Danantara Mau Garap Proyek Sampah untuk Listrik, Inilah 5 Negara di Asia yang Sudah Lebih Dulu Punya Waste-to-Energy

0
125

Pemerintah telah menginisiasi program Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan melalui Pengolahan Sampah Menjadi Energi Terbarukan Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.

Danantara mendukung pelaksanaan Perpres tersebut dengan berinvestasi pada proyek waste-to-energy (WtE) dengan teknologi mutakhir. Dalam Investment Forum 2025 akhir tahun 2025 lalu, Managing Director Investment Danantara, Stefanus Ade Hadiwidjaja mengatakan mengacu data Kementerian Lingkungan Hidup, program WtE dapat menyelesaikan 10% masalah sampah di Indonesia.

Negara-negara lain telah memanfaatkan sampah sebagai sumber energi. Beberapa diantaranya adalah Singapura, Jepang, Korea Selatan dan China.

 

Singapura

Singapura sudah memiliki tiga proyek WtE, salah satunya adalah Tuas South Incineration Plant yang menjadi fasilitas pengelolaan sampah terbesar di negara tersebut. Proyek ini memiliki kemampuan mengolah 3 ribu ton sampah per hari, fasilitas ini mampu menghasilkan 80 megawatt (MW) listrik.

Proyek lainnya adalah TuasOne WTE Plant yang mulai dioperasikan pada 2021. Fasilitas ini memiliki kapasitas membakar 3.600 ton setiap hari dengan menghasilkan 120 MW listrik. Berikutnya adalah Keppel Seghers Tuas. Pengelolaan WTE ini menampilkan model kemitraan antara publik-swasta yang sukses. Menangani 800 ton sampah setiap hari, fasilitas ini menghasilkan 22 MW melalui struktur pembiayaan yang cukup inovatif.

Baca Juga :   Celios: RUU PFII Berpotensi Hambat Investasi Hijau di Indonesia

Di Singapura, model pembiayaannya melibatkan peran swasta sehingga dapat mengurangi beban pada pemerintah.

 

Jepang

Jepang memiliki dua fasilitas WtE, yakni Hikarigaoka Plant dan Toshima Plant. Pada Hikarigaoka Plant yang berada di Tokyo, volume sampah yang diproses per harinya sebanyak 300 ton dengan turbin uap 9 MW. Pembangkit ini mampu menyediakan listrik dan kebutuhan pemanasan untuk distrik di kota Tokyo.

Fasilitas WtE lainnya adalah Toshima Plant yang juga berada di Tokyo. Pengelolaan sampah di tempat ini memiliki kapasitas 400 ton per hari dan mampu menghasilkan listrik 7,8 MW serta membantu memasok listrik untuk 20.000 rumah.

 

Korea Selatan

Korea Selatan setidaknya ada lebih dari 35 pembangkit WtE termal beroperasi di bawah standar pengelolaan lingkungan yang ketat.

Korea Selatan memperlihatkan bagaimana pengelolaan sampah secara terintegrasi dalam bentuk jaringan mampu menjadi solusi sekaligus suplai kebutuhan listrik yang membuatnya telah mendapatkan respons publik secara positif.

 

China

China memiliki ratusan pabrik pengolahan limbah menjadi energi (WtE) yang tersebar di berbagai kota selama 15 tahun terakhir. Peluncuran cepat ini merupakan salah satu respons paling agresif di dunia terhadap lonjakan limbah perkotaan yang mampu memproses volume besar limbah padat kota untuk pembangkitan listrik.

Baca Juga :   BGN Pastikan Pengadaan Motor Listrik Menggunakan Anggaran 2025 dan Jadi BMN

China menunjukkan bahwa ekonomi berkembang dapat mencapai skala melalui komitmen pemerintah yang kuat, regulasi yang disederhanakan, dan mekanisme pembiayaan strategis. Beberapa pabrik dibangun secara bersamaan di berbagai kota, menciptakan efisiensi pengadaan dan manfaat transfer teknologi.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics