Asuransi Maximus Graha Persada Berbalik Rugi pada Semester I-2026, Manajemen Beberkan Penyebabnya
Jajaran manajemen PT Asuransi Maximus Graha Persada Tbk/Foto: Dok.Perusahaan
PT Asuransi Maximus Graha Persada Tbk membukukan rugi neto tahun berjalan sebesar Rp124,24 miliar pada semester I-2026. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu perseroan masih mencatat laba neto sebesar Rp793,3 juta. Pelemahan kinerja terutama dipengaruhi oleh kerugian investasi yang membebani hasil bersih asuransi dan investasi.
Dari sisi pendapatan, pendapatan jasa asuransi tercatat sebesar Rp634,64 miliar pada enam bulan pertama 2026, turun sekitar 6,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp680,22 miliar. Di sisi lain, beban jasa asuransi juga menurun menjadi Rp133,76 miliar dari Rp156,16 miliar pada semester I-2025.
Penurunan pendapatan tersebut turut menekan hasil jasa asuransi bersih menjadi Rp19,81 miliar, dari Rp35,64 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, perseroan membukukan hasil investasi neto negatif sebesar Rp118,93 miliar, jauh lebih dalam dibandingkan rugi investasi Rp4,58 miliar pada semester I-2025. Kondisi tersebut membuat hasil bersih asuransi dan investasi berbalik menjadi negatif Rp106,13 miliar, dari sebelumnya masih mencatat surplus Rp23,72 miliar.
Di tingkat operasional, beban usaha meningkat menjadi Rp20,89 miliar dari Rp17,64 miliar pada semester I-2025. Perseroan juga membukukan pendapatan lain-lain bersih sebesar Rp2,58 miliar, namun belum mampu mengimbangi tekanan dari penurunan hasil investasi sehingga rugi sebelum pajak mencapai Rp124,44 miliar. Setelah memperhitungkan manfaat pajak tangguhan sebesar Rp191,55 juta, rugi neto tahun berjalan tercatat Rp124,24 miliar.
Dalam keterangan pers yang diterima Theiconomics.com, manajemen PT Asuransi Maximus Graha Persada Tbk menyatakan bahwa kinerja semester I-2026 perlu dipahami secara komprehensif dengan mempertimbangkan dinamika pasar keuangan sepanjang periode tersebut. Di tengah meningkatnya volatilitas pasar, perseroan menegaskan tetap berkomitmen menjaga fundamental bisnis, menerapkan tata kelola perusahaan yang baik, serta menjalankan pengelolaan risiko dan investasi secara prudent.
Direktur Utama PT Asuransi Maximus Graha Persada Tbk, Jemmy Atmadja, mengatakan dinamika pasar merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari siklus industri jasa keuangan. Karena itu, fokus perseroan tetap diarahkan pada penguatan fundamental, pengelolaan risiko yang disiplin, serta penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.
”Kami memahami bahwa kondisi pasar dan iklim investasi pada semester I 2026 menghadirkan tantangan bagi industri jasa keuangan. Namun, fokus kami tidak berubah, yaitu menjaga fundamental Perseroan tetap kuat, memperkuat kualitas bisnis, dan memastikan seluruh komitmen kepada nasabah, mitra usaha, investor, dan pemegang saham tetap terpenuhi dengan baik. Kami percaya bahwa tata kelola yang baik, manajemen risiko yang prudent, dan strategi bisnis yang konsisten akan menjadi fondasi pertumbuhan Perseroan yang berkelanjutan,” ujar Jemmy Atmadja.
Menurut perseroan, sepanjang semester I-2026 pasar keuangan domestik mengalami volatilitas yang cukup tinggi seiring meningkatnya persepsi risiko investor terhadap Indonesia. Kondisi tersebut tercermin pada pergerakan pasar saham, pasar obligasi, dan nilai tukar rupiah yang memengaruhi valuasi berbagai instrumen investasi.
Perseroan menilai kondisi tersebut merupakan bentuk market risk yang dirasakan secara luas oleh pelaku industri keuangan, termasuk perusahaan.
Direktur Perseroan, Norvin Osel, mengatakan tekanan terhadap hasil investasi pada semester I-2026 lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi pasar dibandingkan perubahan fundamental portofolio investasi perseroan.
“Meningkatnya country risk Indonesia pada periode tersebut memberikan dampak terhadap volatilitas pasar saham, obligasi, dan nilai tukar Rupiah. Kondisi tersebut memengaruhi valuasi berbagai instrumen investasi dan berdampak pada penilaian portofolio investasi berbagai pelaku pasar, termasuk Perseroan. Dengan demikian, tekanan terhadap hasil investasi pada Semester I 2026 lebih mencerminkan dinamika pasar dibandingkan perubahan fundamental aset investasi yang kami miliki,” jelas Norvin Osel.
Norvin menambahkan, sebagian besar penurunan nilai investasi yang dicatat perseroan bersifat sementara dan masih berupa unrealized loss, sehingga belum menjadi kerugian yang direalisasikan.
“Portofolio investasi Perseroan tetap ditempatkan pada instrumen yang memiliki fundamental yang baik dan dikelola secara disiplin sesuai kebijakan investasi serta prinsip kehati-hatian. Oleh karena itu, penurunan nilai yang terjadi pada semester I 2026 merupakan refleksi kondisi pasar pada periode pelaporan dan belum mencerminkan realisasi kerugian atas aset investasi Perseroan,” tambah Norvin.
Ke depan, perseroan akan terus memperkuat kualitas underwriting, menjaga disiplin dalam pengelolaan investasi, meningkatkan efisiensi operasional, serta mengedepankan manajemen risiko yang prudent guna mendukung pertumbuhan usaha yang sehat dan berkelanjutan.
Menutup pernyataannya, Jemmy Atmadja menegaskan bahwa kepercayaan seluruh pemangku kepentingan akan selalu menjadi prioritas utama perseroan.
“Kepercayaan merupakan aset terpenting dalam industri asuransi. Oleh karena itu, kami akan terus menjaga kesehatan Perseroan, memperkuat tata kelola, mengelola risiko secara prudent, serta memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh nasabah dan mitra usaha. Kami meyakini bahwa fundamental yang kuat, disiplin dalam menjalankan strategi, dan pengelolaan risiko yang baik akan menjadi modal utama Perseroan dalam menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan,” tutup Jemmy Atmadja.