Prospek Social Enterprises di Indonesia

Reporter: Yehezkiel Sitinjak
0
91

IFBC Expo 2020 mengangkat salah satu tema talkshow tenting social enterprises/The Iconomics

Social enterprises menjadi salah satu jenis bisnis yang digandrungi di Indonesia. Tidak sekadar berburu laba, tapi juga aktivitas bisnis yang dijalankan memberikan dampak sosial.

Konsultan Waralaba Djoko Kurniawan menyebutkan pebisnis zaman now tidak bisa hanya berkutat kepada bottom line saja. Kini banyak wirausahawan dari kalangan generasi milenial yang muncul sebagai social entrepreneur atau wirausahawan yang membawa dampak sosial melalui bisnisnya.

Menurut Djoko, banyak nilai tambah bagi para pengusaha baru yang menerapkan gaya berbisnis tersebut. Salah satunya meningkatnya minat pasar terhadap bisnis tersebut.

“Pebisnis seperti ini akan lebih banyak diminati oleh market. Karena sekarang anak-anak muda, generasi sekarang itu pikirannya ada pilar sosialnya, dari situ langsung merasa mendapat sesuatu. Ini secara bisnis bagus bagi mereka,” kata Djoko beberapa waktu lalu di Balai Kartini, Jakarta.

Selain menarik minat dan perhatian pasar, lanjutnya, akselerasi pertumbuhan perusahaan akan lebih cepat. Ia mengatakan bahwa ketika pebisnis mau berbagi, baik kepada pegawainya maupun ke masyarakat, maka usaha tersebut akan menyedot banyak tenaga kerja.

Baca Juga :   UniPin SEACA 2019 Bakal Orbitkan 7 Tim Wakili Indonesia ke Dunia

Selain kontribusi kepada masyarakat, perusahaan yang mengusung social enterprises diharapkan dapat menetapkan business value yang baik terlebih dahulu. Business values yang dimaksud termasuk memberi gaji layak kepada pegawai, menerapkan prinsip membangun manusia melalui bisnis pada tingkat manajemen perusahaan, serta membangun usaha yang memiliki program berbagi (social enterprise).

“Kalau kita bicara bahwa bisnisnya saja hanya mampu menggaji dengan sebanyak 1 juta dan praktik itu masih ada. Menurut saya ini tidak manusiawi,” kata Djoko.

Ia menilai bila seorang pengusaha menawarkan gaji segitu saja dan mencari karyawan dengan level yang bagus maka tidak mungkin. Tentunya kualitas pegawai akan berbanding lurus dengan kualitas pelayanan yang diberikan.

Ia mencontohkan salah satu kliennya, Limadua Group yang memiliki bisnis waralaba takoyaki bernama Ini Yaya serta pisang goreng bernama Lanana. Perusahaan tersebut sebagai salah satu bisnis yang menerapkan prinsip social entrepreneurship dengan berkomitmen untuk menyisihkan 1,5% dari penjualan untuk stunting.

Leave a reply