Pakar UI: Tantangan Komunikasi Bukan Soal Media, Algoritma, atau AI, tapi Ada di Kepala Kita
Associate Professor Universitas Indonesia Dr. Devie Rahmawati saat menyampaikan paparan mengenai tantangan komunikasi dan perspektif neuroscience dalam acara The Iconomics 7th Indonesia Public Relations Summit 2026 di Jakarta, Kamis, 6 Agustus 2026.
Tantangan komunikasi di era digital tidak selalu berkaitan dengan media, algoritma, maupun kecanggihan artificial intelligence (AI). Tantangan yang lebih mendasar justru terletak pada bagaimana otak manusia menerima, memproses, dan merasakan pesan yang disampaikan.
Associate Professor Universitas Indonesia (UI) Dr. Devie Rahmawati mengatakan, berbagai strategi komunikasi dapat dilakukan, mulai dari membuat press release, menyajikan data dan fakta, hingga menggunakan teknologi AI. Namun, semua itu belum tentu membuat publik menerima pesan yang disampaikan.
Menurut dia, kondisi tersebut terlihat ketika sebuah institusi telah menyampaikan data dan fakta secara lengkap, bahkan menggunakan teknologi AI, tetapi publik tetap marah, pegawai menolak perubahan, dan pemangku kepentingan tetap tidak percaya terhadap informasi yang diberikan.
Berbicara dalam acara The Iconomics 7th Indonesia Public Relations Summit 2026 di Jakarta, Kamis (6/8), Devie melihat komunikasi dari perspektif neuroscience. Menurut dia, manusia tidak selalu bereaksi terhadap apa yang dikatakan komunikator, tetapi terhadap apa yang dirasakan otak ketika menerima pesan.
“Manusia akan bereaksi bukan pada apa yang kita katakan, tetapi apa yang dirasakan oleh otak ketika kita mendengar kata,” Devie.
Devie menjelaskan bahwa selama ratusan ribu tahun manusia bertahan hidup dengan sistem biologis yang membuat otak sensitif terhadap ancaman. Karena itu, pesan yang dianggap mengandung bahaya dapat dengan cepat menarik perhatian dan memicu respons tertentu.
Menurut dia, hal tersebut juga menjelaskan mengapa berita buruk sering kali mendapatkan perhatian lebih besar dibandingkan informasi yang menyenangkan.
Ia mengatakan sesuatu yang dianggap sebagai bad news justru dapat menarik perhatian karena otak manusia secara alamiah dirancang untuk mendeteksi ancaman.
“Karena memang otak kita didesain untuk langsung, alarm langsung bunyi, kalau ada ancaman,” katanya.
Dia mengatakan, selama ini orang banyak mempelajari teknik berbicara, persuasi, maupun presentasi. Namun, komunikasi sesungguhnya tidak berhenti pada apa yang keluar dari mulut komunikator.
“Komunikasi bukan terjadi di mulut, tapi komunikasi terjadi di dalam otak kita,” ujar Devie.
Karena itu, setiap pesan yang disampaikan pada dasarnya akan membawa penerima pesan menuju salah satu dari dua kondisi, yakni merasa terancam atau merasa aman.
“Tidak pernah ada posisi ketiga,” katanya.
Bahkan, menurut Devie, otak tidak selalu memulai dengan mempertanyakan apakah informasi yang diterima benar atau salah. Respons awal justru berkaitan dengan rasa aman.
Informasi Saja Tidak Cukup
Devie mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan penting bagi komunikasi institusi. Penyampaian fakta dan data yang lengkap belum tentu efektif apabila penerima pesan sudah berada dalam kondisi merasa terancam atau tidak aman.
“Artinya, aman atau bahaya. Karena itu orang akan menolak informasi ketika dia merasa tidak aman,” katanya.
Dalam konteks komunikasi publik, faktor visual juga dapat berperan dalam membentuk persepsi awal. Sebelum memahami isi pesan secara menyeluruh, otak telah mengambil keputusan awal mengenai apakah seseorang atau situasi yang dihadapi dianggap aman.
“Tidak pernah ada kesempatan kedua untuk memberikan kesan pertama yang membentuk neuroception, persepsi orang,” ujar Devie.
Dia mencontohkan bagaimana tampilan kemewahan dapat dipersepsikan berbeda oleh setiap orang. Bagi seseorang yang tidak merasa memiliki kemewahan tersebut, demonstrasi kemewahan dapat memunculkan perasaan terancam.
Devie juga menekankan pentingnya narasi dalam komunikasi. Menurut dia, data dan fakta tetap penting, tetapi cerita dapat membuat sebuah informasi lebih bermakna bagi penerimanya.
Dia memberikan perbandingan antara dua informasi mengenai pandemi Covid-19. Pertama, “Covid telah menyebabkan jutaan kematian.” Kedua, kisah personal mengenai seorang ibu yang meninggal karena Covid-19 setelah membesarkan anak dan keluarganya selama puluhan tahun.
Menurut Devie, kisah personal akan lebih membekas karena menghadirkan makna yang lebih dekat dengan pengalaman manusia.
“Karena otak tidak membeli informasi. Otak membeli makna,” ujarnya.
Dia menjelaskan, penelitian mengenai respons otak terhadap cerita menunjukkan adanya keterhubungan aktivitas otak antara pembicara dan pendengar ketika sebuah cerita disampaikan dengan baik. Fenomena tersebut dikenal sebagai neural coupling.
“Lewat cerita, lewat makna. Artinya, komunikasi terbaik itu adalah bukan membuat orang setuju. Tetapi membuat dua otak antara komunikator dengan komunikan itu bergerak pada frekuensi yang sama,” katanya.
Menurut dia, kemampuan manusia memahami dunia melalui narasi juga menjelaskan mengapa cerita dan perumpamaan digunakan dalam berbagai peradaban.
Dalam komunikasi, Devie juga menekankan pentingnya empati. Menurut dia, empati tidak semata-mata berkaitan dengan kelembutan dalam berbicara, tetapi memiliki mekanisme biologis yang berkaitan dengan kemampuan manusia meniru atau merasakan kondisi emosional orang lain.
“Menurut neuroscience, empati adalah mekanisme biologis,” katanya.
Dia mengaitkannya dengan konsep mirror neuron yang menjelaskan kecenderungan manusia meniru ekspresi maupun kondisi emosional orang lain.
“Karena otak tidak hanya memahami, tapi otak itu melakukan yang disebut dengan fotokopi, meniru,” ujarnya.
Menurut Devie, emosi bahkan dapat menular lebih cepat dibandingkan informasi.
Karena itu, kondisi emosional seorang pemimpin, guru, orang tua, maupun komunikator dapat memengaruhi orang-orang yang berinteraksi dengannya.
“Leader yang panik akan menularkan kepanikan. Guru yang tenang menularkan ketenangan dan kedamaian. Orang tua yang cemas menularkan kecemasan,” ujar Devie.
Pada akhirnya, menurut dia, komunikasi bukan hanya persoalan memilih kata, saluran, atau teknologi yang digunakan. Keadaan emosional komunikator juga menjadi bagian dari pesan yang diterima publik.
Devie pun mengingatkan para komunikator untuk berhati-hati dalam mengirimkan sinyal kepada orang lain, baik kepada keluarga, klien, pegawai, maupun pemangku kepentingan.
“People don’t hear your words first, they feel your nervous system first,” ujarnya.