Tiga Kali Turunkan BI Rate, Namun Bank Tak Turunkan Suku Bunga, Gubernur BI; ”Yuk! Bersama-sama Turunkan Suku Bunga”

0
114

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 15-16 Juli 2025 memutuskan menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. 

BI Rate diturunkan menjadi 5,25%, serta suku bunga Deposit Facility dan  Lending Facility masing-masing menjadi 4,50% dan 6,00%.

Dengan demikian, selama 2025 ini, Bank Indonesia sudah tiga kali menurunkan suku bunga acuan. Selain pada Juli ini, sebelumnya juga sudah dilakukan pada Januari dan Mei lalu.

Meski demikian, perbankan masih belum menurunkan suku bunga, bahkan malah menaikkanya.

Bank Indonesia mencatat, suku bunga deposito 1 bulan meningkat, dari 4,81% pada Mei 2025 menjadi 4,85% pada Juni 2025, seiring dengan persaingan bank untuk memperoleh pendanaan. 

Suku bunga kredit perbankan juga masih tinggi, yaitu 9,16% pada Juni 2025, tidak jauh berbeda dari 9,18% pada Mei 2025. 

Padahal, kata Perry, Bank Indonesia “sudah all out untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, termasuk juga mendorong kredit pembiayaan perbankan.”

“Kami (telah) turunkan suku bunga bahkan masih ada ruang penurunan suku bunga. Kami terus tambahi likuiditas dengan operasi moneter yang ekspansif menambah likuiditas. Kami stabilkan nilai tukar Rupiah. Lebih dari itu, kami menambah insentif likuiditas makro prudensial yang jumlahnya sangat besar,” ujar Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam konferensi pers, Rabu (16/7).

Baca Juga :   Inflow ke SRBI dan SBN Mengalir Deras Usai BI Rate Naik 100 Bps

Perry mengatakan jumlah insentif likuiditas mencapai Rp376 triliun bagi bank-bank yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas.

“Jadi, Bank Indonesia, terus all out untuk mendorong pertumbuhan kredit dan bersama pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

“Pertanyaannya,” kata Perry, “mengapa suku bunga (perbankan) belum turun?” Kenapa pertumbuhan kredit (per Juni) turun?

Menurut Perry, dari sisi penawaran (supply), kelesuan pertumbuhan kredit bukan karena masalah likuiditas karena Rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sangat tinggi yaitu 27%.

“Permasalahannya adalah bank lebih suka menaruh alat likuid itu pada surat-surat berharga dan terlalu berhati-hati dalam mendorong kredit, mengalokasikan alat likuid ke kredit,” ujarnya.

Hal tersebut, tambahnya, terbukti dari Rasio Alat Likuid per Kredit tidak turun, malah naik menjadi sekitar 27%. “Itu yang tentu saja harus kita cermati,” ujarnya.

Dengan demikian, jelasnya lagi, dari sisi penawaran preferensi bank yang menaruh alat likuid atau ekses likuiditasnya pada surat-surat berharga dibandingkan dengan mendorong kredit.

Selain itu, tambahnya, kehati-hatian bank dalam menyalurkan kredit terlihat dari standar pinjaman atau lending standard yang cenderung meningkat.

“Ini yang barangkali harus kita lihat dari sisi penawaran,” ujarnya.

Baca Juga :   Keponakan Presiden Prabowo Jadi Calon Deputi Gubernur BI, Independensi Bank Sentral Terancam?

Dari sisi permintaan, jelasnya, belum seluruh sektor tumbuh tinggi, seperti sektor ekonomi yang berorientasi ekspor serta sektor-sektor berorientasi pada ekonomi domestik, seperti perdagangan, konstruksi, transportasi, dan juga sektor-sektor jasa.

Karena itu, ia mengatakan, upaya mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia perlu dilakukan bersama-sama, tidak hanya Bank Indonesia, tetapi juga Pemerintah dan dunia usaha.

“Kenapa dengan suku bunga BI kita turunkan, likuiditas terus kita tambahkan dan juga dalam strategi operasi moneter kita, juga dengan penambahan likuiditas kecenderungan suku bunga, tidak hanya BI Rate tetapi juga untuk tenor-tenor sampai dengan 12 bulan juga akan cenderung turun. Dan inilah yang kemudian juga akan mendorong perbankan akan lebih banyak mengalokasikan alat likuidnya bukan ke surat-surat berharga, tetapi juga ke kredit,” ujar Perry.

Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), tambah Perry, diharapkan juga akan semakin turun, sehingga akan mendorong perbankan menyalurkan kredit kepada dunia usaha.

“Tentu saja kami menyadari, bank akan hati-hati dalam melakukan asesmen sektor-sektor mana, korporasi mana, yang layak dalam mendapatkan kredit. Tetapi himbauan kami, yuk, bersama-sama turunkan suku bunga, yuk kita sama-sama mendorong kredit dan mari kita bersama-sama mendorong pertumbuhan ekonomi untuk negara kita dan juga untuk kesejahteraan rakyat,” ujarnya.

Baca Juga :   Rupiah Masih Terus Melemah, Bank Indonesia Diproyeksikan Menaikkan BI Rate Bulan Ini

Masih Ada Ruang Turunkan Lagi Suku Bunga Acuan

Perry mengatakan setelah sudah tiga kali menurunkan suku bunga acuan, ke depan masih ada ruang bagi BI menurunkannya kembali, sejalan dengan perkiraan inflasi dalam dua tahun ke depan yang makin rendah.

“Bahkan perkiraan inflasi inti ke depan akan tetap berada di bawah titik tengah sasaran 2,5%,” ujarnya.

Selain inflasi yang rendah, alasan lainnya adalah nilai tukar yang stabil, baik saat ini maupun ke depan. 

Penurunan suku bunga juga diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Ke depan, Bank Indonesia akan mencermati ruang penurunan suku bunga lebih lanjut dengan pertimbangan-pertimbangan tadi (inflasi yang rendah, stabilitas nilai tukar dan mendorong pertumbuhan ekonomi),” ujar Perry.

Mengenai waktu penurunan suku bunga, serta besarnya, tambah Perry, “akan kami sesuaikan dengan dinamika perekonomian global dan domestik.”

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics