Menkraf: Arahan Presiden ke Danantara Bikin Skema Bisnis Bioskop Daerah
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyebut Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan khusus kepada Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara untuk membuat skema bisnis bioskop daerah. Tujuannya untuk menarik investasi atau menarik pengusaha daerah untuk menanamkan modal di sektor perfilman.
Riefky mengatakan, inisiatif pembentukan skema bisnis bioskop daerah dilakukan untuk menyelesaikan masalah dalam industri film nasional. Pesatnya perkembangan industri film lokal dinilai belum sepenuhnya didukung dengan infrastruktur yang memadai untuk menampilkan berbagai karya sineas Indonesia.
“Permasalahannya ada 3, pertama layar. Kedua, insentif, termasuk pendanaan. Ketiga, pembajakan digital. Presiden waktu itu memberikan arahan kepada Danatara. Dibuatkan skema bisnis bioskop daerah,” kata Riefky dalam acara Prasasti Insights: Mewujudkan Ekonomi Kreatif sebagai Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Nasional di The Sultan Hotel & Residence Jakarta, Selasa (23/12).
Riefky menambahkan, Kemenkraf bersama Danantara sedang mempersiapkan skema yang matang, sehingga keberlanjutan usaha tersebut tidak berhenti di tengah jalan.
“Butuh proses yang matang, sehingga ketika ditawarkan tidak membuat orang yang ingin investasi itu jadi rugi. Apalagi target kita adalah pengusaha-pengusaha daerah,” ujar Riefky.
Untuk mendukung kekayaan intelektual (IP) menembus pasar internasional, kata Riefky, pihaknya memiliki program Akselerasi Ekspor Kreasi Indonesia (Asik). Program itu dirancang untuk mendampingi pelaku ekonomi kreatif untuk memperluas IP ke luar negeri.
Dalam prosesnya, lanjut Riefky, Kemenkraf melakukan proses kurasi untuk menyeleksi peserta. Selain menyeleksi, Kemenkraf juga menjembatani pelaku ekonomi kreatif untuk memasarkan produk-produk yang dimiliki.
“Kita biasanya taruh di sebuah bootcamp, di bootcamp ini kita lihat produk ini akan masuk ke negara mana. Kita bikin pertemuan Zoom dengan KJRI, atau KBRI negara tersebut. Kita tanya regulasi di negara itu seperti apa, tantangannya seperti apa. Masih mungkin ada celah untuk industri kreatif kita di subsektor itu masuk ke negara tersebut. Itu ada prosesnya, dan itu bagian dari proses,” ujar Riefky.