Dewan Pakar TKN Prabowo Beberkan Strategi Prabowo-Gibran Mengejar Pertumbuhan Ekonomi 7%
Capres Prabowo Subianto dan cawapres Gibran Rakabuming Raka/Dokumentasi pribadi Prabowo
Rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia berada dikisaran 5% dalam 10 tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi tahun 2023 melambat menjadi 5,05%, bila dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi tahun 2022 yang sebesar 5,31%. Namun, pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka targetkan pertumbuhan ekonomi lebih tinggi lagi.
“…Tadi Menteri Perekonomian bahwa kita optimistis bisa mencapai lebih dari 5% pertumbuhan. Kalau saya lebih berani lagi. Kita harus berani menaruh sasaran yang lebih tinggi. Kalau saya optimistis, kita bisa mencapai 8% pertumbuhannya,” kata Presiden Terpilih Prabowo Subianto dalam acara Peluncuran Geoportal Kebijakan Satu Peta 2.0 pada 8 Juli 2024.
Anggota Dewan Pakar TKN Prabowo, Dradjad H. Wibowo mengatakan dalam kampanye pemilihan presiden, pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka menargetkan pertumbuhan ekonomi rata-rata 6-7%. Adapun pertumbuhan 8% paling tidak targetnya sekali tercapai pada salah satu tahun selama periode Prabowo-Gibran.
Dradjad membeberkan strategi yang bakal ditempuh pemerintah untuk mengejar pertumbuhan sebesar tersebut.
“Untuk mencapai pertumbuhan tinggi perlu mengandalkan pertumbuhan di sektor swasta. Untuk pertumbuhan sektor swasta, kalau kita business as usual seperti sekarang, kita akan stagnan,” kata Dradjad dalam acara Katadata Indonesia Future Policy Dialogue, Rabu (09/10/2024) di Jakarta.
Namun, swasta pun menghadapi masalah yang kerap membebani gerakannya. Dradjad menyebutkan faktor birokarasi dan regulasi di Indonesia menjadi penghambat yang membuat sektor swasta terbebani.
“Swasta kita selalu terhalang oleh regulasi dan birokrasi. Indonesia is over regulated, with too fat bureaucracy. Birokrasi kita terlalu gemuk. Dan setiap unit dalam birokrasi itu selalu pengen buat aturan, pasti pengen bikin perizinan, pengawasan,” ucap Dradjad.
Oleh karena itu, pemerintahan Prabowo-Gibran akan melakukan debirokratisasi dan deregulasi.
Pemerintah juga akan memainkan peran penting belanja negara. Kombinasi belanja negara (government spending/G) dan investasi swasta (I) yang diharapkan akan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6-7%.
Pada belanja negara, Dradjad menyampaikan dalam strategi fiskal yang dirumuskan, belanja negara akan difokuskan pada belanja investasi, bukan belanja konsumsi.
“(Belanja) konsumsi tetap dijalankan, kartu-kartu itu tetap dijalankan. Tapi fokusnya di belanja investasi. Belanja investasi difokuskan di ekonomi menengah ke bawah. Contohnya makan siang bergizi,” papar Dradjad.
Ia meyakini belanja investasi pemerintah yang akan diputar pada masyarakat ekonomi menengah-bawah dan bawah ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi lebih cepat.
“Kalau Masyarakat menengah-bawah dan bawah pertumbuhannya lebih cepat, biasanya multiplier effect-nya lebih tinggi,” kata Dradjad.