India Tetap Bergantung pada Impor Minyak Sawit Indonesia, Meski Ada Program Swasembada
Para panelis dalam sesi "Palm Oil in a Shifting World: Regional Perspectives" pada hari kedua IPOC di BICC The Westin Nusa Dua, Bali, Jumat (14/11). Sesi ini antara lain membahas topik "India's Palm Oil Policy Blancing Act: tariffs, Subsidies and Regional Trade Dynamics" yang disampaikan Atul Chaturvedi dari Asian Palm Oil Alliance (APOA).
Program swasembada sawit yang diluncurkan India sejak 2021 tak serta merta membuat Indonesia kehilangan pasar terbesarnya. Negari Bollywood itu masih membutuhkan pasokan sawit dari Indonesia untuk memenuhi kebutuhan domestiknya.
Chaturvedi dari Asian Palm Oil Alliance (APOA) dalam paparannya berjudul “India’s Palm Oil Policy Balancing Act: Tariffs, Subsidies and Regional Trade Dynamics” pada ajang IPOC 2025 menyampaikan India telah lama menjadi pasar ekspor strategis bagi minyak kelapa sawit Indonesia.
Namun, ia mengatakan, dinamika geopolitik regional dan tren proteksionisme mendorong India meluncurkan National Mission on Edible Oils – Oil Palm (NMEO-OP) pada 2021 untuk mengejar kemandirian produksi minyak sawit. Program ambisius itu menargetkan perluasan perkebunan hingga 1,67 juta hektare dan produksi CPO 2,8 juta ton pada 2030.
India juga memberikan subsidi besar untuk mendorong investasi di sektor ini, mulai dari penyediaan bahan tanam, dukungan sarana pertanian, hingga pelatihan petani.
“Namun empat tahun sejak diterapkan, hasilnya masih jauh dari harapan. Proyeksi terkini menunjukkan luas lahan yang tertanam hanya akan mencapai sekitar 0,75 juta hektare pada 2030, sementara produksi CPO domestik diperkirakan hanya mencapai maksimal 1 juta ton,” ujarnya di Bali, Jumat (14/11).
Di sisi lain, kebutuhan minyak nabati India tetap tinggi, yakni 8,25 juta ton, dan akan terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi. Konsumsi minyak nabati India diperkirakan dapat mencapai 50 juta ton pada 2047. Kondisi itulah yang menurut Chaturvedi menegaskan bahwa Indonesia akan tetap menjadi pemasok krusial bagi pasar India, apa pun perkembangan kebijakan domestik negara tersebut.
Meski peluang pasar sangat besar, Indonesia diminta untuk tetap menjaga daya saing dan kualitas produk. Pasar India dikenal sangat sensitif terhadap fluktuasi harga dan memiliki banyak alternatif substitusi, sehingga strategi perdagangan harus dirumuskan dengan cermat.
Chaturvedi juga menekankan pentingnya intervensi aktif untuk menghadapi kampanye negatif terhadap sawit di India. Reputasi yang lebih baik akan memperkuat permintaan sekaligus memastikan minyak sawit Indonesia terus menjadi pilihan utama di pasar terbesar dunia tersebut.
Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), India merupakan negara tujuan utama ekspor CPO Indonesia. Pada 2024, nilai ekspor CPO ke negara Asia Selatan itu mencapai US$3,91 miliar, atau sekitar 17,11% dari total ekspor CPO Indonesia pada 2024 yang sebesar US$22,9 miliar. Komposisi itu menjadikan India sebagai negara tujuan ekspor terbesar CPO Indonesia, menyusul Tiongkok (US$3,4 miliar) dan Pakistan (US$2,78 miliar).