Padel, Social Currency, dan Multiplier Effect

0
99

Padel berkembang lebih dari sekadar aktivitas rekreasi menjadi “social currency” baru di kota-kota besar, yaitu medium untuk memperluas jejaring profesional, membangun komunitas lintas industri, dan memperkuat gaya hidup aktif masyarakat urban.

Padel juga telah banyak digemari oleh kalangan middle class masyarakat Indonesia. Fenomena ini selaras dengan pergeseran perilaku konsumen, terutama generasi muda dari rentang usia 30-40 tahun, yang semakin mengutamakan preventive health dan olahraga dengan learning curve yang cepat.

Olahraga raket dipandang sebagai pilihan yang relevan karena ritme dinamis, durasi singkat, dan sifatnya yang sangat sosial. Kehadirannya dirasa sebagai lanjutan dari budaya badminton yang telah lama tertanam. Hal ini membuat adopsi olahraga raket lain berjalan lebih cepat dan menunjukkan potensi pasar jangka panjang.

Founder Liga.Tennis, Dmitry Scherbakov mengatakan Indonesia sedang memasuki era social fitness boom. Masyarakat tidak hanya mencari olahraga, tetapi ruang sosial, komunitas, dan pengalaman yang bermakna. “Olahraga raket berada tepat di jantung perubahan ini karena sifatnya yang fun, mudah dimainkan, dan bersifat inklusif untuk semua usia dan tingkat kemampuan,” kata Dmitry dalam keterangannya.

Baca Juga :   Indodana Menggandeng Rodalink Perluas Paylater

Masifnya pertumbuhan olahraga raket di Indonesia memicu efek ekonomi berantai yang semakin terlihat. Fenomena global yang disebut sebagai “paddle effect” ini turut mendorong lahirnya brand apparel lokal, penyedia equipment dan perlengkapan, fasilitas fisioterapi dan sport recovery, akademi dan sekolah coaching, turnamen komunitas amatir hingga profesional, creator economy, dan pertumbuhan F&B di sekitar fasilitas olahraga. Hal ini turut menguatkan survei global yang menyebutkan bahwa aspek wellness semakin penting bagi masyarakat dunia.

Mengutip laporan Global Wellness Economy Monitor 2024 dari Global Wellness Institute (GWI), ekonomi wellness global diperkirakan akan mencapai US$9 triliun di tahun 2028 mendatang.

Global Padel Report 2025 menyebutkan Indonesia mencatat salah satu angka produktivitas lapangan tertinggi secara global. Satu lapangan padel di Indonesia memiliki rata-rata gross merchandise value (GMV) lebih dari €6.000 per bulan atau setara dengan Rp110 juta, di mana angka ini tumbuh sebesar 173% YoY (2023–2024). Ruang pertumbuhannya juga sangat besar, dengan proyeksi Playtomic dan Monitor Deloitte yang memperkirakan jumlah lapangan padel di tahun 2026 akan mencapai sebanyak 85.000 di seluruh dunia atau dua kali lipat jumlah saat ini. Angka ini menunjukkan dua sinyal penting bagi investor dan operator, yaitu demand yang kuat dan sustainable serta efisiensi monetisasi per lapangan yang jauh di atas rata-rata pasar baru.

Baca Juga :   Konsisten Dukung Prestasi Olahraga Nasional, Aice Raih Penghargaan dari Kemenpora

“Ketika satu lapangan padel dibangun, yang bergerak bukan hanya pemainnya, tetapi ekonomi sekitarnya. Indonesia berada di titik percepatan pertumbuhan olahraga raket. Yang terjadi bukan hanya peningkatan jumlah pemain, tetapi lahirnya industri baru dengan potensi ekonomi yang sangat besar. Kami membangun bukan hanya klub olahraga, tetapi ekosistem olahraga raket terbesar di Indonesia yang menghubungkan coaching, communities, facilities, dan digital platforms,” kata Dmitry.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics