Laba Bank Mandiri Tumbuh 20,7% Jadi Rp45,5 Triliun, Ini Penopangnya

Penguatan DPK tetap menjadi prioritas utama Bank Mandiri karena kondisi likuiditas yang masih cukup menantang.
0
14

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp45,5 triliun hingga September 2026. Capaian tersebut tumbuh 20,7% secara tahunan atau year-on-year (YoY), ditopang pertumbuhan pendapatan berbasis komisi, peningkatan transaksi digital, serta efisiensi operasional.

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengatakan pendapatan berbasis komisi atau fee-based income menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan laba perseroan di tengah dinamika industri perbankan.

“Fee-based income kami tumbuh 13,75% secara year-on-year atau menjadi Rp29,4 triliun,” kata Novita dalam paparan kinerja kuartal III 2026, Jumat (23/10/2026).

Secara lebih terperinci, pendapatan berbasis komisi dari layanan digital Livin’ dan Kopra masing-masing tumbuh 42,9% dan 23,7% secara tahunan.

Selain itu, pendapatan berbasis komisi yang berkaitan dengan transaksi perdagangan (trade) dan treasury masing-masing tumbuh sekitar 29,4% secara tahunan.

“Tentunya kami ingin terus mengakselerasi transaksi melalui penguatan Livin’ dan juga Kopra. Ini tujuannya selain untuk meningkatkan fee-based income juga akan memperbesar CASA transaksional, khususnya untuk menjaga cost of fund,” ujarnya.

Selain pendapatan berbasis komisi, kinerja Bank Mandiri ditopang pertumbuhan pendapatan bunga. Hingga September 2026, pendapatan tumbuh 7,08% secara tahunan menjadi Rp97,3 triliun dan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) Bank Mandiri tumbuh 6,2% secara tahunan menjadi Rp61,2 triliun.

Baca Juga :   Mengenal Darmawan dan Sosok Wanita yang Jadi Wakilnya di Bank Mandiri

“Pertumbuhan ini memang lebih moderat dibandingkan pertumbuhan pendapatan bunga yang mencerminkan dinamika peningkatan biaya dana di industri,” ujarnya.

Dengan sumber pendapatan yang semakin kuat dan terdiversifikasi, tambahnya, total pendapatan Bank Mandiri secara bank only tetap tumbuh solid sebesar 8,54% menjadi Rp90,6 triliun.

Pertumbuhan pendapatan tersebut diikuti perbaikan efisiensi operasional. Bank Mandiri mencatat biaya operasional turun 9,03% secara tahunan menjadi Rp32,7 triliun hingga September 2026.

Penurunan biaya operasional tersebut turut mendukung peningkatan laba bersih perseroan.

Dari sisi efisiensi, rasio cost-to-income ratio (CIR) Bank Mandiri tercatat sebesar 36,1%. Sementara itu, tingkat pengembalian ekuitas atau return on equity (ROE) mencapai 23,6% dan rasio pengembalian aset yang disebut dalam paparan sebesar 2,99%.

Profitabilitas tersebut juga didukung kecukupan modal yang tetap terjaga. Rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) Bank Mandiri tercatat sebesar 18,4%.

Kredit Tumbuh 16%, DPK Naik 17,7%

Dari sisi intermediasi, Bank Mandiri mencatat pertumbuhan kredit sebesar 16% secara tahunan menjadi Rp1.605,8 triliun hingga September 2026 berdasarkan laporan bank only. Pertumbuhan tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan kredit pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 11,6%.

Novita mengatakan pertumbuhan kredit tersebut mencerminkan komitmen perseroan dalam mendukung aktivitas dunia usaha dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Pertumbuhan kredit juga diimbangi peningkatan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK). Hingga September 2026, DPK Bank Mandiri mencapai Rp1.750,2 triliun, tumbuh 17,7% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 12,3% pada September 2025.

Baca Juga :   Ekonom Bank Mandiri Beberkan Arah Suku Bunga Acuan Kedepan

“Pertumbuhan ini juga menjadi salah satu kekuatan utama Bank Mandiri dalam memperkuat struktur pendanaan perseroan,” ujarnya.

Pertumbuhan DPK tersebut juga didukung perluasan basis nasabah dan peningkatan aktivitas transaksi dalam ekosistem Bank Mandiri.

Melalui layanan digital Livin’, perseroan mencatat rata-rata pertambahan 20.000 pengguna baru setiap hari. Sementara itu, pertumbuhan pengguna aktif mencapai sekitar 13% secara tahunan hingga September 2026.

“Hal ini menunjukkan semakin kuatnya kepercayaan nasabah untuk bertransaksi bersama ekosistem Bank Mandiri, yang tentunya akan kami jaga dengan layanan dan fitur terbaik untuk menjadi sumber pertumbuhan dana secara berkelanjutan,” ujarnya.

Namun, ia menambahkan penguatan DPK tetap menjadi prioritas utama Bank Mandiri karena kondisi likuiditas yang masih cukup menantang. Ia mengungkapkan rasio loan-to-deposit ratio (LDR) berdasarkan rata-rata harian meningkat dari 93,6% pada kuartal III 2025 menjadi 94,8% pada kuartal III 2026.

Adapun pada posisi akhir September 2026, LDR Bank Mandiri berada di level 91%.

Untuk menjaga pertumbuhan bisnis sekaligus likuiditas, perseroan akan melanjutkan penyaluran kredit secara selektif, memperkuat penghimpunan dana murah berbasis transaksi, dan mengoptimalkan digitalisasi untuk meningkatkan produktivitas serta profitabilitas.

Baca Juga :   Mandiri Salurkan Social Loan ke Adira, Wujud Komitmen Dukung Pembiayaan Berkelanjutan

Novita mengatakan target pertumbuhan bisnis akan terus dievaluasi dengan mempertimbangkan realisasi kinerja, kondisi pasar, dan prospek ekonomi.

Di tengah ekspansi bisnis, Bank Mandiri juga mencatat perbaikan kualitas aset. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) turun dari 1,03% menjadi 0,98% pada September 2026.

Perbaikan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit perseroan berjalan seiring dengan pengelolaan risiko yang terjaga.

Berdasarkan segmen bisnis, kredit pada ekosistem pemerintahan dan badan usaha milik negara (BUMN) tumbuh 23,8% secara tahunan menjadi Rp473 triliun.

Pembiayaan tersebut mendukung berbagai agenda strategis nasional, termasuk pembangunan infrastruktur, energi, ketahanan pangan, serta peningkatan kualitas layanan publik.

Sementara itu, kredit pada ekosistem bisnis penopang ekonomi tumbuh 18,5% menjadi Rp910 triliun.

Bank Mandiri juga memperluas pembiayaan kepada usaha mikro. Kredit usaha mikro tumbuh 12,9% secara tahunan menjadi Rp31,2 triliun, dengan jangkauan di 37 provinsi.

Dari sisi kualitas kredit, rasio NPL pada ekosistem pemerintahan dan BUMN terjaga di level 0,15%. Adapun rasio NPL pada ekosistem bisnis penopang ekonomi tercatat sebesar 0,47%.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics