Sepekan IHSG Kembali Naik, OJK: Indikasi Mekanisme Pasar Kembali Bekerja Rasional
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi/Dok. OJK
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 4,90% sepanjang perdagangan 19–23 Oktober 2026 setelah sempat mengalami tekanan signifikan menyusul pengumuman MSCI pada 15 Oktober.
Namun, penguatan dalam sepekan tersebut belum menghapus penurunan tajam IHSG sepanjang tahun ini. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun mengingatkan bahwa kenaikan indeks belum berarti seluruh tekanan di pasar modal Indonesia telah berakhir.
Berdasarkan statistik Bursa Efek Indonesia (BEI) per Jumat, 23 Oktober 2026, IHSG ditutup pada level 5.439,258, naik 254,153 poin dibandingkan penutupan pekan sebelumnya di level 5.185,105. Dalam periode tersebut, IHSG sempat menyentuh level terendah 4.907,370 sebelum kembali menguat dan mencapai level tertinggi 5.455,211.
Dalam konferensi pers di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin pagi, 26 Oktober, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan, perkembangan pasar selama sepekan terakhir menunjukkan kondisi yang lebih baik setelah IHSG mengalami tekanan signifikan.
“Yang menarik, minggu lalu sekaligus menjadikan Bursa Efek Indonesia sebagai indeks dengan kinerja mingguan terbaik di antara indeks-indeks bursa utama dunia,” kata Hasan.
Statistik BEI menunjukkan penguatan IHSG sebesar 4,90% merupakan yang tertinggi di antara sejumlah indeks utama yang masuk dalam perbandingan global bursa selama periode tersebut. Sebagai pembanding, indeks Vietnam menguat 2,23%, Malaysia naik 0,24%, dan Singapura menguat 0,12%. Sementara itu, indeks Nikkei 225 Jepang turun 4,03% dan Hang Seng Hong Kong terkoreksi 4,52%.
Meski menguat dalam sepekan, IHSG masih terkoreksi 37,10% sepanjang 2026 hingga 23 Oktober. Angka tersebut menempatkan pasar saham Indonesia di antara pasar dengan kinerja YTD terlemah dalam kelompok bursa global yang dibandingkan BEI. Di kawasan ASEAN, misalnya, indeks Filipina terkoreksi 5,36%, Vietnam turun 4,40%, dan Malaysia melemah 4,08%. Sebaliknya, indeks Singapura menguat 16,70% dan Thailand naik 24,05% sejak awal tahun.
Tekanan juga terlihat dari arus dana investor asing. Statistik harian BEI mencatat investor asing membukukan jual bersih atau net sell sebesar Rp94,87 triliun sepanjang tahun berjalan hingga 23 Oktober 2026. Pada hari perdagangan tersebut saja, investor asing mencatatkan jual bersih Rp1,29 triliun.
Dengan demikian, kenaikan IHSG dalam sepekan berlangsung di tengah arus keluar dana asing yang besar dan penurunan indeks yang masih dalam. Kondisi tersebut menjadi latar penting untuk menilai apakah penguatan terbaru merupakan awal pemulihan yang lebih berkelanjutan atau baru merupakan perbaikan jangka pendek.
Hasan menegaskan, penguatan indeks belum dapat diartikan sebagai berakhirnya seluruh tekanan di pasar modal.
“Kondisi pasar yang baik di sepanjang minggu lalu tentu tidak berarti seluruh tekanan telah berakhir. Namun, perkembangan tersebut merupakan indikasi awal bahwa mekanisme pasar setidaknya telah kembali bekerja secara lebih rasional dan terkendali,” ujar Hasan.
Menurut dia, perkembangan tersebut menunjukkan investor mulai mampu mencerna sentimen jangka pendek dan menilai kondisi fundamental perusahaan-perusahaan yang tercatat di BEI.
Bagi otoritas dan penyelenggara bursa, kata Hasan, kualitas pemulihan pasar lebih penting daripada sekadar melihat besarnya kenaikan atau penurunan indeks. Hal yang menjadi perhatian adalah apakah keputusan investasi kembali didasarkan pada informasi, fundamental perusahaan, dan penilaian risiko secara objektif. Dengan demikian, mekanisme perdagangan saham dapat terus berlangsung secara teratur, wajar, dan efisien.
Di tengah penguatan indeks, kapitalisasi pasar saham BEI meningkat 4,66% menjadi Rp9.583 triliun pada pekan 19–23 Oktober 2026, dari Rp9.157 triliun pada pekan sebelumnya.
Nilai transaksi harian rata-rata juga meningkat 25,42% menjadi Rp20,337 triliun, dibandingkan Rp16,215 triliun pada pekan sebelumnya. Frekuensi transaksi harian rata-rata naik 13,80% menjadi 1,953 juta kali. Namun, volume transaksi harian rata-rata justru turun 9,39% menjadi 39,959 miliar saham, dari sebelumnya 44,102 miliar saham.
Di sisi lain, jual bersih asing selama sepekan mencapai sekitar Rp6,67 triliun, lebih besar dibandingkan Rp3,19 triliun pada pekan sebelumnya.
Hasan mengapresiasi ketahanan investor domestik di tengah tekanan jual tersebut. Menurut dia, investor domestik menunjukkan kemampuan untuk tidak semata-mata bereaksi terhadap sentimen pasar, tetapi juga melihat peluang investasi pada saham-saham perusahaan dengan fundamental kuat.
Investor domestik dinilai mulai mempertimbangkan prospek usaha perusahaan ke depan serta valuasi saham yang semakin menarik.
OJK turut mengapresiasi emiten yang melakukan pembelian kembali saham atau buyback, serta partisipasi investor institusional domestik, termasuk dana pensiun, perusahaan asuransi, dan pengelola investasi lainnya.
Partisipasi para pelaku pasar domestik tersebut, dengan tetap memperhatikan mandat investasi dan pertimbangan risiko masing-masing, dinilai turut memperkuat keseimbangan mekanisme pasar.
Hasan menilai ketahanan investor domestik dan langkah para pelaku pasar tersebut menjadi bentuk kepercayaan terhadap prospek perekonomian dan dunia usaha Indonesia, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.