IIA Ingin Tekan Kesenjangan Pembiayaan UMKM, Begini Penjelasannya
Gelaran Indonesia Impact Summit 2026 yang dilaksanakan Indonesia Impact Alliance (IIA) di antaranya membahas solusi untuk mengatasi kesenjangan pembiayaan terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Apalagi data IIA menunjukkan UMKM kesulitan mengakses pembiayaan.
Padahal, kata Direktur Eksekutif Indonesia Impact Alliance Atika Benedikta, UMKM menyumbang sekitar 60% dari PDB dan menyerap 97% tenaga kerja. IIA menggelar kegiatan tersebut dengan menggandeng Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas, pemerintah Australia melalui Investing in Women dan Kinetik.
Terkait kesenjangan itu, kata Atika, pihaknya memperkirakan kesenjangan pembiayaan usaha yang membutuhkan modal US$ 100 ribu hingga US$ 2 juta yang mencapai US$ 50,8 miliar per tahun. Dan itu sejalan dengan laporan pemetaan ekosistem IIA pada 2024, di mana 55% usaha membutuhkan pembiayaan dalam jumlah rentang nominal tersebut.
Secara fakta, kata Atika, sebagian besar dana investasi yang berorientasi pada dampak umumnya menetapkan nilai investasi minimum sebesar US$ 1 juta. Permasalahan itu yang menyebabkan banyak pelaku usaha dalam kategori kelompok menengah yang mengalami kesenjangan (missing middle), belum mendapatkan akses pembiayaan yang memadai.
Melalui Indonesia Impact Investment Summit 2026, kata Atika, pihaknya mempertemukan pemilik modal, perantara pembiayaan, dan para pendukung ekosistem untuk berkolaborasi dalam menyalurkan pembiayaan. Dampaknya pun diharapkan dapat meningkatkan usaha, kesejahteraan masyarakat dan menciptakan lapangan kerja.
“Pembiayaan perlu disesuaikan dengan cara pelaku usaha beroperasi dan bertumbuh. Penyedia modal lokal atau intermediaries memahami karakteristik bisnis di Indonesia dan dapat menghubungkan mereka dengan investor yang menyediakan pembiayaan sesuai kebutuhan,” kata Atika dalam keteramgan resminya di Hotel Pullman, Jakarta, Rabu (21/10).
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonard A. A. Teguh Sambodo menambahkan, pihaknya berharap forum tersebut tidak hanya memobilisasi modal swasta, tetapi juga mempercepat terwujudnya manfaat pembangunan bagi masyarakat.
Dengan pencapaian indikator Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s) lebih dari 62%, kata Leonard, Indonesia berada di jalur pencapaian target. Oleh karena itu, momentum tersebut perlu diperkuat melalui solusi pasar yang tepat, dan mampu mengatasi kesenjangan.
“Kami berharap forum ini dapat menyalurkan investasi kepada usaha yang berada di tahap awal dan usaha yang sedang berkembang di sektor energi bersih, kesehatan, pendidikan berkualitas, serta usaha mikro. Dengan demikian, modal swasta dapat mendukung penghidupan masyarakat yang lebih tangguh, infrastruktur yang lebih ramah lingkungan, dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif menuju Indonesia Emas 2045,” kata Leonard.
Sementara itu, COO Instellar Impact Adisti Chandra mengatakan, pihaknya menemukan bahwa investor menghadapi tantangan dalam menemukan usaha yang siap menerima investasi. Itu sesuai dengan pengalaman Instellar dalam mendukung pertumbuhan usaha sosial, kinerja usaha, tata kelola, dan skala usaha kecil dapat membatasi peluang investasi.
Di sisi lain, tambah Adisti, program percepatan hanya mempersiapkan usaha untuk tumbuh dan mendapatkan investasi. Namun, tidak menjamin bahwa suatu usaha dapat memenuhi persyaratan dari investor.
“Organisasi yang mendanai program dan investor bisa memiliki kriteria yang berbeda. Skala usaha, dampak yang dihasilkan, dan tingkat kesiapannya mungkin memenuhi kriteria program, tetapi belum memenuhi persyaratan investor. Koordinasi yang lebih erat dapat membantu pengelola program mempersiapkan usaha untuk memenuhi persyaratan tersebut dan mengidentifikasi pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhannya,” ujar Adisti.
Sedangkan Chairperson of the Global Steering Group (GSG) Impact Indonesia National Partner Advisory Board Indra Darmawan menuturkan, IIA juga berperan sebagai sekretariat GSG Impact Indonesia National Partner. Dengan peran itu, IIA dapat menghubungkan sektor investasi berdampak di Indonesia dengan jaringan calon investor internasional.
“Melalui jaringan GSG dan IIA, kami dapat membantu investor internasional memahami karakteristik bisnis di Indonesia dan kebutuhan pembiayaan mereka. Setelah forum ini, hubungan yang terbangun perlu ditindaklanjuti dengan penilaian usaha dan pembahasan ketentuan pembiayaan,” ujar Indra.