KIJA Catat Laba Bersih Turun

0
0

PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp4.254,9 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2026 (9M26). Pendapatan tersebut meningkat 16% dibandingkan Rp3.674,7 miliar pada periode yang sama tahun 2025 (9M25).

Pendapatan dari segmen Land Development & Property menunjukkan penguatan yang signifikan pada kuartal III tahun 2026, mencapai Rp1.914,8 miliar, dibandingkan dengan Rp974,9 miliar pada semester pertama 2026. Hal ini mencerminkan peningkatan kontribusi dari pengakuan penjualan lahan industri, yang didukung oleh pengakuan penjualan yang lebih tinggi pada kuartal III 2026.

Segmen Infrastructure terus mencatatkan pertumbuhan yang stabil, sehingga semakin memperkuat basis pendapatan berulang (recurring revenue) Perseroan.

Manajemen menyampaikan laba bruto konsolidasian meningkat 7% menjadi Rp1.577,8 miliar pada 9M26, dibandingkan Rp1.472,8 miliar pada 9M25. Namun, margin laba bruto konsolidasian turun menjadi 37% dari 40%. Penurunan margin tersebut terutama disebabkan oleh lebih rendahnya margin pada pilar Infrastructure, khususnya dari segmen ketenagalistrikan, yang dipengaruhi oleh faktor-faktor operasional.

Baca Juga :   Pendapatan Mind ID Naik Signifikan Ditopang Batubara, Emas dan Timah

Perseroan mencatat laba bersih sebesar Rp391,7 miliar pada 9M26, turun 38% dibandingkan Rp634,6 miliar pada 9M25. Kinerja tersebut dipengaruhi oleh beban non-operasional yang bersifat satu kali (one-off) terkait refinancing Senior Notes Perseroan menjadi pinjaman bank, yang meliputi rugi selisih kurs, biaya penghentian instrumen derivatif (lindung nilai/hedging), serta beban amortisasi yang dipercepat terkait Senior Notes yang jatuh tempo pada tahun 2027. Biaya tersebut merupakan konsekuensi dari langkah strategis Perseroan untuk melakukan refinancing atas Senior Notes berdenominasi Dolar AS menjadi fasilitas pinjaman bank dalam mata uang Rupiah. Langkah ini diharapkan memberikan manfaat keuangan jangka panjang, meskipun berdampak sementara terhadap kinerja keuangan pada periode berjalan.

EBITDA Perseroan pada 9M26 tercatat sebesar Rp1.362,4 miliar, naik 4% dibandingkan Rp1.308,2 miliar pada 9M25.

KIJA menyebut marketing sales dari Pilar Pengembangan Lahan & Properti mencapai sekitar Rp1,52 triliun pada 9M26, mencerminkan aktivitas bisnis yang tetap berlanjut di berbagai kawasan industri Perseroan di tengah kondisi lingkungan investasi yang semakin menantang. Marketing sales dari Cikarang dan wilayah lainnya, termasuk joint venture, didukung oleh penjualan lahan industri seluas 3 hektare kepada perusahaan tekstil Indonesia, 1 hektare kepada perusahaan di sektor ketenagalistrikan, serta 0,7 hektare kepada perusahaan importir bahan bangunan asal Tiongkok. Sementara itu, penjualan di Kendal didukung oleh transaksi lahan seluas 7 hektare kepada produsen baterai dan 6 hektare kepada produsen kulit sintetis yang keduanya berasal dari Tiongkok, serta 9,7 hektare kepada produsen peralatan rumah tangga asal Indonesia.

Leave a reply

Iconomics