Setelah 72 Bulan Surplus, Neraca Perdagangan Indonesia Defisit pada Mei 2026 akibat Lonjakan Impor BBM

Secara keseluruhan neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus kumulatif USD4,03 miliar sepanjang Januari–Mei 2026, namun nilainya jauh lebih rendah dibandingkan USD15,38 miliar pada periode yang sama tahun lalu. 
0
14

Neraca perdagangan Indonesia yang secara konsisten mencatatkan surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020 akhirnya berbalik arah. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, pada Mei 2026 neraca perdagangan mengalami defisit sebesar USD1,61 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan defisit tersebut sepenuhnya dipicu oleh memburuknya neraca perdagangan minyak dan gas (migas).

Pada Mei 2026, neraca perdagangan migas mengalami defisit sebesar USD3,76 miliar, lebih dalam dibandingkan April 2026 yang sebesar USD3,44 miliar. Di sisi lain, neraca perdagangan nonmigas masih mampu mencatatkan surplus USD2,15 miliar, namun belum cukup untuk menutup defisit migas.

“Penyumbang defisit komoditas migas yaitu dari hasil minyak dan juga dari minyak mentah,” ujar Ateng.

Data BPS menunjukkan total impor migas Indonesia pada Mei 2026 mencapai USD4,51 miliar, relatif stabil dibandingkan April 2026 yang sebesar USD4,59 miliar. Namun dibandingkan periode yang sama tahun lalu, nilainya melonjak tajam dari USD2,64 miliar atau meningkat sekitar 71% secara tahunan (year-on-year).

Baca Juga :   Mayoritas dari India, Indonesia Impor Beras 326,45 Ribu Ton pada Januari-November 2022

Bila dirinci, penurunan justru terjadi pada impor minyak mentah. Nilainya mencapai USD703,4 juta pada Mei 2026, turun dari USD1,09 miliar pada April 2026 dan sedikit lebih rendah dibandingkan USD733,1 juta pada Mei 2025.

Sebaliknya, lonjakan impor terjadi pada kelompok hasil minyak atau bahan bakar minyak (BBM). Nilai impornya mencapai USD3,81 miliar pada Mei 2026, meningkat dari USD3,51 miliar pada April 2026. Dibandingkan Mei 2025 yang hanya USD1,91 miliar, impor hasil minyak hampir dua kali lipat atau meningkat sekitar 99%.

Di sisi ekspor, kinerja migas juga belum mampu mengimbangi tingginya impor.

Indonesia tidak mencatatkan ekspor minyak mentah pada Mei 2026, setelah pada April masih mengekspor senilai USD66,3 juta.

Sementara itu, ekspor hasil minyak turun menjadi USD410,5 juta pada Mei dari USD555,5 juta pada April. Ekspor gas alam juga sedikit melemah menjadi USD521,7 juta, dibandingkan USD533,5 juta pada bulan sebelumnya.

Secara keseluruhan neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus kumulatif USD4,03 miliar sepanjang Januari–Mei 2026, namun nilainya jauh lebih rendah dibandingkan USD15,38 miliar pada periode yang sama tahun lalu. 

Leave a reply

Iconomics