Kuliah Umum di UMY, Arsjad Rasjid Dorong Kampus Jadi Enabler Entrepreneurship
Pengusaha sekaligus mantan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Arsjad Rasjid menyampaikan kuliah umum dengan tema "Membangun Kultur Enterpreneurial University untuk Kermajuan Dunia Usaha" di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Senin (15/12/2025).
Pengusaha sekaligus mantan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Arsjad Rasjid, menekankan pentingnya peran perguruan tinggi sebagai penggerak utama ekosistem kewirausahaan di tengah semakin terbatasnya lapangan kerja formal, khususnya bagi generasi muda.
Hal itu disampaikan Arsjad saat menyampaikan kuliah umum dengan tema “Membangun Kultur Enterpreneurial University untuk Kemajuan Dunia Usaha” di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Senin (15/12).
Pemilik grup usaha Indika Energy itu mengaku antusias ketika diundang untuk menyampaikan kuliah umum mengenai kewirausahaan di UMY.
“Karena saya percaya bahwa kampus harus menjadi enabler atau tempat untuk entrepreneurship. Di sinilah tempat ide-ide itu lahir, lalu diuji, lalu juga tumbuh jadi sesuatu yang berdampak ataupun impactful things,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2025, terdapat sekitar 7,46 juta pengangguran di Indonesia, dengan sekitar 16 persen di antaranya berasal dari kalangan Gen Z. Bahkan masih ada lulusan S1 hingga S3 kesulitan mencari pekerjaan.
Kondisi tersebut, kata dia, terjadi karena berbagai faktor, seperti ketidaksesuaian (mismatch) kurikulum dengan kebutuhan industri. Struktur ekonomi Indonesia, menurutnya, juga harus mengarah ke industrialisasi agar bisa menciptakan lapangan kerja formal.
Menurut Arsjad, tantangan dunia kerja ke depan juga semakin kompleks dengan pesatnya perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), yang berpotensi menggantikan banyak pekerjaan level awal dan administratif.
“Itu fakta dan ini menjadi tantangan untuk angkatan kerja dan juga teman-teman yang baru lulus. Dengan situasi seperti ini, universitas harus bisa beradaptasi dan agile dari segi apa: kurikulumnya, metode pembelajaran dan teman-teman mahasiswa siap dengan namanya the new era of world place,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya peningkatan keterampilan mahasiswa, mulai dari penguasaan teknologi dan AI, kepemimpinan, hingga keterampilan kewirausahaan. Dengan demikian, lulusan perguruan tinggi tidak hanya berorientasi sebagai pencari kerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja.
“Pertanyaan sekarang, bagaimana caranya membangun iklim entrepreneurship, khususnya di kampus? Jawabannya ekosistem kampus dan juga talenta sumber daya manusia harus saling mendukung,” ujarnya.
Sebagai perbandingan, Arsjad mencontohkan National University of Singapore (NUS) yang memiliki ekosistem kewirausahaan sangat kuat melalui NUS Enterprise. Lembaga ini merupakan unit kewirausahaan kampus yang berfungsi sebagai inkubator dan akselerator startup mahasiswa, sekaligus menjembatani ide-ide bisnis dengan akses pendanaan serta kolaborasi erat dengan pemerintah dan industri.
Contoh lainnya datang dari Amerika Serikat, khususnya Silicon Valley di California, yang dikenal sebagai tempat lahir dan berkembangnya berbagai perusahaan teknologi global. Sejumlah pendiri perusahaan besar seperti Netflix, Google, hingga Nvidia merupakan alumni Stanford University.
Stanford mampu menjadi pusat kewirausahaan karena berhasil membangun ekosistem yang terintegrasi. Kampus ini memiliki Stanford Office of Technology Licensing sebagai pintu koordinasi riset, sehingga hasil penelitian tidak berhenti pada jurnal, tetapi dikembangkan menjadi produk dan perusahaan. Selain itu, Stanford juga memiliki StartX, yakni program akselerator dan fellowship khusus bagi mahasiswa, dosen, dan alumni.
Kolaborasi dengan pemerintah, industri, dan investor juga menjadi bagian penting dari ekosistem tersebut, di mana berbagai kerja sama riset, pengembangan teknologi, hingga program inovasi publik dilakukan secara berkelanjutan.
Belajar dari pengalaman Stanford University dan National University of Singapore (NUS), Arsjad memaparkan sejumlah langkah untuk menumbuhkan iklim kewirausahaan di kampus.
Pertama, mengoptimalkan riset akademik. Menurutnya, riset tidak boleh berhenti pada publikasi jurnal, tetapi harus dikembangkan lebih lanjut agar dapat menjadi produk atau bahkan melahirkan perusahaan baru yang mampu menjadi solusi bagi masyarakat. Ia menilai peresmian Science Techno Park di UMY menjadi langkah strategis untuk mendorong riset, inovasi, dan pertumbuhan ekonomi.
Kedua, membangun entrepreneurship spirit dan mindset mahasiswa melalui keterlibatan aktif dalam berbagai program, seperti inkubator startup, mentoring, fellowship, hackathon, hingga kompetisi rencana bisnis. Berbagai kegiatan tersebut dinilai dapat mengasah ketajaman ide bisnis sekaligus memperluas jejaring, sehingga tidak hanya keterampilan yang terbentuk, tetapi juga pola pikir dan semangat kewirausahaan.
Ia juga menyinggung komunitas Gen8 yang dikelolanya, yang menyediakan kelas mentoring seperti “Kelas Cuan” secara gratis bagi anak muda untuk belajar pemasaran, kepemimpinan, dan pengelolaan tim.
Ketiga, kampus perlu memperkuat kolaborasi dengan dunia usaha, pemerintah, investor, serta perguruan tinggi lain, termasuk kerja sama dengan kampus-kampus besar di Asia. Bentuk kolaborasi tersebut dapat berupa pertukaran mahasiswa, riset bersama, industrial fellowship, hingga akses pendanaan. Arsjad menambahkan, banyaknya venture capital di Indonesia yang mencari ide bisnis segar dapat menjadi peluang besar apabila kampus memiliki jaringan yang kuat dan terhubung dengan para investor.
“Kalau kampus punya jaringan yang kuat dan connected dengan investor-investor ini, ini bisa membantu. Dan tentunya juga kolaborasi dengan dunia usaha seperti perusahaan, dan lain-lain. Kalau dengan dunia usaha, saya berpikir bahwa UMJ ini punya privilege yang besar,” ujarnya.
Arsjad menilai Muhammadiyah memiliki keunggulan besar karena didukung jaringan bisnis dan sosial yang sangat luas. Ia bahkan menyebut Muhammadiyah sebagai the largest social enterprise in the world, sekaligus yang pertama, karena sejak awal membangun usaha di bidang pendidikan dan kesehatan yang tidak hanya berorientasi pada bisnis, tetapi juga memiliki dampak sosial.
Jaringan Amal Usaha Muhammadiyah tersebar di seluruh Indonesia, mencakup ratusan perguruan tinggi, rumah sakit dan klinik, ribuan sekolah, koperasi dan lembaga keuangan mikro, jaringan UMKM, pesantren, hingga berbagai lembaga sosial. Dengan skala ekosistem tersebut, Arsjad menilai UMY memiliki keistimewaan karena tidak perlu mencari industri ke luar kampus, sebab ekosistemnya sudah tersedia dan dapat dimanfaatkan sebagai living laboratory.
Ia mencontohkan rumah sakit Muhammadiyah yang dapat dikembangkan sebagai pusat inovasi kesehatan, tempat mahasiswa menguji berbagai solusi teknologi, seperti genomic sequencing, genomic preventive untuk identifikasi penyakit, hingga pengembangan health tech dan telemedicine.
Selain itu, sekolah-sekolah Muhammadiyah dapat menjadi ruang pengembangan teknologi pendidikan (edutech) untuk mendukung sistem pembelajaran yang lebih inklusif. Sementara koperasi dan BMT Muhammadiyah berpotensi menjadi pusat inovasi di bidang fintech, agritech, serta inkubasi bisnis.
“Semua ini adalah sebuah living laboratorium atau laboratorium yang hidup bagi mahasiswa dan dosen,” ujar Arsjad.