Kemendag Catat Surplus Perdagangan Senilai US$ 3,55 M di Periode Agustus 2026
– Menteri Perdagangan Budi Santoso resmi menutup perhelatan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-40 Tahun 2025 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD, Kabupaten Tangerang, Banten pada Minggu (19/10/2025)/Dok. Kemendag
Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat surplus perdagangan senilai US$ 3,55 miliar pada periode Agustus 2026. Nilainya meningkat bila dibandingkan dengan surplus Juli 2026 sebesar US$ 0,12 miliar.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, penguatan surplus perdagangan disebabkan dari meningkatnya surplus sektor non-migas sebesar US$ 6,09 miliar. Sedangkan sektor migas mengalami defisit sebesar US$ 2,54 miliar.
Budi melanjutkan, ada 3 komoditas utama penyumbang surplus non-migas yakni lemak dan minyak nabati sebesar US$ 3,95 miliar, bahan bakar mineral US$ 2,45 miliar, serta besi dan baja US$ 1,78 miliar.
Dari sisi negara, kata Budi, Amerika Serikat (AS) menjadi negara penyumbang surplus non-migas terbesar dengan nominal US$ 2,41 miliar. Kemudian India US$ 1,19 miliar, dan Malaysia US$ 0,83 miliar.
“Melonjaknya surplus neraca perdagangan pada Agustus 2026 membuktikan ketahanan sektor eksternal Indonesia yang terus terjaga,” kata Budi dalam keterangan resminya pada Rabu (7/10).
Surplus perdagangan pada Agustus 2026, kata Budi, berkontribusi terhadap surplus tahun berjalan (Januari-Agustus) sebesar US$ 7,25 miliar. Capaian itu menunjukkan fundamental Indonesia tetap tangguh di tengah dinamika global.
Secara tahun berjalan, kata Budi, ada 3 negara yang berkontribusi terhadap surplus perdagangan non-migas pada Januari-Agustus 2026. Adapun 3 negara itu yakni AS sebesar US$ 15,21 miliar, India US$ 9,15 miliar, dan Filipina US$ 5,48 miliar.
Selanjutnya, kata Budi, komoditas non-migas penyumbang surplus terbesar selama periode itu yaitu lemak dan minyak nabati US$ 24,91 miliar, bahan bakar mineral US$ 18,84 miliar, serta besi dan baja US$ 12,10 miliar.
“Selain itu, kinerja perdagangan ke sejumlah mitra dagang utama seperti AS, India, dan Filipina turut mendorong neraca perdagangan kita ke arah surplus,” ujarnya.