Investor Asing Hengkang, IHSG Menguat 22 Persen Sepanjang 2025
Penutupan perdagangan pasar modal 2025, Selasa (30/12)/Foto: Dok.OJK
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat signifikan sepanjang 2025, sementara pada saat yang sama investor asing meninggalkan bursa saham Indonesia.
Data Bursa Efek Indonesia, IHSG menguat tipis pada perdagangan terakhir tahun 2025, Selasa (30/12). IHSG naik 2,68 poin atau 0,03% ke level 8.646,94.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak dalam rentang 8.584,87 hingga 8.663,67. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp20,56 triliun dengan volume perdagangan 37,23 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 2,58 juta kali.
Meski IHSG menguat, investor asing masih membukukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp938,13 miliar pada perdagangan.
Secara year to date (YTD), atau sepanjang 2025, asing mencatatkan net sell Rp17,34 triliun. Meski asing melego saham-saham Indonesia, tetapi sepanjang tahun ini, IHSG menguat signifikan sebesar 22,13 persen.
“Pasar Modal Indonesia menunjukkan resiliensi dan daya saing yang semakin menguat. Berbagai tantangan telah menguji ketangguhan dan ketahanan kita dalam mendorong pertumbuhan pasar modal yang berkelanjutan dan memperkokoh pondasi Pasar Modal Indonesia ke depan. Capaian ini tentu tidak terjadi secara kebetulan, tetapi merupakan hasil dari kerja keras, sinergi, dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan di industri pasar modal,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi dalam sambutan pada Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia.
Direktur Utama BEI Iman Rachman menyampaikan tahun 2025 menjadi tahun pembuktian ketahanan dan kesiapan pasar modal Indonesia, meskipun di tengah tekanan domestik dan global yang tinggi, pasar mampu menjaga stabilitas, bangkit kembali, dan menorehkan capaian kinerja yang solid.
Selain IHSG yang menguat, Iman menyampaikan capaian positif juga tercermin dari meningkatnya minat dan partisipasi masyarakat dalam berinvestasi di pasar modal Indonesia. Total investor pasar modal yang terdiri dari investor saham, obligasi, dan reksa dana meningkat 36,67% dari tahun 2024 menjadi 20,3 juta investor. Khusus untuk investor saham dan surat berharga lainnya, terdapat peningkatan lebih dari 2,2 juta investor menjadi 8,59 juta investor saham. Dari sisi partisipasi investor, rata-rata investor yang aktif bertransaksi per 29 Desember 2025 mencapai lebih dari 901 ribu per bulan. Selain itu, jika dilihat dari tipe investor, porsi transaksi investor ritel masih mendominasi sebesar 49,9%. Dari segi transaksi investor institusi asing dengan porsi transaksi mencapai lebih dari 36,3% dari total rata-rata nilai transaksi harian hingga November 2025.
Dari sisi penawaran efek (supply), BEI telah berhasil meraih sejumlah pencatatan efek baru yaitu 26 saham baru dengan total fund-raised IPO saham mencapai Rp18,1 triliun dan 6 di antaranya merupakan Lighthouse Initial Public Offering (IPO). Dengan demikian, total perusahaan tercatat saham sampai dengan saat ini telah mencapai 956 perusahaan. Adapun raihan pencatatan efek baru lainnya meliputi 181 emisi obligasi dan sukuk, 3 Exchange-Traded Fund (ETF), 1 Efek Beragun Aset (EBA), serta 647 waran terstrukur pada tahun 2025 ini. Jumlah perusahaan tercatat saham di tahun 2025 menurun dibandingkan tahun sebelumnya, namun dari sisi jumlah penghimpunan dana dari saham mengalami peningkatan sebesar 26,6%. Berdasarkan data dari EY Global IPO Trends Q3 2025, jumlah pencatatan saham baru di BEI menempati peringkat ke-11 di dunia dari sisi jumlah IPO.
Sepanjang tahun 2025 data perdagangan mulai mengalami kenaikan dibandingkan akhir tahun lalu dengan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) berada pada posisi Rp18,06 triliun. Data tersebut diikuti dengan volume transaksi harian sebesar 30,27 miliar lembar saham dan frekuensi transaksi harian mencapai 1,78 juta kali transaksi. Aktivitas perdagangan di sepanjang tahun 2025 juga mencatatkan beberapa rekor baru yang mencapai 24 kali all-time high, diikuti dengan rekor kapitalisasi pasar tertinggi yang mencapai Rp16 ribu triliun.