Nasabah Tabungan Emas Pegadaian Tumbuh Ketika Harga Emas Naik

Reporter: Yehezkiel Sitinjak
0
113

Kantor Pusat Pegadaian (samping)/Pegadaian

Nasabah tabungan emas PT Pegadaian (Persero) mencapai 5,8 juta per Juni 2020. Angka tersebut naik 1,2 juta dari 4,6 juta nasabah pada akhir 2019.

Direktur Teknologi Informasi dan Digital Pegadaian Teguh Wahyono mengatakan, di samping nasabah, penjualan emas perusahaan sepanjang semester I/2020 mencapai 4,98 ton. Rata-rata kenaikan didorong oleh penabung pemula, seperti anak muda atau kalangan milenial.

“Sebagian besar (nasabah emas) adalah yang belajar investasi makanya saldonya itu kecil tapi mereka memang kelompok anak yang belajar investasi dalam bentuk emas. Penjualan emas dalam setengah tahun ini sudah mencapai 10 ton,” kata Teguh saat telekonferensi pers secara virtual, Rabu (29/7).

Seperti diketahui, harga emas di pasar sedang mengalami kenaikan cukup tinggi, di mana pada Rabu (29/7) ini, harga emas batangan di PT Aneka Tambang (Antam) mencapai Rp 1.013.000 per gram. Padahal tahun lalu harga emas sekitar  Rp 700 ribu per gram.

Menanggapi fenomena tersebut, Direktur Pemasaran dan Pengembangan Produk
Pegadaian Harianto Widodo menyebutkan, kenaikan harga emas ini turut berdampak pada bisnis Pegadaian.

Baca Juga :   AP I: Sempat Anjlok di Mei, Traffic Penerbangan Mulai Naik di Juli 2020

Terlebih Pegadaian punya 2 jenis bisnis model yang berhubungan dengan emas yakni gadai emas, dan trading emas yang dilakukan oleh anak usahanya, galeri 24.

“Kalau kita lihat apakah dengan kenaikan harga emas serta merta nasabah akan gadai? Sebenarnya kenaikan harga emas di pasar ini akan menentukan taksiran emas kita di gadai,” kata Hariantoro.

Dengan naiknya harga emas, kata Hariantoro, nasabah Pegadaian yang telah menggadaikan emasnya bisa memperoleh plafon pinjaman yang lebih besar lagi sesuai dengan jumlah emasnya. Namun, belum semua nasabah memanfaatkan peluang ini.

Hariantoro belum bisa memastikan apakah ke depan tren investasi ke arah emas akan semakin cepat. Sebab, bila harganya terlalu tinggi, maka berpotensi meredakan niat mereka untuk berinvestasi.

“Ini trennya naik, tapi belum kita lihat apakah kenaikan ini tembus 1.000 troy ons. Biasanya kalau sudah terlalu tinggi, masyarakat berhenti investasi karena dianggap terlalu mahal,” katanya.

Leave a reply