Hingga Mei Masih Surplus, Defisit APBN Tahun Ini Diperkirakan Jauh Lebih Kecil
Menteri Keuanga Sri Mulyani Indrawati
Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Mei 2022 lalu masih mencatatkan surplus karena pendapatan negara yang jauh lebih tinggi dibandingkan belanja. Namun, Kementerian Keuangan memperkirakan hingga akhir tahun nanti, kesimbangan APBN akan mengalami defisit, tetapi akan jauh lebih kecil dari yang dianggarkan.
Menteri Keuanga Sri Mulyani Indrawati memaparkan sepanjang Januari-Mei 2022, total pendapatan negara mencapai Rp1.070,4 triliun, tumbuh 47,3% dibanding periode yang sama tahun lalu. Semua pos penerimaan, yaitu pajak, bea & cukai, serta Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) mengalami kenaikan yang siginifikan.
Penerimaan pajak melanjutkan tren pertumbuhan positif seiring dengan pemulihan aktivitas ekonomi, yaitu tumbuh sebesar 53,6% menjadi Rp705,8 triliun. Demikian juga penerimaan bea dan cukai tumbuh sebesar 41,3% menjadi Rp140,3 triliun. PNBP tumbuh sebesar 33,7% menjadi Rp224,1 triliun.
Sri Mulyani mengatakan kemungkinan penerimaan negara pada tahun ini Rp420 triliun lebih tinggi dari yang dianggarkan di dalam APBN yaitu Rp1.846 triliun. Peningkatan pendapatan negara ini terjadi karena pemulihan ekonomi yang kuat, kenaikan harga komoditas dan berbagai insentif perpanjakan yang tidak diberikan lagi pada tahun ini.
Berbeda dengan pendapatan yang tumbuh agresif, pada sisi belanja justru terjadi perlambatan. Tahun 2022 ini, belanja negara dianggarkan sebesar Rp2.714 triliun. Sri Mulyani mengungkapkan hingga Mei, realisasi belanja negara sudah mencapai Rp938,2 triliun, mengalami kontraksi sebesar 0,8% dibandingkan realisasi belanja pada periode yang sama tahun lalu.
Kontraksi terdalam terutama pada pos belanja Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) yang turun sebesar 4,6% menjadi Rp284,3 triliun. “Ini karena beberapa item di TKDD yaitu DBH (Dana Bagi Hasil), DAK (Dana Alokasi Khusus) Fisik, DAK Non Fisik, DID (Dana Insentif Daerah) semuanya mengalami kontraksi yang cukup dalam, walapun DAU (Dana Alokasi Umum) naik,” jelas Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita untuk bulan Mei 2022, Kamis (23/6).
Sementara Belanja Pemerintah Pusat (BPP) hingga Mei 2022 sudah teralisasi sebesar Rp653,9 triliun, naik 1% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Sri Mulyani mengatakan realisasi belanja hingga Mei 2022 ini belum menggambarkan tambahan subsidi dan kompensasi energi. Diperkirakan tambahan belanja akibat kenaikan belanja subsidi dan kompensasi ini mencapai sekitar Rp380 triliun.
“Jadi, nanti postur pendapatan kita naik Rp420 triliun estimasinya, belanja juga akan naik sekitar Rp400 triliun,” ujarnya.
Dengan kondisi penerimaan dan belanja tersebut, hingga Mei 2022, keseimbangan primer APBN 2022 mengalami surplus sebesar Rp298,9 triliun. Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, surplus keseimbangan primer ini mengalami pembalikan yang signifikan dari defisit sebesar Rp67,4 triliun pada Mei 2021 lalu. “Ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa untuk menjaga momentum konsolidiasi fiskal kita,” ujar Sri Mulyani.
Secara keseluruhan, total keseimbangan APBN 2022 sampai Mei 2022 surplus sebesar Rp132,2 triliun atau surplus 0,74% terhadap PDB. Keseimbangan total ini juga mengalami pembalikan dari defisit sebesar Rp219,2 triliun pada Mei 2021 atau defisit 1,29% terhadap PDB.
Sri Mulyai mengatakan APBN 2022 didesain dengan perkiraan defisit sebesar Rp868 triliun atau 4,85% dari PDB. “Namun, kalau dilihat dari situasi Mei yang masih surplus, kita nanti berharap pada akhir tahun defisitnya tidak akan sebesar Rp868 triliun, akan bisa diturunkan secara signifikan. Ini menggambarkan kesehatan dari APBN akan mulai kita pulihkan,” ujarnya.
Dengan postur pendapatan dan belanja yang surplus ini, realisasi pembiayaan hingga Mei mencapai Rp83,3 triliun, turun 73,2% dari nilai pembiayaan tahun lalu sebesar Rp310,4 triliun. “Pembiayaan dalam bentuk penerbitan surat utang mengalami penurunan yang luar biasa drastis,” ujar Sri Mulyani.