BASF Bersama Eramet Kembangkan Pemurnian Hidrometalurgi di Teluk Weda
Ilustrasi kemitraan BASF dan Eramet/Dok. BASF
BASF dan Eramet telah menandatangani kesepakatan untuk bersama-sama melakukan studi mengenai pengembangan kompleks pemurnian hidrometalurgi nikel dan kobalt yang mutakhir.
Proyek ini akan mencakup pabrik High-Pressure Acid Leaching (HPAL) dan Base Metal Refinery (BMR). HPAL akan berlokasi di Teluk Weda, Indonesia, sementara lokasi BMR akan ditentukan pada saat studi kelayakan.
Proyek ini menargetkan fasilitas HPAL dan BMR mulai beroperasi pada pertengahan 2020-2030 dan akan memulai studi kelayakan fase pertama dengan pendanaan terbatas.
“Bersama Eramet, kami memiliki mitra yang bertanggung jawab dan berpengalaman untuk memasok bahan baku bagi produksi bahan baterai kami,” kata Presiden divisi Katalis di BASF Dr. Peter Schuhmacher dalam siaran pers.
“Sebagai pemasok global, BASF menawarkan solusi lengkap dari logam hingga produk CAM yang inovatif untuk mendukung pelanggan bahan baterai kami di seluruh dunia,” lanjutnya.
Pabrik HPAL akan memproses bijih dari deposit Teluk Weda untuk memproduksi produk antara (intermediate) dari nikel dan kobalt. Sejak akuisisi Teluk Weda pada tahun 2007, Eramet telah melakukan studi geologi yang mendalam dan mengonfirmasi potensi deposit kelas dunia yang operasi penambangannya telah dimulai pada akhir tahun 2019. BMR akan memasok nikel dan kobalt untuk memproduksi precursor cathode active materials (PCAM) dan kemudian cathode active materials (CAM) untuk baterai ion litium pada kendaraan listrik.
Akses terhadap bahan baku, terutama nikel, merupakan komponen penting dalam mendukung pertumbuhan dalam rantai nilai kendaraan listrik dunia. Permintaan CAM dengan kadar nikel tinggi mengalami peningkatan untuk memenuhi kebutuhan baterai dengan tingkat kepadatan energi yang lebih tinggi serta mengurangi harga baterai secara keseluruhan, dan sumber daya Teluk Weda termasuk di antara yang paling kompetitif secara global untuk memenuhi permintaan ini. Pengembangan yang direncanakan akan memberikan BASF sumber tambahan 42.000 metrik ton nikel dan 5.000 metrik ton kobalt setiap tahunnya dari tambang yang beroperasi menurut standar keberlanjutan internasional.