Sesuai Laporan Ini, Indonesia Disebut Potensi Tingkatkan Nilai Ekspor Garmen hingga US$ 2 M

0
4
Reporter: Rommy Yudhistira

Laporan terbaru Vector Consulting Group yang dikembangkan bersama Asosiasi Garment dan Textile Indonesia (AGTI) menyebutkan, Indonesia berpotensi meningkatkan nilai ekspor garmen hingga US$ 2 miliar. Potensi tersebut terbuka melalui penguatan operational execution di sektor manufaktur garmen.

Ketua Umum AGTI Anne Patricia Sutanto mengatakan, nilai ekspor garmen Indonesia tercatat stagnan di kisaran US$ 8-9 miliar selama hampir 1 dekade. Pada periode yang sama, negara seperti Vietnam, Bangladesh, dan Kamboja justru memperluas pangsa pasar ekspor pakaian global.

Berdasarkan laporan bertajuk Unlocking the $2 Billion Opportunity: How Operational Execution Can Revive Indonesia’s Garment Industry, kata Anne, ketidakstabilan eksekusi operasional menjadi salah satu hambatan terbesar untuk meningkatkan kinerja pabrik dalam melakukan ekspor.

“Riset ini memberikan wawasan praktis bagi para pelaku industri mengenai berbagai tantangan operasional yang memengaruhi produktivitas dan kinerja ekspor,” kata Anne dalam keterangan resminya pada Kamis (6/8).

Menurut Anne, industri garmen Indonesia telah memasuki tahap penting, dan membutuhkan fokus yang lebih kuat pada operational excellence. Upaya itu dilakukan untuk meningkatkan daya saing industri garmen dalam negeri.

Baca Juga :   Bahas RUU EBET, Begini Usul Kementerian ESDM kepada Komisi VII, Apa Saja?

“Kami menyambut baik kolaborasi dengan Vector Consulting Group dan berharap industri garmen di Indonesia dapat memperoleh manfaat dari pengalaman serta keahlian yang mereka miliki,” tambah Anne.

Sementara itu, Country Head-Indonesia Vector Consulting Group Rajesh Inamdar menambahkan, riset tersebut berdasarkan pada realitas operasional yang terjadi di industri tekstil, dan garmen Indonesia. Selain itu, laporan juga menguraikan tantangan yang dirasakan produsen, pemasok kain, eksportir, dan pemimpin industri.

“Kami yakin para pelaku bisnis di seluruh ekosistem akan langsung menyadari berbagai isu yang diangkat karena mencerminkan realita yang mereka hadapi sehari-hari,” ujar Rajesh.

Tidak hanya mengungkapkan realita, kata Rajesh, riset yang dilakukan pun merekomendasikan 4 intervensi prioritas yang dapat meningkatkan kinerja operasional. Keempat rekomendasi itu yakni, kolaborasi lintas fungsi untuk memastikan pelepasan fabric purchase orders secara tepat waktu. Kemudian, penerapan style-level capacity planning, penguatan kontrol supervisor, dan rekonfigurasi fabric supply chain untuk meningkatkan responsif.

“Yang lebih penting lagi, laporan ini tidak hanya mengidentifikasi masalah-masalah tersebut, tetapi juga menawarkan pendekatan praktis yang berfokus pada implementasi, yang dapat membantu industri ini memperkuat daya saing globalnya,” ujar Rajesh.

Baca Juga :   IPOC 2019: Wapres Sampaikan 5 Pesan Jokowi untuk Sawit Indonesia

Dalam kesempatan yang sama, Senior Partner Vector Consulting Group P. Senthilkumar menuturkan, riset menunjukkan peluang yang lebih besar terletak pada peningkatan operational execution.

Produsen yang mampu membangun stabilitas melalui praktik shop floor, kata Senthilkumar, berpeluang meningkatkan sewing-line efficiency sebesar 20%–30%. Juga mencapai 90% performa on-time in full, mengurangi customer lead time 20%-30%, meningkatkan laba operasional sekitar 20%, dan mengurangi working capital yang tertahan dalam persediaan 20%-30%.

“Laporan ini menawarkan roadmap praktis untuk membantu produsen garmen Indonesia membuka peluang untuk bertumbuh di masa depan,” kata Senthilkumar.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics