APPRI Luncurkan Survei Tren Belanja Jasa PR 2026, Bantu Pelaku Industri Melakukan Navigasi Bisnis

0
55

Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI) bekerjasama dengan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya meluncurkan hasil “Studi Tren Belanja Jasa PR dan Optimisme Terhadap Industri PR di tahun 2026”.

Studi ini bertujuan untuk memotret lanskap industri komunikasi di Indonesia di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu.

Acara peluncuran diselenggarakan di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta pada Selasa (28/4) dan dihadiri berbagai perwakilan perusahaan yang menjadi responden studi, para pelaku industri, komunitas akademik, dan media.

Tekanan ekonomi akibat kondisi geopolitik saat ini diperkirakan memberikan dampak langsung terhadap kinerja usaha perusahaan, termasuk dalam efektivitas strategi komunikasi yang dijalankan. Di tengah tekanan tersebut, peran komunikasi yang berfokus pada peningkatan kesadaran merek (brand awareness) mulai dipertanyakan relevansinya terhadap kontribusi nyata pada kinerja bisnis, sehingga menuntut pendekatan yang lebih terukur dan berorientasi pada hasil.

“Di tengah dinamika ekonomi global yang berdampak langsung pada daya beli masyarakat, kami merasa perlu untuk membekali konsultan komunikasi dan PR dengan pemetaan kebutuhan komunikasi perusahaan agar dapat mengoptimalkan kapasitasnya dalam memenuhi kebutuhan klien, sekaligus menjadi landasan keputusan bisnisnya ke depan. Selain itu, kami sebagai asosiasi juga bisa mendapatkan gambaran apa yang bisa kami lakukan untuk membantu anggota kami dan berkontribusi dalam pengembangan bisnisnya.,” kata Sari Soegondo, Ketua Umum APPRI. 

Baca Juga :   Dirut Freeport: Praktisi Humas Harus Jadi Jembatan Informasi untuk Semua Pihak

Sejauh ini, belum pernah dilakukan telaah khusus – atau kajian terkini secara empirik – mengenai latar belakang organisasi dalam memanfaatkan layanan konsultan PR eksternal, besarnya animo, tren perkembangan kebutuhannya, serta tingkat kepuasan dan optimisme para pengguna jasa agensi PR Indonesia. 

Pemaparan hasil “Studi Tren Belanja Jasa PR dan Optimisme Terhadap Industri PR di tahun 2026” di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta pada Selasa (28/4). Acara ini dihadiri berbagai perwakilan perusahaan yang menjadi responden studi, para pelaku industri, komunitas akademik, dan media.

Studi yang dimulai secara efektif pada November 2025 lalu ini, mengumpulkan insights dari 24 perusahaan dari total 50 perusahaan yang diundang untuk mengikuti survey ini. Perusahaan responden tersebar di 19 sektor utama antara lain meliputi sektor kesehatan, perbankan, manufaktur, energi, ritel, layanan publik, sumber daya alam, dan lain-lain. 

“Berdasarkan temuan kami, secara keseluruhan, studi ini menunjukkan bahwa sektor komunikasi dan PR di Indonesia sedang berada dalam fase transisi menuju peran yang lebih strategis. Tentunya ini tidak lepas dari kenyataan bahwa industri saat ini menghadapi berbagai tantangan baru seperti algoritma digital, banjirnya informasi, dan tuntutan akan pengukuran kinerja PR yang berbasis pada dampak. Dengan demikian, edukasi secara spesifik untuk pimpinan perusahaan perlu terus diperkuat,” ujar Natalia Widiasari, Ketua Tim Riset dari Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. 

Baca Juga :   The Iconomics Berikan Penghargaan kepada Para PR dan Kerja-kerja PR dalam 5th Indonesia Public Relations Awards 2024, Inilah Daftarnya

Sejumlah temuan studi ini adalah sebagai berikut: 

  •  Kesadaran pimpinan organisasi klien belum merata dengan 46 persen pimpinan belum mantap memajukan kegiatan komunikasi karena pertimbangan alokasi biaya. 
  • Investasi untuk kegiatan komunikasi masih bervariasi, dimana 29 persen responden menyisihkan anggaran sekitar Rp 3 miliar dan 29 persen responden lainnya memiliki anggaran sekitar Rp 300 juta dalam satu tahun. 
  • Preferensi layanan yang dibutuhkan adalah manajemen reputasi (hampir 100 persen), market intelligence (+-75 persen), integrated marketing communication (+-60 persen) dan dukungan adovasi (+-35 persen). 
  • Preferensi konsultan dan model kerja mencatat sekitar 88 persen klien lebih memilih konsultan lokal karena bisa lebih memahami konteks dan kondisi di Indonesia. 
  • Model kerjasama yang umum digunakan adalah project-based 67 persen, jangka pendek (sampai dengan 12 bulan) 25 persen dan jangka panjang (lebih dari 12 bulan) 8 persen. 
  • Sekitar 40 persen responden menghabiskan anggaran kurang dari Rp 300 juta, sekitar 47,5 persen antara Rp 300 juta s/d 1,5 miliar dan +-12,5 persen menghabiskan anggaran antara Rp 1,5 sd 3 miliar untuk mendukung kegiatan komunikasi mereka. 
  • Terkait pengukuran, 36 persen responden melakukan pengukuran secara berkala, 32 persen melakukan pengukuran hanya saat proyek atau kampanye tertentu berjalan, dan 32 persen responden sama sekali tidak melakukan pengukuran keberhasilan. 
  • Tingkat optimisme organisasi sangat tinggi dimana 52 persen responden menyatakan sangat optimis terhadap pertumbuhan sektor PR dalam 3-5 tahun ke depan, 36 persen optimis, 10 persen netral dan 2 persen kurang optimis. 
  • Faktor penentu yang mendorong keyakinan terhadap peran strategis PR antara lain adalah kebutuhan akan manajemen reputasi yang tinggi (41 persen), kompleksitas isu dan krisis yang terus meningkat (29 persen), perkembangan teknologi dan data untuk komunikasi yang lebih efektif (18 persen), dan sisanya adalah perlunya penegakan regulasi, transparansi dan untuk memenuhi tuntutan akuntabilitas publik (12 persen). 

Leave a reply

Iconomics