Pencalonan Tunggal Destry Damayanti Beri Kepastian Kesinambungan Kebijakan BI

Pasar akan terus mencermati independensi kelembagaan BI dan sinyal kebijakan awal dari Destry Damayanti apabila ia lolos proses fit and proper test di parlemen.
0
5

Pencalonan Destry Damayanti sebagai satu-satunya kandidat Gubernur Bank Indonesia (BI) dinilai memberikan kepastian bagi pasar terkait kesinambungan kebijakan moneter dan stabilitas rupiah.

Lead Economist Bank Danamon, Faiz Irman, mengatakan pencalonan tunggal Destry Damayanti memberikan sentimen positif bagi rupiah di tengah ketidakpastian global dan tekanan terhadap pasar valuta asing.

Dalam laporan Indonesia Macro Glint edisi 12 Agustus 2026, Bank Danamon mencatat rupiah menguat hampir 1,5% menjadi Rp17.755 per dolar AS pada 10 Agustus 2026, dari Rp18.022 per dolar AS pada akhir Juli.

“Penguatan tersebut didukung oleh pelemahan dolar AS dan pencalonan Destry Damayanti sebagai satu-satunya kandidat Gubernur Bank Indonesia,” kata Faiz Irman dalam laporan tersebut.

Menurut Faiz, masa jabatan Destry Damayanti selama tujuh tahun di BI serta latar belakangnya di pasar keuangan membantu meredakan kekhawatiran pasar mengenai kesinambungan kebijakan.

“Namun, pasar akan terus mencermati independensi kelembagaan BI dan sinyal kebijakan awal dari Destry Damayanti apabila ia lolos proses fit and proper test di parlemen,” ujarnya.

Baca Juga :   Inflow ke SRBI dan SBN Mengalir Deras Usai BI Rate Naik 100 Bps

Sentimen positif dari pencalonan tunggal tersebut belum sepenuhnya mampu menahan tekanan terhadap rupiah. Kembali meningkatnya ketegangan geopolitik membuat rupiah melemah 0,6% menjadi Rp17.861 per dolar AS pada 11 Agustus 2026.

Tekanan eksternal juga masih menjadi perhatian karena melemahnya penyangga eksternal Indonesia. Bank Danamon mencatat Indonesia mengalami defisit perdagangan selama dua bulan berturut-turut hingga Juni 2026. Kondisi tersebut menunjukkan melemahnya pasokan valuta asing secara struktural.

Cadangan devisa Indonesia juga turun menjadi US$145,3 miliar pada Juli 2026 dari US$145,6 miliar pada Juni. Penurunan tersebut mencerminkan berkurangnya posisi mata uang dan simpanan sebesar US$2,4 miliar, meskipun terdapat aliran dana dari penerbitan Panda Bond pemerintah dan obligasi global Danantara.

Bank Danamon menilai, meskipun kecukupan cadangan devisa masih berada pada level yang nyaman, melemahnya arus masuk valuta asing dari perdagangan serta meningkatnya kebutuhan pembayaran utang luar negeri membuat Indonesia semakin bergantung pada arus modal portofolio.

Kondisi tersebut, menurut Faiz, semakin menegaskan pentingnya tingkat imbal hasil aset domestik yang menarik serta kredibilitas kebijakan BI.

Baca Juga :   Berbagai Beban Pembiayaan APBN, Bagaimana Independensi Bank Indonesia?

Bank Danamon memperkirakan BI masih akan mengandalkan instrumen non-suku bunga sebelum kembali menaikkan BI Rate.

“Kami memperkirakan BI akan merespons dengan dua kali kenaikan sebesar 25 basis poin sehingga BI Rate mencapai 6,25% pada akhir tahun, seiring dengan semakin lebarnya defisit transaksi berjalan dan melemahnya pasokan valuta asing struktural yang meningkatkan kerentanan rupiah,” kata Faiz.

Namun, sebelum menaikkan suku bunga, BI diperkirakan akan terus memprioritaskan instrumen non-suku bunga dan normalisasi SRBI seiring dengan membaiknya likuiditas domestik.

Bank Danamon mencatat penerbitan SRBI telah dikurangi dari Rp9 triliun pada 31 Juli menjadi Rp5 triliun pada 7 Agustus. Penurunan penerbitan tersebut disertai penurunan 5 basis poin pada imbal hasil SRBI tenor 12 bulan.

Di sisi fiskal, penempatan SAL sebesar Rp281 triliun di bank-bank Himbara turut meningkatkan likuiditas domestik. Pertumbuhan unadjusted M0 meningkat menjadi 18,3% secara tahunan pada Juli 2026 dari 14,1% pada Juni.

Dengan kondisi tersebut, Bank Danamon memperkirakan imbal hasil SRBI tenor 12 bulan dapat turun dari 7,59% menuju 7,20% pada akhir tahun, meskipun BI Rate diproyeksikan meningkat.

Baca Juga :   Jumlah Investor Ritel Pasar Modal Hampir 6 Juta, BI: Masih Kurang

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun diperkirakan naik dari sekitar 7,23% menjadi 7,35% pada akhir 2026.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics