Selain Air, IDPRO Sebut Ada Teknologi Lain untuk Pendingin AI di Pusat Data
Ilustrasi AI/Dok. IBM
Proses bekerjanya kecerdasan buatan (AI) memicu sistem pendinginan untuk meredam panas, pada ribuan chip komputer yang menjadi otak dalam proses operasional AI. Setiap perintah atau prompt yang ditugaskan menggerakan ribuan chip, sehingga menghasilkan panas yang perlu didinginkan, salah satunya dengan menggunakan air.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) memperkirakan, operasional pusat data AI BDx di kawasan Jatiluhur, Jawa Barat, mampu mengonsumsi air hingga 384 liter per detik, atau sekitar 33 ribu meter kubik per hari.
Dalam satu tahun, Walhi menyebutkan kebutuhan tersebut dapat mencapai sekitar 12 juta meter kubik air. Pengampanye urban keadilan Walhi Wahyu Eka Setyawan mengatakan, meski secara proporsional penggunaan air setara 0,20% dari total potensi ketersediaan air tahunan Waduk Jatiluhur, hal tersebut tetap menimbulkan beban ekologis yang signifikan. Pasalnya, pusat data AI itu beroperasi selama 24 jam setiap hari.
Berdasarkan hasil hitungan proyeksi beban lingkungan Walhi, kata Wahyu, pengambilan air untuk pusat data AI di Waduk Jatiluhur, setara dengan sekitar 7,87% dari kebutuhan air warga Karawang, atau setara kebutuhan air bersih harian lebih dari 220 ribu jiwa.
“AI memang menjadi bagian dari perkembangan teknologi yang tidak bisa dihindari. Namun pembangunan infrastruktur AI tidak boleh mengorbankan hak masyarakat atas air dan lingkungan hidup yang sehat. Jangan sampai atas nama transformasi digital, pemerintah justru menciptakan krisis ekologis baru yang bebannya ditanggung masyarakat,” kata Wahyu beberapa waktu lalu.
Sementara itu, Chairman Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) Hendra Suryakusuma menambahkan, pihaknya memang menjadikan isu penggunaan air dalam konteks yang tepat. Secara teknis, pusat data membutuhkan sistem pendinginan untuk menjaga temperatur perangkat komputasi agar tetap optimal.
Pada pusat data dengan beban komputasi AI yang padat, kata Hendra, kebutuhan pendinginan memang dapat meningkat. Namun, tidak serta-merta menjadikan setiap pusat data AI mengonsumsi air dalam jumlah besar. Volume penggunaan air disebut sangat bergantung pada desain fasilitas, teknologi pendinginan, kondisi iklim, lokasi, dan sumber air.
“Teknologi data center sendiri berkembang sangat cepat. Sistem pendinginan tidak hanya menggunakan metode evaporative cooling yang dapat mengonsumsi air, tetapi juga air cooling, liquid cooling, maupun closed-loop cooling,” kata Hendra saat dihubungi.
Bahkan, kata Hendra, teknologi closed-loop, dan direct to chip yang banyak dikembangkan untuk pengerjaan AI, pada cairan pendinginnya disirkulasikan kembali, sehingga bisa meminimalisir kebutuhan air baru selama operasional.
Misalnya, kata Hendra, Microsoft telah mengembangkan desain pusat data AI dengan closed-loop chip level yang tidak menggunakan air untuk proses pendinginan. Perusahaan asal Amerika Serikat itu melakukan evaporasi selama operasional AI.
“Di IDPRO kami sudah publish Green Data Center White Paper di 2022 dan tahun ini kami akan mengeluarkan Indonesia Data Center Index yang harapannya dalam 2-3 tahun ke depan akan menjadi standar,” ujar Hendra.
Pada tingkat global, kata Hendra, para pengembang pusat data AI terus berupaya untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air, dengan memanfaatkan indikator seperti water usage effectiveness (WUE). Kemudian, menggunakan closed-loop, dan liquid cooling untuk kinerja komputasi yang tinggi. Dan, memanfaatkan penggunaan ulang air, apabila memungkinkan, sehingga tidak bergantung pada air bersih.
Masih soal solusi, kata Hendra, perusahaan global pun mengambil langkah dengan memilih teknologi pendinginan yang disesuaikan dengan kondisi iklim, dan ketersediaan air lokal. Juga meningkatkan pemantauan dan transparansi penggunaan sumber daya.
“Praktik seperti reclaimed water, closed-loop cooling, pemantauan WUE, dan penyesuaian teknologi dengan kondisi lokal sudah diterapkan oleh berbagai operator global. AWS, misalnya, melaporkan global data-center WUE sebesar 0,12 liter per kWh beban IT pada 2025,” tutur Hendra.
Dari perspektif IDPRO, kata Hendra, industri tentunya mendukung pertumbuhan pusat data dan AI lantaran menjadi bagian penting dari pembangunan ekonomi digital.
Meski demikian, kata Hendra, industri pun memahami pertumbuhan tersebut perlu diiringi dengan prinsip keberlanjutan. Untuk itu, IDPRO mendorong agar pengembangan pusat data ke depan semakin mengadopsi teknologi yang lebih efisien terhadap energi, dan air. Selain itu perlu mempertimbangkan kondisi sumber daya lokal pada tahap desain, dan menerapkan standar, serta best practice internasional yang relevan dengan kondisi Indonesia.
“Jadi menurut kami, isu penggunaan air ini bukan untuk diabaikan, tetapi juga tidak perlu dilihat secara hitam-putih. Yang paling penting adalah bagaimana industri, pemerintah, penyedia teknologi, dan pemangku kepentingan bersama-sama memastikan bahwa pertumbuhan infrastruktur AI di Indonesia dapat berlangsung secara responsible, efficient, dan sustainable, tanpa mengorbankan kepentingan masyarakat terhadap sumber daya air,” ujar Hendra.