Tak Hanya Masih Ada, RRI Memiliki Peran Vital untuk Indonesia
Direktur Teknologi dan Media Baru LPP RRI, Muhamad Sujai menyampaikan paparan dalam acara “THE FACE OF INDONESIA: Making Impactful Communication Strategy”. Acara tersebut diselenggarakan Theiconomics.com di Auditorium Abdulrahman Saleh LPP RRI, Rabu (17/12)/Foto: Theiconomics.com
Tak dapat disangkal, Radio Republik Indonesia (RRI) memiliki peran vital dalam sejarah Indonesia pasca kemerdekaan. Usianya yang sama dengan negara ini menjadikan RRI sebagai lembaga penyiaran yang merekam setiap peristiwa penting, bahkan pernah menjadi penentu arah sejarah.
Tetapi, seiring dengan perkembangan media-media baru, orang kerap menanyakan eksistensi RRI.
“Sebetulnya kita sudah banyak berubah. Hanya tidak banyak orang yang tahu. Bahkan masih ada yang bilang, ‘masih ada ya RRI’,” kata Direktur Teknologi dan Media Baru LPP RRI, Muhamad Sujai.
Berbicara dalam acara “THE FACE OF INDONESIA: Making Impactful Communication Strategy” yang diselenggarakan Theiconomics.com di Auditorium Abdulrahman Saleh LPP RRI, Rabu (17/12), Sujai mengatakan RRI merupakan lembaga penyiaran terbesar di Asia Tenggara saat ini.
RRI mengelola lebih dari 500 pemancar yang mencakup frekuensi FM, MW, dan SW. Keberadaan MW dan SW dinilai sangat krusial untuk menjangkau wilayah kepulauan dan pedalaman yang tidak terlayani jaringan seluler. Pada kondisi darurat, jaringan siaran radio menjadi satu-satunya sarana komunikasi yang masih dapat diakses masyarakat.
Sujai mencontohkan pengalaman RRI saat bencana tsunami Aceh, gempa Palu, gempa Padang, hingga berbagai bencana banjir dan gempa di sejumlah daerah. Dalam peristiwa tersebut, RRI tidak hanya menyampaikan informasi kebencanaan, tetapi juga berfungsi sebagai pusat informasi kemanusiaan.
“Waktu tsunami Aceh, bencana Palu, bencana Padang, waktu gempa, RRI jadi hub untuk nyari orang. Jadi ada ibu-ibu datang, tolong carikan anak ini, segala macam. Itu kita jadi hub untuk mempertemukan antara keluarga dengan korban. Pada saat kondisi emergensi kita masih bisa siaran,” ujarnya.
Ia juga menceritakan pengalamannya saat berada di Aceh ketika terjadi bencana baru-baru ini, di mana jaringan listrik dan seluler hanya berfungsi terbatas. Namun demikian, RRI tetap mengudara dan menjadi rujukan utama masyarakat untuk memperoleh informasi situasi terkini.
Selain dalam konteks kebencanaan, jangkauan luas RRI juga menopang fungsi edukasi publik di daerah yang minim akses teknologi. Saat pandemi Covid-19, RRI menghadirkan program seperti guru keliling untuk memastikan proses belajar tetap berjalan di desa-desa yang tidak terjangkau internet.
“Karena tidak semua desa tercover seluler. Waktu itu kan trennya adalah semua belajar lewat online. Tetapi di daerah itu yang namanya seluler itu tidak cover seluruh Indonesia,” ujarnya.
Dari sisi organisasi, RRI mengoperasikan empat programa di kota-kota besar, yakni Pro 1, Pro 2, Pro 3, dan Pro 4, dengan total 71 stasiun penyiaran di seluruh Indonesia. Jaringan ini memungkinkan RRI menyebarkan informasi kebencanaan secara cepat, serentak, dan berkesinambungan.
Seiring perkembangan teknologi, RRI juga memperkuat komunikasi bencana melalui platform digital. Melalui aplikasi RRI Digital dan portal berita rri.co.id, informasi kebencanaan dapat diakses masyarakat secara lebih luas, termasuk oleh publik internasional. Portal RRI bahkan kerap menjadi rujukan media asing dalam memantau situasi di Indonesia.