Tips dari Orang Terkaya agar Perusahaan Tetap Berdaya Saing di Bawah Tekanan Covid-19

0
218

Dato' Sri TahirDato' Sri Tahir/BudiK

Wabah Covid-19 tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat Indonesia, tetapi dampaknya meluas hingga menggerogoti bisnis dan perekonomian di Indonesia. Para pebisnis dihadapkan pada situasi yang sangat menantang dan pilihan untuk bertahan atau menghentikan usahanya. Sejumlah pebisnis dari industri terdampak Covid-19 ada yang memilih menutup sementara usahanya dan ada pula yang berusaha untuk survive. Selain sisi muram tersebut, ada pula industri yang mendapatkan cuan dalam situasi saat ini.

Dato’ Sri Tahir, salah satu orang terkaya di Indonesia mengatakan naik-turun dalam bisnis itu sebenarnya hal yang wajar terjadi di bisnis. Sekarang ini ada sejumlah pebisnis yang mengalami kontraksi, tapi harus diingat, pada tahun-tahun sebelumnya para pengusaha yang sudah mengantongi laba.

Dalam kondisi seperti ini, Tahir mengatakan ada langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh para pebisnis di Indonesia. “Safe cost, consolidation dan tutup anak perusahaan yang rugi dan tidak ada sinergi,” kata Tahir melalui aplikasi perpesanan kepada reporter Iconomics.

Terkait dengan penyelamatan biaya perusahaan, belakangan ini sudah mulai banyak bermunculan pemutusan hubungan kerja (PHK). “Saya pribadi tidak setuju PHK, selain perusahaan tutup ya,” tulis Tahir.

Baca Juga :   Cara "SABLENG" untuk Hadapi Tantangan Covid-19

Tahir dalam sebuah wawancara dengan televisi CNN Indonesia, Rabu (08/04/2020) menyarankan kepada pengusaha besar yang memiliki perusahaan tidak ada sinerginya karena dulu melakukan ekspansi secara agresif, kalau bisa ditutup. Selain itu, pengusaha dapat melakukan konsolidasi agar terbentuk efisiensi.

Perusahaan-perusahaan yang sehat seharusnya dalam kondisi saat ini masih tetap bisa bertahan. Apabila ada perusahaan yang melontarkan hanya bisa bertahan hidup 2-3 bulan ke depan, menurut Tahir, perusahaan tersebut ada masalah diinternalnya, perlu dicek kondisi internalnya. Pada saat ini memang dalam kondisi tertekan, tapi perlu dilihat pencapaian bisnisnya pada tahun-tahun sebelumnya. Ia menggambarkan perusahaan-perusahaan besar telah mengakumulasi laba dari tahun-tahun sebelumnya. Tahir menyontohkan salah satu perusahaan otomotif dalam setahun bisa mengantongi laba yang sangat besar.

Oleh karena itu, tidak semuanya harus diperhatikan pemerintah. Beberapa sektor seperti pariwisata, eceran, restoran, dan makanan memang perlu diperhatikan kondisinya. Pasalnya sektor-sektor tersebut mengalami dampak dari Covid-19. Usaha kecil menengah (UKM) juga salah satu sektor yang harus diperhatikan.

Baca Juga :   Setelah Bantu Rp52 Miliar dan 1.000 Makanan Bungkus, Inilah Rencana Dato' Sri Tahir Berikutnya

Tahir menegaskan bahwa setiap perusahaan pasti memiliki prudent strategy. Setiap pengusaha pasti memiliki contingency plan, memiliki backup plan untuk menghadapi naik-turunnya bisnis. Tahir yakin penyakit ini akan segera berlalu. Ia memperkirakan dalam 3-6 bulan pasti akan ditemukan vaksinnya. Dengan demikian, pemulihan pun akan menyusul seiring ditemukan vaksin tersebut.

Leave a reply