Inilah Fokus Perusahaan Platform Insurtech Saat Ini

0
471

Founder & CEO WE+ Fifi Henirawati Hoo/Dok. WE+Founder & CEO WE+ Fifi Henirawati Hoo/Dok. WE+

Insurtech (insurance technology) masih dalam tahap pertumbuhan di Indonesia. Kontribusinya terhadap industri perasuransian di Indonesia juga masih kecil. Dalam kepungan pandemi Covid-19, insurtech sebagai industri berbasis teknologi masih belum mendapatkan angin segar, karena kondisinya selaras dengan kondisi industri perasuransian.

“Insurtech sendiri secara keseluruhan bisnis masih dibawah 1% kontribusinya terhadap industri. Jadi masih sangat kecil,” kata Founder & CEO WE+ Fifi Henirawati Hoo.

Insurtech lahir mengisi kekosongan yang terjadi di industri perasuransian. Apa lagi melihat literasi dan inklusi perasuransian di Indonesia masih sangat kecil bila dibandingkan dengan industri perbankan dan keuangan lainnya. Ia berpendapat insurtech lebih dari sekadar platform, tetapi juga radical way untuk menaikkan inklusi keuangan khususnya di bidang asuransi.

Kekuatan teknologi dapat menjawab soal jangkauan, hingga efisiensi biaya bagi perusahaan-perusahaan asuransi. Guna meningkatkan inklusi keuangan digital itu harus dilakukan dengan cara yang lebih mudah, dan cara yang mudah itu juga harus lebih murah. Dengan demikian asuransinya bisa memberikan produk yang lebih baik dan lebih murah untuk end usersecara langsung. Apalagi demografi Indonesia yang luas, tidak ada acara lain yaitu dengan digital.

Baca Juga :   BNI Life: Sabet Penghargaan Dapat Tingkatkan Kepercayaan Nasabah

Sampai saat ini, perusahaan platform insurtech di Indonesia sudah lumayan banyak, sekitar 10 perusahaan. Namun, Fifi melihat belum ada yang memimpin pasar bila dibandingkan satu dengan yang lainnya. Semua masih dalam taraf mencoba temukan cara yang lebih baik untuk mengedukasi dan asuransi menjadi lebih umum serta meningkatkan literasi keuangan perasuransian.

“Saya pikir semuanya masih pada taraf itu hanya saja caranya berbeda-beda,” kata Fifi.

Seperti halnya yang menjadi fokus WE+, Fifi membeberkan WE+ benar-benar fokus untuk end user, edukasi end user dengan membuat UI/UX-nya (user interface/user experience) untuk user dari kalangan business social economy class. WE+ menyasar pasar business social economy class, orang menengah ke bawah dan orang yang baru bekerja atau usia 18-35 tahun.

WE+ dibangun bukan oleh orang asuransi tetapi oleh orang-orang yang percaya bahwa asuransi itu penting sekali.  “Jadi ketika kita mempromosikan WE+, kita memposisikan diri kita adalah orang yang memang tidak mengerti asuransi itu tetapi kita tahu asuransi itu diperlukan,” kata CEO WE+.

Baca Juga :   Siapkan Generasi Asuransi Umum, Adira Insurance Gandeng Universitas Multimedia Nusantara

Begitu pula dari segi bahasa dibuat sesederhana mungkin, tidak menggunakan bahasa yang hanya dimengerti oleh orang asuransi. Jadi ketika nasabah tetap bisa mengerti meski tanpa adanya pendampingan oleh agen.

Leave a reply