Destry Damayanti Paparkan Visi-Misi Calon Gubernur BI di Hadapan DPR, Ini Fokusnya

Destry menilai keberhasilan BI tidak hanya ditentukan oleh kemampuan bank sentral bekerja sendiri, melainkan juga oleh kemampuan membangun kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan.
0
8

Calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memaparkan visi, misi, dan lima inisiatif strategis yang akan dijalankan apabila mendapat amanah memimpin bank sentral. Paparan tersebut disampaikan Destry dalam uji kelayakan dan kepatutan di hadapan Komisi XI DPR RI, Rabu (26/8).

Mengusung tema “Bank Indonesia: Sinergi Merah Putih untuk Kesejahteraan Rakyat Indonesia”, Destry mengatakan arah kebijakan yang ditawarkannya merupakan kelanjutan dari perjalanan dan penguatan mandat BI, sekaligus respons terhadap tantangan perekonomian yang semakin kompleks.

Destry mengusung visi menjadikan Bank Indonesia sebagai lembaga yang tetap relevan dalam merespons tantangan serta kredibel dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

“Visi kami adalah menjadikan Bank Indonesia sebagai lembaga yang tetap relevan dalam merespons tantangan serta kredibel dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” ujar Destry dalam paparannya di hadapan pimpinan dan anggota Komisi XI DPR RI.

Untuk mewujudkan visi tersebut, Destry menawarkan tiga misi utama. Pertama, menjaga stabilitas sebagai fondasi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Misi ini sejalan dengan mandat BI untuk mencapai stabilitas nilai rupiah, memelihara stabilitas sistem pembayaran, dan turut menjaga stabilitas sistem keuangan.

Kedua, berkontribusi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Menurut Destry, stabilitas dan pertumbuhan ekonomi harus berjalan secara seimbang dan berkesinambungan.

“Stabilitas yang kuat akan dapat memberikan kepastian berusaha dan akhirnya mendukung pertumbuhan ekonomi,” kata Destry.

Misi ketiga adalah memperkuat sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan melalui konsep Sinergi Merah Putih. Koordinasi tersebut mencakup pemerintah, otoritas terkait, DPR, serta pemerintah dan pemangku kepentingan di daerah.

Baca Juga :   Sudah 8 Bulan Suku Bunga Acuan di Level Terendah, BI Minta Bank Turunkan Suku Bunga Kredit

Selain tiga misi tersebut, Destry juga memaparkan lima inisiatif strategis sebagai kerangka implementasi visinya.

Pertama, penguatan bauran kebijakan Bank Indonesia. Dari sisi moneter, BI-Rate akan diarahkan secara pre-emptive dan forward-looking untuk menjaga stabilitas rupiah dengan tetap memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi. Stabilisasi nilai tukar akan diperkuat melalui smart intervention, sementara operasi moneter pro-market dioptimalkan untuk menjaga efektivitas transmisi kebijakan dan kecukupan likuiditas.

Kebijakan makroprudensial juga akan diarahkan semakin pro-growth dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian. Berbagai instrumen akan dioptimalkan untuk mendorong pembiayaan, terutama ke sektor-sektor prioritas.

Sementara itu, kebijakan sistem pembayaran akan difokuskan pada akselerasi ekonomi dan keuangan digital yang aman, efisien, dan inklusif. Meski demikian, Destry menegaskan digitalisasi tidak akan mengesampingkan kebutuhan masyarakat terhadap uang tunai.

“Bank Indonesia akan tetap memastikan ketersediaan rupiah yang berkualitas dan layak edar di seluruh wilayah NKRI termasuk daerah 3T,” ujarnya.

Kedua, revitalisasi kebijakan lalu lintas devisa. Destry mengatakan kebijakan ini akan menjadi perhatian serius BI sesuai mandat yang diberikan undang-undang. Ke depan, BI akan melakukan refocusing dan revitalisasi kebijakan lalu lintas devisa, khususnya melalui pengawasan berbasis digital dan suptech.

