Hasil Underwriting Turun Signifikan, Asuransi Umum Catat Kerugian Hingga September 2024
Pengurus Asosiasi Asuransi Umum Indonesia [AAUI] memaparkan kinerja industri asuransi periode Januari-September 2024 di Kantor AAUI, Selasa (3/12)/Foto: Theiconomics.com
Meski pendapatan premi mengalami pertumbuhan, namun industri asuransi umum Indonesia dalam kondisi “tidak baik-baik saja”. Secara keseluruhan hingga akhir kuartal ketiga 2024, industri asuransi umum tanah air mencatatkan kerugian karena penurunan signifikan pada hasil underwriting.
Hasil underwriting merujuk pada pendapatan yang diperoleh dari selisih pendapatan premi dan beban underwriting, yaitu beban klaim dan beban operasi.
Merujuk data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Trinita Situmeang, Wakil Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia [AAUI] untuk Bidang Statistik & Riset, mengungkapkan, per September 2024, asuransi umum membukukan hasil underwriting sebesar Rp7,21 triliun, turun 48,38%, dari Rp13,96 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Tak hanya asuransi umum, industri reasuransi juga mencatatkan penurunan hasil underwriting sebesar 62,89% pada akhir triwulan III 2024, dari Rp1,22 triliun menjadi Rp0,45 triliun.
“Selama sembilan bulan 2024, memang secara kumulatif hasil underwriting mengalami kontraksi yang dapat disebabkan oleh pertumbuhan klaim, termasuk di dalamnya klaim dibayar dan juga aktivitas pencadangan yang dilakukan di masing-masing perusahaan asuransi umum dan reasuransi sebagai konsekuensi dari kenaikan atau pertumbuhan premi,” ujar Trinita.
AAUI mencatat, sepanjang Januari-September 2024, anggotanya membukukan pendapatan premi sebesar Rp79,6 triliun, naik 14,5% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Di sisi lain, AAUI juga melaporkan pembayaran klaim yang telah dilakukan oleh industri asuransi umum pada periode Januari-September 2024 mencapai Rp33,3 triliun,naik 18,5%.
Dari sisi investasi, sepanjang Januari-September 2024, industri asuransi umum membukukan peningkatan signifikan pada pendapatan investasi, yaitu tumbuh 38,09%, dari Rp3,81 triliun pada akhir triwulan III 2023 menjadi Rp5,26 triliun pada akhir triwulan III 2024.
Namun, pertumbuhan hasil investasi ini tak banyak menolong performa bottom line industri asuransi umum. Merujuk data OJK, sebagaimana dipaparkan Trinita, industri asuransi umum membukukan rugi bersih setelah pajak sebesar Rp1,71 triliun, turun 128,89% dari laba sebesar Rp5,92 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Ketua AAUI, Budi Herawan mengatakan, secara umum, industri asuransi umum memang masih ditopang oleh “investasi”.
Namun, Budi waswas tahun depan pendapatan dari hasil investasi ini juga tergerus akibat penurunan suku bunga dan juga efek terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat.
“Tentunya investasi di tahun 2025 akan ke-hit juga di kita, karena Bank Indonesia sudah merencanakan untuk menurunkan tingkat suku bunga SBI. Belum lagi kita tahu, efek Trump ini juga berpengaruh kepada Indonesia,” ujarnya.