terdalam dialami oleh WIKA yang turun 18,2%. Disusul, WSKT  turun 16,2%, PTPP turun 12,8% dan ADHI turun 7,9%.

Selain karena wabah Corona, kinerja keuangan empat emiten BUMN konstruksi ini juga tidak begitu menggembirakan.

Dari sisi pendapatan PTPP sebenarnya masih tumbuh. Pendapatan Perseoran pada Januari-September 2019 lalu mencapai Rp 16,06 triliun, naik 8,63% year on year (yoy). Tetapi laba bersih perusahaan mengalami penurunan yang tajam 37,75% yoy menjadi Rp 544,47 miliar.

Baca Juga :   Tiga Emiten Tambang Plat Merah Alokasikan Dana Rp 500 Miliar untuk Buyback Saham

Sedangkan Wijaya Karya, per 30 September 2019, pendapatannya turun 12,89% menjadi Rp 18,3 triliun. Tetapi,  laba berish  naik signifikan 57,18% menjadi Rp 1,35 triliun.

Sedangkan Adhi Karya (ADHI) baik pendapatan maupun laba berish masing-masing turun. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan per 30 September 2019 yang dipublikasikan, pendapatan Perseroan turun 5,2% menjadi Rp 8,94 triliun. Laba bersih perusahaan juga turun 4,47% menjadi Rp 335,53 miliar.

Kinerja keuangan yang paling buruk dialami oleh Waskita Karya (WSKT).  Sepanjang Januari-September 2019 lalu, pendapatan Waskita  turun 39,24% menjadi Rp 22,01 triliun. Dan laba bersih perusahaan turun 69,29% menjadi Rp 1,15 triliun.

Leave a reply