Meski Tetap Ekspansif, Defisit APBN 2027 2,40%, Lebih Rendah dari 2026
Presiden Prabowo Subianto membacakan Nota Keuangan dan RAPBN 2027 di hadapan Rapat Paripurna DPR RI, Jumat (14/8/2026).
Pemerintah menetapkan arah kebijakan fiskal dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 tetap ekspansif, dengan defisit anggaran ditargetkan sebesar 2,40% terhadap produk domestik bruto (PDB).
“Arsitektur RAPBN tahun 2027 didesain tetap ekspansif, secara kolaboratif, terarah, dan terukur untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dan kesejahteraan lebih cepat,” kata Presiden Prabowo Subianto dalam pidato Nota Keuangan dan RAPBN 2027 di hadapan Rapat Paripurna DPR RI, Jumat (14/8/2026).
Menurut Prabowo, kebijakan fiskal pada 2027 harus didukung sinergi yang semakin solid antara kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, serta berbagai sektor ekonomi. Transformasi ekonomi menuju aktivitas ekonomi yang memiliki nilai tambah tinggi juga akan terus diperkuat.
Prabowo mengatakan RAPBN 2027 akan diarahkan untuk memastikan program-program unggulan pemerintah berjalan efektif. Perlindungan sosial juga akan diperkuat agar semakin andal dan tepat sasaran, sementara pemberdayaan UMKM terus digairahkan.
Dukungan bagi petani, nelayan, guru, serta kelompok tenaga kerja rentan juga akan diperkuat. Pada saat yang sama, pemerintah akan meningkatkan harmonisasi kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah.
“Penegakan hukum harus terus ditegakkan tanpa pandang bulu,” tegasnya.
Belanja Negara Rp4.097,2 Triliun
Untuk mendukung berbagai agenda tersebut, pemerintah merencanakan belanja negara 2027 sebesar Rp4.097,2 triliun. Angka tersebut meningkat dibandingkan pagu APBN 2026 sebesar Rp3.842,7 triliun.
Sementara itu, pendapatan negara pada 2027 diperkirakan mencapai Rp3.426 triliun, naik dari Rp3.153,6 triliun dalam APBN 2026.
Adapun pembiayaan anggaran direncanakan sebesar Rp671,2 triliun dengan defisit anggaran sebesar 2,40% terhadap PDB.
Prabowo menegaskan pemerintah akan terus berupaya menekan defisit tersebut agar semakin kecil.
“Kita memahami bahwa defisit yang ideal adalah sekecil-kecilnya. Bahkan cita-cita kita adalah anggaran yang berimbang,” kata Prabowo.
Defisit 2027 tersebut lebih rendah dibandingkan rencana pembiayaan dalam APBN 2026 sebesar Rp689,1 triliun dengan defisit 2,68% terhadap PDB.
Dalam RAPBN 2027, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 6%. Target tersebut lebih tinggi dibandingkan target pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2026 sebesar 5,4%.
Sejumlah asumsi makroekonomi juga ditetapkan untuk mendukung target tersebut. Inflasi ditargetkan berada pada kisaran 2,5%, sedangkan tingkat suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun diperkirakan sebesar 6,9%.
Nilai tukar rupiah diproyeksikan berada pada kisaran Rp17.500 per dolar AS. Sementara harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) diperkirakan sebesar US$75 per barel.
Pemerintah menargetkan lifting minyak sebesar 610 ribu barel per hari dan lifting gas sebesar 954 ribu barel setara minyak per hari.
Prabowo mengatakan pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan APBN yang efektif diharapkan berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.
Kemiskinan pada 2027 ditargetkan turun ke rentang 6,0%-6,5%, dari target APBN 2026 sebesar 6,5%-7,5%.
Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka ditargetkan turun menjadi 4,30%-4,87%, dibandingkan target 2026 sebesar 4,44%-4,96%.
Pemerintah juga menargetkan perbaikan rasio Gini menjadi 0,362-0,367, dari target tahun ini sebesar 0,377-0,380.
Adapun indeks modal manusia ditargetkan meningkat menjadi 0,575.
Prabowo menegaskan pencapaian berbagai target tersebut akan ditopang reformasi fiskal yang dilakukan secara holistik dan konsisten.
“Pendapatan negara kita dorong lebih optimal, kebocoran penerimaan harus diminimalisasi, efisiensi belanja harus terus kita lanjutkan,” ujar Prabowo.
Di sisi lain, pemerintah akan mendorong perlindungan sosial agar semakin tepat sasaran serta mengembangkan pembiayaan yang inovatif dan berkelanjutan.