Selepas Covid-19, Bisnis Retail Dinilai Akan Kembali Bergairah

Reporter: Yehezkiel Sitinjak
0
108

Ilustrasi industri retail modern/Financial Times

Masyarakat dinilai akan kembali berbelanja di berbagai pusat perbelanjaan dan toko-toko retail selepas wabah Covid-19 mereda. Berdasarkan pengalaman yang ada, selalu muncul fenomena baru terkait dengan perilaku konsumen.

Dewan Ahli Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Yongky Susilo mengatakan, pengalamannya selama ini mencatat ada 2 fenomena perilaku konsumen yang muncul selepas kondisi krisis. Pertama, konsumen akan menyimpan duit mereka dan menghemat, membeli barang-barang dari brand yang lebih ‘murah’ untuk sementara

“Kedua, konsumen akan kembali melakukan perbelanjaan mereka melalui kanal-kanal tradisional seperti pasar, minimarket, dan supermarket,” kata Yongki yang pernah menjadi Direktur Nielsen Indonesia itu dalam diskusi virtual di Jakarta, Rabu (20/5).

Yongky menambahkan, kanal online mungkin membantu retail bertahan pada saat krisis karena pandemi Covid-19. Namun, setelahnya masyarakat akan kembali kepada kebiasaan sebelumnya dan berbelanja kembali di toko-toko pasca-meredanya pandemi.

“Ini memang kebiasaan. Kita tidak mungkin mengubah kebiasaan kita untuk hanya menggunakan online dalam kurun waktu 4 bulan saja,” tutur Yongki lagi.

Baca Juga :   Sri Mulyani: Jika APBN Cukup, Kami Akan Selamatkan Jiwasraya dan Pegawai Honorer

Buktinya, kata Yongky, laporan Mckinsey and Company menunjukkan pada masa pandemi saat ini, sebanyak 52% konsumen masih memilih untuk bepergian ke toko retail terdekat dan paling mudah diakses untuk membeli kebutuhan mereka. Lalu, 98% dari mereka juga menjawab bahwa akan kembali berbelanja ke toko-toko seperti sebelumnya ketika situasi pandemi telah mereda.

“Jadi supermarket, minimarket, dan pasar tradisional akan tetap menjadi pilihan masyarakat. Dari segi pangsa pasar saja, 70% dipegang oleh toko tradisional, sementara 29% oleh toko retail modern dan hanya 1% dipegang oleh e-commerce,” kata pakar pemasaran itu.

Produk-produk yang diminati konsumen secara online, kata Yongky, hanyalah produk yang bersifat trendy seperti produk elektronik, kesehatan dan kecantikan, busana, perlengkapan ibu dan anak bayi, dan kebutuhan hidup di rumah.

Itu sebabnya, Yongky tidak menyarankan para pengusaha retail untuk jorjoran berinvestasi di kanal penjualan online. Benar bahwa hampir seluruh toko retail di Indonesia telah memiliki kanal online walau hal tersebut tidak membantu mendorong tingkat penjualan.

Baca Juga :   Pelantikan, Sertijab Menteri BUMN dan Penguatan Saham

Penjualan secara online delivery saat ini, kata Yongky, tidak mampu mengembalikan penjualan perusahaan seperti situasi normal. Penjualan melalui online delivery hanya mencapai 30% dari tingkat penjualan retail pada kondisi normal.

Leave a reply