Second Wave Crash, Apakah Bakal Melanda Pasar Saham?

Reporter: Petrus Dabu
0
186

Ilustrasi/web

Pasar saham sudah pelan-pelan mengalami pemulihan (recovery) setelah crash beberapa waktu lalu karena kepanikan massal akan resesi ekonomi akibat pandemi Covid-19. Saat ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah kembali berada di level 5.000-an setelah sempat jatuh ke titik terendah di sekitar 3.900-an pada akhir Maret lalu.

Tetapi para pelaku pasar masih belum sepenuhnya tenang karena masih was-was akan kembali terjadinya second wave crash di pasar saham. Apalagi masalah utama yaitu krisis kesehatan akibat Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Tren kasus baru baik di level global maupun Indonesia masih terus bertambah. Memang di sisi lain berbagai kalangan baik dari pemerintah maupun swasta juga masih terus berjuang keras untuk menemukan vaksin yang akan membasmi virus penyebab Covid-19. Diperkirakan tahun depan vaksin sudah mulai bisa digunakan.

Hasan Fawzi, Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengatakan potensi terjadinya gelombang kedua kejatuhan harga saham memang menjadi pertanyaan banyak kalangan dan hal itu layak untuk dicermati.

Hasan mengatakan kekhawatiran akan terjadinya potensi crash gelombang kedua tidak terlepas dari apa yang terjadi pada beberapa krisis sebelumnya dimana setelah terjadi tekanan, kemudian terjadi semacam recovery semu dan kemudian terjadi pembalikan kembali yang bahkan lebih parah dari tekanan sebelumnya.

Tetapi, Hasan mengatakan tak ada yang bisa memprediksi dengan persis apa yang bakal terjadi di masa depan. Demikian juga dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tak bisa diprediksi dengan persis apakah akan melanjutkan recovery yang sekarang sedang berlangsung setengah jalan atau justru sebaliknya kembali jatuh ke jurang terdalam.

Baca Juga :   Dirut Jual Semua Saham, Bagaimana Kinerja Keuangan PT Eagle High Plantations Tbk?

“Saya sebagai otoritas di Bursa tentu ingin mengingatkan kita semua, dari pada terjebak dengan menebak-nebak apa yang akan terjadi, saya kira  kembali ke hal yang paling dasar. Kenali betul objek atau saham yang akan menjadi tujuan investasi kita. Sambil mencermati seluruh parameter yang bisa mempengaruhi kejadian di kemudian hari baik di sisi makro, mikro, maupun terutama kondisi kinerja perusahaan tersebut,” ujarnya saat menjadi pembicara dalam webinar ‘Membangun Kepercayaan di Industri Pasar Modal di Tengah Covid-19’ yang digelar Magister Ekonomi Terapan Universitas Atmajaya, Jakarta, Selasa (28/7).

Sebagian perusahaan atau emiten menurutnya lebih resiliens terhadap kondisi krisis saat ini. Namun ada juga perusahaan yang mengalami kinerja buruk. Berdasarkan data BEI untuk kinerja kuartal pertama 2020, dari 580 emiten yang sudah menyampaikan laporan keuangan, agregat laba bersihnya mencapai Rp72,76 triliun, turun 27,3% dibandingkan kuartal pertama 2019 yang mencapai sekitar Rp100 triliun.

Ada pun sektor yang terbilang resiliens adalah industri dasar dan kimia yang mencatatkan total laba bersih sebesar Rp7,68 triliun, naik 65,2% dibanding Rp4,65 triliun pada kuartal pertama 2019. Demikian juga sektor barang konsumsi yang tercatat laba bersihnya naik sebesar 10% menjadi Rp15,26 triliun pada kuartal pertama 2020 dari Rp13,83 triliun pada kuartal pertama 2019.

Baca Juga :   Ketua OJK Sebut Sudah Ada Tanda-tanda Pemulihan di Pasar Saham

Laba bersih sektor keuangan juga masih tumbuh positif meski tak begitu besar yaitu sebesar 1,1% menjadi Rp37,43 triliun pada kuartal pertama 2020, dibanding Rp37,01 triliun pada kuartal pertama 2019.

Sedangkan sektor-sektor yang laba bersihnya tumbuh negatif antara lain pertambangan (-48,9%); aneka industri (-41,1%); infrastruktur, utilitas dan transportasi (-27,8%).

“Jadi please tetap mengikuti seluruh perkembangan terutama aspek mikro fundamental dari masing-masing perusahaan supaya keputusan investasi kita menjadi keputusan yang terbaik dan sustanin pada saat terjadi krisis atau potensi resesi di kemudian hari,” ujar Hasan.

Dalam diskusi yang sama, guru besar keuangan dan pasar modal FEB-UI Budi Frensidy mengatakan melihat potret makro ekonomi memang kurang realistis bila berharap IHSG akan kembali ke level 6.300 seperti sebelum Covid-19 dalam waktu dekat.

Budi mengatakan dari sisi perencanaan anggaran pemerintah saja, defisit APBN diperkirakan masih akan berada di atas 3% hingga tahun 2022 dan baru kembali ke level normalnya di bawah 3% pada tahun 2023.

“Kalau kita bicara makro ekonomi, dari segi kebijakan pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan, saya melihat pemerintah kita mengasumsikan kondisi ekonomi kita normal seperti pre-covid itu sebenarnya 2023,” ujar Budi.

Untuk IHSG, menurut Budi bila bertahan di level 5.000 saja hingga akhir tahun ini sudah termasuk bagus. “Tetapi kalau mengharapkan kita cepat kembali, realistisnya kalau secara ekonomi makro di 2023, tetapi karena kita katakan indeks itu setahun di muka, bisa di 2022,” ujar Budi.

Baca Juga :   Sepak Terjang Investor dan OJK di Pasar Modal Tahun 2019

Budi memprediksi IHSG kembali ke level 6.300 baru akan terjadi setahun hingga satu setengah tahun ke depan. Ia mengatakan IHSG belum akan kembali ke level tersebut pada tahun ini. Apalagi bila pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga 2020 nanti masih turun cukup dalam, bisa saja IHSG kembali ke level di bawah 5.000.

Namun pandangan yang lebih optimis disampaikan Pengamat Pasar Modal dan Direktur PT Anugrah Mega Investama Hans Kwee. Menurut Hans prediksi gelombang kedua Covid-19 di Amerika Serikat memang diperkirakan terjadi pada November seiring dengan datangnya musim dingin.

Tetapi, menurutnya, kerusakan ekonomi sebenarnya tidak secara langsung disebabkan oleh Covid-19 itu sendiri, tetapi oleh adanya kebijakan lockdown. Karena itu, kalau pun terjadi gelombang kedua pandemi, selama tidak ada restriksi yang ketat terhadap aktivitas masyarakat, kerusakan pada ekonomi pun relatif tidak terlalu besar.

“Apakah market akan crash lagi? Ini sangat tergantung kebijakan pemerintah dalam mengantisipasi pandemi ini. Kalau dilakukan lockdown dengan ketat kemungkinan pasar akan turun karena akan terkonfirmasi dengan data ekonomi yang buruk. Tetapi nampaknya seluruh dunia mulai sepakat bahwa tidak bisa dilakukan lockdown dengan ketat. Jadi ketika kasus naik pun mereka tidak melakukan lockdown dengan ketat cuma membatasi pertemuan di tempat-tempat yang terlalu crowded,” ujar Hans.

Leave a reply