Survei JobStreet 54% Pekerja Terdampak Covid-19, Mendapatkan Pekerjaan Baru Makin Kompetitif

0
173

Faridah Lim, Country Manager JobStreet Indonesia/Iconomics

Pandemi Covid-19 berdampak nyata bagi para pekerja di Indonesia. Pemerintah sendiri memperkirakan tahun ini terjadi tambahan orang yang kehilangan pekerjaan atau pengangguran sebesar 4 juta hingga 5 juta, sehingga sepanjang tahun ini jumlah pengangguran di Indonesia meningkat menjadi 11 juta orang.

Dampak pandemi Covid-19 ini terekam juga dalam survei yang dilakukan oleh platform penyedia lowongan kerja Jobstreet.com. Survei yang melibatkan 5.131 pencari kerja dan 486 perusahaan pada Mei 2020 ini mengungkapkan bahwa sebanyak 54% pekerja terdampak pandemi, baik diberhentikan secara permanen dari pekerjaannya maupun dirumahkan.

“Secara spesifik yang diberhentikan secara permanen  mencapai 35% dan yang dirumahkan adalah sekitar 19%,” ungkap Faridah Lim, Country Manager JobStreet Indonesia saat konferensi pers virtual, Rabu (7/10).

Pekerja yang paling terkena dampak adalah pekerja yang bekerja di sektor hospitality/catering (85%), pariwisata/travel (82%), pakaian/garmen/tekstil (71%), makanan & minuman (69%) dan arsitektur/bangunan/konstruksi (64%).

“Dari sisi penghasilan yang paling tinggi terdampak adalah yang pengasilannya di bawah 2,5 juta yaitu mencapai 74%,” ujarnya.

Baca Juga :   LinkAja Resmi Jadi Mitra Pembayaran Kartu Pra Kerja

Faridah mengatakan survei ini juga mengungkapkan bahwa 43% pekerja Indonesia mengalami pemotongan gaji sampai dengan 30% selama PSBB. “Ini data berdasarkan pekerja yang sedang bekerja di mana mereka masih memiliki pekerjaan namun terjadinya pemotongan gaji yang mencapai lebih dari 30%,” ujarnya.

Banyaknya pekerja yang kehilangan pekerjaan atau dirumahkan salama pandemi, diikuti juga dengan meningkatnya aktivitas pencarian kerja baru. Faridah mengatakan terjadi peningkatan pencarian kerja melalui situs JobStreet. Pencarian kerja dengan kata kunci ‘jobstreet’ meningkat 11% menjadi 300 juta pada periode April-Juni 2020 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Selain itu juga ada penambahan 8 juta pencari kerja yang melakukan pencarian tips karir. “Mungkin selama ini mereka tidak aktif mencari kerja sehingga merasa tidak perlu mendapatkan informasi tips karir. Dengan kondisi begini mereka lebih aktif mencari pekerjaan, maka mereka juga meng-upgrade pengetahuan dirinya tentang tips karir sehingga terjadi peningkatan sekitar 8 juta dari data yang kami miliki,” ujarnya.

Lantas masihkah ada perusahaan yang melakukan perekrutan tenaga kerja baru? Faridah mengungkapkan berdasarkan informasi dari responden perusahaan, setidaknya dalam enam bulan ke depan ada 10 pekerjaan yang masih banyak dibutuhkan oleh perusahaan. Ke-10 pekerjaan tersebut adalah sales/customer service (27%), admin & HR (27%), accounting (23%), engineering (21%), IT (20%), marketing/PR (18%), manufacturing (15%), management (15%), transportation & logistics (12%) dan banking &finance (10%).

Baca Juga :   Awalan, Kartu Pra Kerja Diimplementasikan Bali, Manado dan Kepri

“Jadi, masih ada perusahaan yang mencari dan peluang itu masih ada,” ujarnya.

Sebanyak 32% dari responden perusahaan ini juga menyatakan akan memprioritaskan karyawan yang kehilangan pekerjaan untuk diterima di perusahaannya. Sementara 56% lainnya menyatakan keputusan tetap akan fokus sesuai dengan kriteria yang dicari oleh perusahaan.

Dikombinasikan dengan data lowongan di JobSteet, Faridah mengungkapkan setidaknya ada lima sektor yang masih agresif memasang iklan lowongan kerja di JobStreet. Kelima sektor tersebut adalah manufaktur/produksi sebanyak 5.273 iklan lowongan kerja, general trading & grossir sebanyak 2.703 lowongan, perbankan/layanan keuangan sebanyak 2.497 lowongan, ritel/merchandise sebanyak 2.485 lowongan dan computer/IT (software) sebanyak 2.232 lowongan pekerjaan.

Tetapi seiring dengan makin meningkatnya permintaan pekerjaan baru, persaingan untuk memperebutkan satu lowongan kerja pun makin meningkat. “Dari data kami rata-rata satu lowongan, sebelumnya dilamar oleh sekitar 400 pencari kerja/pelamar, selama masa pandemi ini terjadi peningkatan yang signifikan itu mencapai 800 lamaran per posisi,” ungkapnya.

Ada pun indusri-indusri dengan lonjakan pelamar yang tinggi adalalah general trading & grossir (+47%), transportasi/logistik (+36%), manufaktur/produksi (+24%), komputer/IT (+18%) dan produk konsumen/FMCG (+17%).

Leave a reply