Bank Dunia Proyeksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,2% pada 2026, AI Jadi Penopang Pertumbuhan Kawasan
Chief Economist Bank Dunia untuk kawasan Asia, Franziska Ohnsorge
Bank Dunia (World Bank) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap sebesar 5,2% pada 2026 dan 2027, di tengah prospek pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik (East Asia & Pacific / EAP) yang turut dipengaruhi perkembangan ekonomi berbasis kecerdasan buatan (AI).
Proyeksi 2026 tersebut naik 0,5 poin persentase dibandingkan perkiraan sebelumnya. Bank Dunia menilai dampak kenaikan harga energi terhadap Indonesia sejauh ini lebih rendah dari perkiraan, sementara aktivitas ekonomi juga mendapat dukungan dari peningkatan program prioritas pemerintah, investasi yang terkait dengan pemerintah, serta subsidi energi.
Dalam laporan terbarunya berjudul East Asia & Pacific Economic Update: Riding the AI Wave, Bank Dunia mencatat ekonomi Indonesia mengawali 2026 dengan kinerja yang kuat, ditandai oleh pertumbuhan PDB sebesar 5,4% pada semester I-2026. Kinerja tersebut ditopang konsumsi rumah tangga, belanja publik, dan program bantuan sosial.
Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2% pada 2026, 5,2% pada 2027, dan 5,3% pada 2028.
Namun, laporan tersebut juga mengingatkan bahwa dukungan kebijakan terhadap pertumbuhan jangka pendek berkontribusi terhadap pelebaran ketidakseimbangan fiskal dan eksternal. Defisit transaksi berjalan Indonesia diperkirakan melebar menjadi 1,5% dari PDB pada 2026. Ketika stimulus fiskal mulai berkurang, pertumbuhan dalam jangka menengah diperkirakan akan semakin bergantung pada investasi swasta. Inflasi juga diperkirakan berada di sekitar batas atas sasaran bank sentral.
Chief Economist Bank Dunia untuk kawasan Asia, Franziska Ohnsorge, menjelaskan bahwa peningkatan aktivitas global terkait AI menjadi salah satu faktor yang mendukung pertumbuhan negara-negara di kawasan yang terintegrasi dalam rantai pasok produk berbasis AI.
“Di kawasan Asia Timur dan Pasifik, lonjakan global dalam aktivitas terkait AI mendorong pertumbuhan di negara-negara yang berpartisipasi dalam rantai pasok global untuk produk berteknologi AI. Namun di tempat lain di kawasan ini, tingginya harga energi memberikan tekanan pada prospek pertumbuhan,” ujar Franziska dalam Media Advisory secara virtual, Selasa (6/10).
Secara keseluruhan, Bank Dunia memperkirakan ekonomi Asia Timur dan Pasifik tumbuh 4,5% pada 2026, naik 0,3 poin persentase dari proyeksi April 2026. Untuk periode 2026–2028, pertumbuhan kawasan diperkirakan rata-rata 4,4% per tahun. Kenaikan proyeksi terutama berasal dari kuatnya investasi teknologi tinggi dan ekspor negara-negara yang terhubung dengan rantai nilai global AI.
Produk terkait AI bahkan menyumbang sekitar separuh pertumbuhan ekspor di sejumlah negara Asia Timur. Di Filipina, Malaysia, dan Thailand, produk tersebut mencakup lebih dari 70% ekspor. Negara yang semakin terintegrasi dalam rantai nilai AI juga mengalami revisi proyeksi pertumbuhan ekspor yang lebih besar.
Namun, Bank Dunia mencatat bahwa pertumbuhan perdagangan di luar produk terkait AI masih lemah atau bahkan negatif. Dengan demikian, AI telah menjadi salah satu penopang utama perdagangan dan aktivitas ekonomi kawasan ketika sejumlah sumber pertumbuhan lainnya melemah.
Ketergantungan tersebut juga membuat kawasan menghadapi risiko baru. Lonjakan investasi AI global selama ini didukung oleh suku bunga rendah dan likuiditas yang melimpah. Jika kondisi keuangan mengetat, perlambatan investasi AI dapat berdampak melalui pasar keuangan sekaligus menekan permintaan terhadap ekspor dan investasi.
Indonesia menjadi salah satu pengecualian dari pola tersebut. Berbeda dengan Malaysia, Thailand, atau negara lain yang mendapat manfaat dari integrasi rantai pasok AI, Indonesia belum memperoleh keuntungan langsung dari integrasi rantai nilai AI. Namun, pertumbuhan permintaan domestik Indonesia dinilai tetap sehat.
“Indonesia contohnya, tidak mendapatkan keuntungan dalam hal integrasi AI, tetapi tuntutan di dalam negerinya itu semakin besar atau kuat,” kata Franziska.
Karena itu, sumber pertumbuhan Indonesia dalam jangka pendek tidak terutama berasal dari ekspor barang terkait AI. Laporan Bank Dunia menunjukkan peran program pemerintah dan permintaan domestik dalam menopang aktivitas ekonomi.
Adopsi AI Masih Rendah
Di sisi teknologi, Bank Dunia menilai pengaruh AI terhadap industri di kawasan Asia Timur dan Pasifik sudah terlihat jelas, tetapi dampaknya terhadap sektor ekonomi lainnya masih terbatas. Adopsi AI oleh individu maupun perusahaan meningkat, tetapi masih dari tingkat yang rendah dan tertinggal dibandingkan negara maju.
Franziska mengatakan perusahaan menghadapi sejumlah kendala dalam mengadopsi AI, antara lain biaya yang tinggi, keterbatasan pengetahuan dan keterampilan yang relevan, serta kekhawatiran mengenai keamanan dan privasi data.
Survei Bank Dunia terhadap perusahaan di tujuh negara menunjukkan, misalnya, hanya 12% perusahaan di Thailand yang menggunakan teknologi AI dan 4% yang membayar langganan perangkat lunak atau sistem AI. Di Amerika Serikat, angkanya masing-masing mencapai 43% dan 23%.
Laporan tersebut juga mencatat penggunaan GenAI oleh individu di negara-negara berkembang di kawasan masih jauh di bawah negara maju. Di negara maju, sekitar 33% individu telah menggunakan GenAI, sementara proporsinya di negara-negara berkembang EAP masih lebih rendah.
Meski demikian, Franziska mengatakan permintaan terhadap AI mulai meningkat dan semakin banyak perusahaan yang mengadopsinya. Perkembangan ini juga mulai memengaruhi kebutuhan keterampilan di pasar kerja.
“Ketika perusahaan menuntut adanya keterampilan AI, mereka tidak hanya menuntut keterampilan yang berkaitan dengan AI. Mereka biasanya menuntut keterampilan berkaitan AI dengan keterampilan yang lain,” kata Franziska.
Menurut laporan, sekitar 1% lowongan kerja daring di negara-negara berkembang EAP membutuhkan keterampilan terkait AI. Angka ini masih di bawah Singapura yang mencapai 6%, serta Polandia dan India yang berada di kisaran 2–3%.
Kebutuhan terhadap keterampilan yang melengkapi AI justru mulai meningkat.
“Dan ada beberapa keterampilan yang muncul berkali-kali di pekerjaan yang berkaitan dengan AI. Proporsi ini 4 sampai 16 kali lebih sering dibandingkan dengan pekerjaan biasa,” ujarnya.
Keterampilan tersebut antara lain kemampuan analitis seperti matematika dan berpikir kritis, serta keterampilan sosial seperti komunikasi dan kolaborasi. Laporan Bank Dunia menyebut keterampilan-keterampilan tersebut sebagai keterampilan yang melengkapi kemampuan AI.
Small AI Jadi Jalur yang Lebih Realistis
Bank Dunia tidak melihat seluruh negara harus membangun model AI tercanggih untuk memperoleh manfaat dari teknologi tersebut. Untuk sebagian besar negara di kawasan, laporan menyebut adopsi dan adaptasi teknologi AI yang sudah tersedia, terutama aplikasi small AI, sebagai jalur utama untuk memperoleh manfaat AI dalam jangka pendek.
Pengembangan Large Language Model (LLM) memang masih terkonsentrasi di beberapa negara, terutama Amerika Serikat dan China. Sebaliknya, pengembangan aplikasi small AI di sejumlah negara Asia Timur dan Pasifik meningkat pesat, meskipun skalanya masih di bawah negara maju seperti Korea Selatan dan Amerika Serikat.
Menurut laporan, negara-negara berkembang dapat memperoleh manfaat AI melalui tiga tahap, yakni mengadopsi teknologi yang sudah tersedia, menyesuaikannya dengan kebutuhan lokal, kemudian mengembangkan teknologi tersebut. Semakin tinggi tahapannya, semakin besar pula kebutuhan investasi, keterampilan, dan infrastruktur.
Perkembangan AI juga membawa konsekuensi terhadap kebutuhan energi. Investasi pusat data meningkat di sejumlah negara Asia Timur dan Pasifik dalam tujuh tahun terakhir. Bank Dunia memperkirakan biaya energi mencapai 65% dari biaya operasional tahunan pusat data.
Sebagai gambaran, pusat data AI berkapasitas 500 megawatt—yang menjadi salah satu standar industri untuk pelatihan AI—dapat mengonsumsi hampir 15% dari beban dasar listrik rata-rata negara berkembang di Asia Timur dan Pasifik. Sementara itu, permintaan listrik pusat data terkait AI secara global meningkat 17% pada 2025.
Kondisi tersebut membuat penguatan kapasitas pembangkitan dan jaringan listrik menjadi penting jika kawasan ingin memperluas penggunaan AI tanpa meningkatkan kerentanan terhadap pasokan energi fosil.
Franziska juga menekankan pentingnya peningkatan pasokan energi, terutama energi terbarukan, untuk memenuhi kebutuhan listrik yang meningkat sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Risiko Energi dan El Niño
Di tengah manfaat AI, Bank Dunia memperingatkan bahwa harga energi yang bertahan tinggi dalam waktu lama dapat menekan pertumbuhan. Kebijakan untuk menahan dampak harga energi juga berisiko menjadi tidak berkelanjutan apabila harga tetap tinggi, terutama di negara dengan ruang fiskal yang terbatas.
Tekanan tersebut sudah terlihat pada inflasi kawasan. Meski dampak harga energi terhadap pertumbuhan sejauh ini lebih kecil dari perkiraan, tekanan inflasi meningkat pada 2026 dan diperkirakan tetap tinggi hingga 2027.
Risiko lain berasal dari El Niño yang jauh lebih kuat sebenarnya.
“Kita sudah berasumsi bahwa produksi pertanian itu akan mengalami penurunan karena El Niño. Ini adalah El Niño yang terberat, tetapi mungkin selama ini kita mengecilkan kerugiannya yang ditimbulkan oleh El Niño,” ujar Franziska.
Laporan Bank Dunia menyebut probabilitas terjadinya El Niño yang sangat kuat tahun ini cukup tinggi. Pengalaman sebelumnya menunjukkan El Niño yang kuat dapat memicu gelombang panas, kekeringan, banjir, dan gagal panen. Dampaknya juga berpotensi lebih berat bagi kelompok miskin dan rentan melalui peningkatan risiko ketahanan pangan.
Infrastruktur dan Keterampilan Jadi Kunci
Dalam jangka panjang, Bank Dunia menilai AI dapat meningkatkan produktivitas dan menciptakan pekerjaan yang lebih produktif jika didukung investasi pada infrastruktur dan keterampilan. Pemerintah juga memiliki peran sebagai penggerak, pengguna, sekaligus regulator AI.
Laporan merekomendasikan penguatan fondasi digital, peningkatan penggunaan AI dalam pelayanan publik, penguatan kesiapan kelembagaan dan regulasi, serta kerja sama antarnegara di kawasan. Infrastruktur yang lebih andal dan tenaga kerja yang memiliki keterampilan memadai dinilai dapat memberikan manfaat ganda, yakni memperluas pemanfaatan AI sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi secara lebih luas.
Di luar sektor teknologi, Bank Dunia juga melihat pariwisata dan agribisnis sebagai sektor yang berpotensi menciptakan lapangan kerja dalam skala besar. Kedua sektor tersebut memiliki hambatan masuk yang relatif rendah, kebutuhan modal awal yang lebih kecil, serta karakter produksi yang lebih padat karya.
Dengan demikian, laporan Bank Dunia tidak melihat AI semata sebagai sumber pertumbuhan baru, tetapi juga sebagai teknologi yang perlu diintegrasikan dengan penguatan infrastruktur, energi, keterampilan, dan sektor-sektor ekonomi yang mampu menciptakan lapangan kerja.