Ketiga, penguatan keuangan inklusif dan berkelanjutan. Menurut Destry, pertumbuhan ekonomi yang berkualitas harus dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat. Ia juga menilai inklusi dan ekonomi syariah dapat menjadi game changer untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Baca Juga :   Generasi Milenial dan Gen Z Bisa Percepat Pemulihan Ekonomi Kita

Selain memperkuat pembiayaan inklusif melalui kebijakan makroprudensial, BI juga akan menyempurnakan kebijakan keuangan berkelanjutan, termasuk instrumen dan metode perhitungan emisi serta karbon yang dapat digunakan oleh perusahaan dan perbankan.

Keempat, penguatan tata kelola, kelembagaan, dan inovasi. Menurut Destry, perluasan mandat BI harus diimbangi dengan kapasitas kelembagaan yang semakin kuat dan adaptif.

“Kredibilitas Bank Indonesia bukan sesuatu yang dapat dibangun secara instan, tetapi merupakan hasil akumulasi integritas, konsistensi, inovasi, dan sinergi jangka panjang,” kata Destry.

Kelima, Sinergi Merah Putih. Inisiatif ini menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh kebijakan BI dengan berbagai program dan agenda pembangunan nasional.

Destry menilai keberhasilan BI tidak hanya ditentukan oleh kemampuan bank sentral bekerja sendiri, melainkan juga oleh kemampuan membangun kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan. Sinergi tersebut, menurut dia, akan diterjemahkan dalam berbagai program yang selaras dengan agenda Asta Cita, mulai dari penguatan ketahanan pangan, hilirisasi dan industrialisasi, pengembangan sumber daya manusia, pembangunan daerah, digitalisasi ekonomi, hingga reformasi kelembagaan.

Destry merangkum pendekatan kebijakannya dalam konsep 3I dan 1S, yakni kebijakan yang impactful, inklusif, dan terintegrasi, yang ditopang oleh sinergi.

“Bagi kami, sinergi bukan hanya tentang bekerja bersama, tetapi tentang menyatukan kekuatan, saling melengkapi, dan melangkah seirama untuk mencapai hasil yang lebih baik daripada yang dapat diraih kalau kita bekerja sendirian,” ujar Destry.

Siapa Destry Damayanti?

Destry Damayanti, yang lahir di Jakarta pada 1963, bukan orang baru di Bank Indonesia (BI). Ia mulai masuk ke lingkungan bank sentral pada 2019 setelah ditetapkan sebagai Deputi Gubernur Senior BI berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 74/P Tahun 2019 tanggal 29 Juli 2019 untuk periode 2019-2024. Destry kemudian mengucapkan sumpah jabatan pada 7 Agustus 2019.

Baca Juga :   Kebijakan Makroprudensial Semakin Penting di Masa Pandemi Covid-19

Untuk posisi yang sama, Destry kembali ditetapkan sebagai Deputi Gubernur Senior BI untuk periode 2024-2029 berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 74/P Tahun 2024 tanggal 10 Juli 2024. Ia mengucapkan sumpah jabatan pada 7 Agustus 2024.

Destry kemudian menjadi Penjabat Sementara (Pjs) Gubernur BI, menggantikan Perry Warjiyo yang diumumkan mengundurkan diri pada 27 Juli 2026.

Dari sisi pendidikan, Destry meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia dan gelar Master of Science (M.Sc.) dari Department of City and Regional Planning, Cornell University, New York, Amerika Serikat.

Sebelum berkarier di BI, Destry mengawali karier sebagai Senior Economic Adviser Duta Besar Inggris untuk Indonesia pada 2000-2003. Ia kemudian menjadi peneliti dan pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada 2005-2006 serta Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas pada 2005-2011.

Kariernya berlanjut sebagai Kepala Ekonom Bank Mandiri pada 2011-2015, Ketua Satuan Tugas Ekonomi Kementerian BUMN pada 2014-2015, serta Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk periode 2015-2019.

 

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics