BI Rate Digunting, Likuiditas Ditambahkan, Bank Indonesia Dorong Perbankan Turunkan Suku Bunga Kredit

0
51

Selain melonggarkan kebijakan moneter dengan menurunkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%, Bank Indonesia juga mengeluarkan sejumlah kebijakan makroprudensial untuk menambah likuiditas perbankan.

Harapannya, suku bunga kredit diturunkan untuk menggerakan sektor riil sehingga pertumbuhan ekonomi kembali terpacu.

Dalam beberapa bulan terakhir ini, laju pertumbuhan kredit perbankan mengalami penurunan. Juda Agung, Deputi Gubernur Bank Indonesia mengatakan, penurunan pertumbuhan kredit dalam dua bulan terakhir terutama terjadi karena penurunan permintaan (demand), meski Bank Indonesia juga melihat ada keterbatasan dari sisi supply yaitu pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK).

Karena itu, Juda mengatakan kebijakan makroprudensial Bank Indonesia pun diarahkan pada upaya untuk menambah sumber pendanaan perbankan, bukan hanya dari domestik, tetapi juga dari luar negeri dengan cara meningkatkan Rasio Pendanaan Luar Negeri Bank (RPLN) dari maksimum 30% menjadi 35% dari modal bank.

“Kami melihat ada bank-bank tertentu yang pendanaannya di dalam negeri sudah semakin terbatas itu sudah mulai mendapatkan atau mencari sumber pembiayaan dari luar negeri. Ini kita fasilitasi dengan RPLN ini yang dulu maksimum 30%, sekarang menjadi 35%. Jadi, ruangnya semakin lebar,” ujar Juda dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG) Mei 2025 pada Rabu (21/5).

Baca Juga :   Cadangan Devisa Turun, Nilainya Setara Pembiayaan 6 Bulan Impor

Kebijakan peningkatan rasio RPLN ini efektif mulai 1 Juni 2025.

Selain itu, untuk menambah likuiditas perbankan, Bank Indonesia juga menurunkan rasio Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM) sebesar 100 basis poin (bps), dari 5% menjadi 4% untuk Bank Umum Konvensional (BUK), dengan fleksibilitas repo sebesar 4%, dan rasio PLM syariah sebesar 100 bps dari 3,5% menjadi 2,5% untuk Bank Umum Syariah/Unit Usaha Syariah (BUS/UUS), dengan fleksibilitas repo sebesar 2,5%. 

Juda mengatakan kebijakan PLM yang juga efektif mulai 1 Juni ini diharapkan memberikan fleksibilitas kepada perbankan di dalam manajemen likuiditasnya, sehingga akan memberikan kelonggaran dalam mendorong pertumbuhan kredit.

Dari sisi permintaan (demand), tambahnya, penurunan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% diharapkan juga tertransmisi kepada penurunan suku bunga pinjaman (lending).

“Dengan penurunan suku bunga lending diharapkan sektor riil, korporasi, maupun rumah tangga juga akan meminta (kredit), karena biayanya lebih murah kalau pinjam dari bank. Jadi, ada interaksi antara dari sisi supply dan dari sisi demand,”ujar Juda.

Baca Juga :   Tok! Rapat Paripurna Setujui Ricky Perdana Sebagai Deputi Gubernur BI

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjioyo mengatakan selain mempertimbangkan inflasi yang rendah dan stabilitas rupiah yang terjaga, penurunan BI Rate sebesar 25 basis poin juga dilakukan untuk  mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Sinergi Bank Indonesia dengan pemerintah sangat-sangat erat untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi,” kata Perry.

Perry mengatakan pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia yang disinergikan dengan kebijakan makroprudensial yaitu  meningkatkan RPLN dan menurunkan rasio PLM, bertujuan untuk mendorong kecukupan likuiditas, terutama di perbankan.

“Secara keseluruhannya, Bank Indonesia dari makroprudensial, moneter maupun sistem pembayaran, kita all out untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, bersinergi erat dengan pemerintah sesuai program Asta Cita, tidak hanya moneter, fiskal, tetapi juga sektor-sektor yang lain,” ujar Perry.

Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia mengatakan penurunan BI Rate diharapkan tertransmisi ke pasar uang dan pasar keuangan.

Destry mengatakan penurunan BI Rate pada Januari 2025 lalu sudah tertransmisi ke pasar uang yaitu ke Pasar uang antar bank (PUAB) semalam (overnight). 

Sejak kita menurunkan BI Rate di bulan Januari sebesar 25 basis poin, maka posisi terakhir (PUAB overnight), yaitu kemarin itu sudah terjadi penurunan yang cukup signifikan dari 6,03% menjadi 5,77%. Jadi, hampir sekitar 20 basis poin juga,” ujar Destry.

Baca Juga :   Kinerja Industri Ekonomi Keuangan Digital Selama Semester I-2021 dan Proyeksinya Hingga Akhir Tahun

Selain itu, kata Destry, juga terjadi penurunan imbal hasil atau yield Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

“Sebagai contoh, untuk yang di 12 bulan itu suku bunga SRBI itu sudah turun dari posisi Januari 7,27%, posisi di bulan Mei 6,47%,” ujarnya.

Di pasar keuangan, tambah Destry, yield Surat Berharga Negara (SBN) juga mengalami penurunan.  “Untuk yang 10 tahun, dari 6,98% menjadi 6,84%,” ujarnya.

Karena itu, Destry berkata, dengan penurunan BI Rate pada Mei ini, harapannya akan tertransmisikan juga ke pasar uang dan pasar keuangan ke depannya. “Sehingga tentunya ini akan menurunkan biaya modal atau biaya dana baik itu untuk perbankan atau pun untuk sistem keuangan secara keseluruhan,” ujarnya.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics