AMSI: Jurnalisme Akan Tetap Hidup dengan Merangkul AI dan Disrupsi Teknologi

0
7
Reporter: Rommy Yudhistira

Teknologi digital diibaratkan seperti pisau bermata 2 yang berdampak secara berlawanan. Hal tersebut semakin kompleks dengan hadirnya kecerdasan buatan (AI) yang mulai berkembang akhir-akhir ini.

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) pun menyoroti fenomena tersebut. Meski membawa perubahan yang cukup signifikan, AMSI menilai adanya pergeseran peran media yang terjadi saat ini.

Direktur Eksekutif Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Elin Yunita Kristanti mengatakan, situs berita kini menghadapi kenyataan adanya content creator, dan homeless media yang dapat menggerakkan informasi secara masif.

Padahal, kata Elin, keduanya tidak memiliki struktur institusional, atau harus memenuhi kewajiban etik jurnalistik. Berbeda dengan situs berita yang harus memenuhi etika jurnalistik, memiliki struktur yang jelas, dan bertanggung jawab atas berita yang dipublikasikan.

“Orang mencari informasi di media. Tapi kemudian ketika disrupsi internet, ada agregator, ada Google, ada media sosial. Jadi itu yang kemudian menjauhkan media dari audiensinya,” kta Elin dalam acara The Iconomics 7th Indonesia Public Relations Summit 2026 di Jakarta, Kamis (6/8).

Baca Juga :   Indonesia-RRT Sepakati Kerja Sama Ekonomi Digital, Inilah Lingkup Kerja Samanya

Berdasarkan News Digital Report 2026, kata Elin, platform digital mendominasi sumber berita masyarakat. Media sosial pun menjadi tujuan utama khalayak dalam mencari berita. Laporan tersebut menunjukkan kepercayaan publik terhadap media untuk mencari berita menurun.

Dari data itu, sebanyak 83% responden mengakses berita melalui platform digital. Kemudian, ada 64%  yang memilih mendapatkan informasi dari kanal media sosial. Sedangkan tingkat kepercayaan publik terhadap berita di Indonesia berada pada angka 36%.

“Ini adalah tonggak sejarah di mana masyarakat melihat atau mengonsumsi informasi dari media sosial dan aplikasi video. Bukan dari situs berita atau berita di televisi,” ujar Elin.

Alih-alih menghindar dari gempuran disrupsi digital, kata Elin, AMSI justru mendorong media memanfaatkan teknologi digital untuk membangun ekosistem yang sehat, independen, dan berkelanjutan. Apalagi dengan hadirnya AI, media bisa lebih adaptif, dan mendayagunakan teknologi sebagai sarana menyebarkan hal-hal positif.

Karena itu, kata Elin, pihaknya optimistis bahwa jurnalisme tidak akan mati hanya lantaran pesatnya perkembangan teknologi digital. Esensi jurnalisme tidak hanya soal fakta, tetapi harus bermakna.

Baca Juga :   GoTo Bekerja Sama dengan Microsoft Dalam Penggunaan AI untuk Produktivitas

Dan itu pula, kata Elin, yang membedakan jurnalis dalam memproduksi berita dengan verifikasi dan bermakna.

“Seperti mencari data, fakta, expertise, dan akses. Media menyiapkan verifikasi, konteks, dan perspektif publik. Sementara AI membantu menemukan, merangkum, dan mendistribusikan informasi. Pada akhirnya kita harus merangkul teknologi,” ujarnya.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics