Pesan Presiden Jokowi: Dari Soroti Perdagangan Digital Hingga Benci Produk Luar Negeri
Presiden Joko Widodo/Iconomics
Presiden Joko Widodo berpesan 6 poin penting kepada Kementerian Perdagangan. Mulai dari ekosistem e-commerce yang pro usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), pengembangan pasar produk nasional hingga menjaga ketersediaan bahan makan.
Dalam pidato Rapat Kerja Nasional Kementerian Perdagangan Tahun 2021 pada Kamis (04/03/2021), Presiden meminta agar kebijakan perdagangan memberikan kontribusi besar terhadap agenda strategis pemulihan perekonomian nasional.
Ia menyebutkan 6 poin penting. Pertama, perdagangan digital adalah sebuah keharusan dan harus dikembangkan, harus dikelola sebaik-baiknya. Pemerintah harus menciptakan ekosistem e-commerce yang adil dan bermanfaat. Ia menegaskan Indonesia tidak boleh menjadi korban perdagangan digital yang tidak adil. Dalam perdagangan digital harus meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
“Kita bukan bangsa yang menyukai proteksionisme, karena sejarah membuktikan bahwa proteksionisme justru merugikan. Tetapi kita juga tidak boleh menjadi korban unfair practices dari raksasa digital dunia. Transformasi digital adalah win-win solution bagi semua pihak,” kata Presiden dalam pidatonya.
Ia menegaskan kekuatan digital harus dimanfaatkan untuk merangkai antara suplai dari UMKM di seluruh Indonesia dengan pasar nasional dan pasar global.
“Baru minggu kemarin saya sudah sampaikan ke Pak Menteri Perdagangan, ini ada yang enggak bener ini di perdagangan digital kita, membunuh UMKM, diperingatkan. Karena kita harus membela, melindungi, dan memberdayakan UMKM kita agar naik kelas. Ini salah satu tugas terpenting Kementerian Perdagangan,” kata Presiden.
Kedua, Presiden mengatakan Kementerian Perdagangan harus punya kebijakan dan strategi yang tepat untuk mengembangkan pasar produk nasional kita. Misalnya, dengan mendukung program “Bangga Buatan Indonesia, Bangga Buatan Indonesia”.
“Ajakan-ajakan untuk cinta produk-produk kita sendiri, produk-produk Indonesia harus terus digaungkan. Produk-produk dalam negeri gaungkan. Gaungkan juga benci produk-produk dari luar negeri. Bukan hanya cinta tapi benci. Cinta barang kita, benci produk dari luar negeri. Sehingga betul-betul masyarakat kita menjadi konsumen yang loyal, sekali lagi, untuk produk-produk Indonesia,” kata Presiden.
Ketiga, Presiden meminta pasar-pasar nontradisional harus terus diperluas. Keempat, meminta agar UMKM dibantu agar lebih mampu untuk ekspor. Kelima, mempercepat penyelesaian perundingan dengan negara-negara potensial. Ini adalah agenda prioritas, karena di masa-masa seperti ini Indonesia membutuhkan pasar ekspor baru.
“Kita telah menyelesaikan IA-CEPA (Indonesia–Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement) dengan Australia, dengan Korea, dengan EU (European Union),” kata Presiden.