ICDX: Harga Emas Berpotensi Tembus US$6.000, Minyak Mentah Diproyeksi Sentuh US$100 pada 2026

0
82

Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) memproyeksikan harga emas dan minyak mentah global masih akan bergerak fluktuatif namun cenderung menguat sepanjang 2026. Faktor geopolitik global, kebijakan moneter, serta dinamika pasokan energi disebut menjadi penentu utama arah pergerakan kedua komoditas tersebut.

Proyeksi tersebut disampaikan dalam forum ICDX Commodity Outlook 2026 bertema “Gold & Crude Oil: Availability, Geopolitics and Global Market” yang digelar bertepatan dengan kegiatan buka puasa bersama media di Jakarta, Rabu (11/3).

Direktur ICDX Nursalam mengatakan forum ini diharapkan menjadi referensi bagi pelaku usaha dalam membaca arah pasar komoditas global tahun ini.

“Kami berharap, informasi yang kami sampaikan dalam Commodity Outlook 2026 ini bisa menjadi referensi pelaku usaha dalam mengambil dan menentukan kebijakan strategisnya di tahun 2026 ini. Khusus untuk kontrak minyak mentah dan emas, kita tahu perkembangan geopolitik global khususnya di Timur Tengah, tentu sedikit banyak akan memberikan pengaruh terhadap harga komoditas tersebut,” ujar Nursalam.

Ia menambahkan bahwa ICDX menyediakan kontrak berjangka minyak mentah dan emas yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha sebagai instrumen lindung nilai di tengah volatilitas harga komoditas.

“Di ICDX, untuk perdagangan multilateral telah diperdagangkan kontrak-kontrak berjangka perdagangan atas kedua komoditas minyak mentah dan emas, yang tentunya dapat dimanfaatkan pelaku usaha untuk melakukan lindung nilai. Apalagi dalam kondisi harga komoditas yang sangat fluktuatif karena berbagai faktor, mekanisme lindung nilai ini sangat diperlukan para pelaku usaha dengan bisnis jangka panjang,” ungkapnya.

Sepanjang 2025, transaksi kontrak multilateral berbasis minyak mentah di ICDX tercatat mencapai 61.260 lot, sedangkan kontrak berbasis emas mencapai 1.627.698 lot.

Untuk minyak mentah, transaksi didominasi kontrak COFRMic dengan volume 51.548 lot. Kontrak mikro ini mengacu pada harga West Texas Intermediate (WTI) dengan ukuran 10 barel per lot. Sementara kontrak emas didominasi GOLDUDMic dengan volume 682.310 lot, yang merupakan versi mikro dari kontrak GOLDUD dengan acuan harga emas global pasar Loco London.

Baca Juga :   Perdagangan Berjangka Komoditi Kuartal I 2026, Notional Value Capai Rp 12.477 Triliun

Outlook Emas 2026

Analis Research and Development ICDX Tiffani Safinia mengatakan tahun 2025 menjadi salah satu periode terbaik bagi emas dalam beberapa dekade terakhir.

“Tahun 2025 menjadi salah satu tahun terbaik bagi emas dalam beberapa dekade, sekaligus memperkuat perannya sebagai aset safe haven dan instrumen diversifikasi yang relevan di tengah ketidakpastian global,” kata Tiffani.

Sepanjang 2025, harga emas tercatat melonjak 64% dengan 53 kali mencetak rekor tertinggi baru (all time high). Harga tertinggi tercatat pada 26 Desember 2025 di level US$4.550 per troy ons, dengan rata-rata harga sekitar US$3.431 per troy ons. Pada periode yang sama, pembelian emas oleh bank sentral global mencapai sekitar 863 ton.

Tiffani menyebut reli emas pada 2025 dipicu sejumlah faktor, mulai dari pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve hingga meningkatnya ketegangan geopolitik global.

“Beberapa sentimen yang menjadi pendorong kenaikan emas pada 2025 yaitu, 3 kali pemangkasan suku bunga dengan total 75 bps melalui keputusan FOMC, Konflik Timur Tengah (Israel – Iran), Perang AS – Ukraina, serta Ketegangan AS – China,” jelasnya.

Tiffani menjelaskan bahwa reli harga emas sepanjang 2025 juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lain, di antaranya pembelian emas oleh Bank Sentral AS yang mencapai sekitar 863 ton. Meskipun jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan periode 2022–2024, aktivitas pembelian tersebut tetap menjadi salah satu penopang permintaan emas global. 

Selain itu, pergerakan dolar AS yang cenderung volatil akibat ketidakpastian arah kebijakan moneter dan ekspektasi suku bunga turut mendorong peningkatan alokasi investasi ke emas. Kombinasi faktor makroekonomi dan ketegangan geopolitik tersebut pada akhirnya memperkuat reli harga emas sepanjang 2025.

Baca Juga :   Gairah Hari Pertama di Bursa Komoditi, Transaksi Tembus 29 Ribu Lot

Mengenai prospek harga emas pada tahun ini, Tiffani mengatakan sejumlah lembaga keuangan global telah menaikkan proyeksi harga emas untuk tahun 2026. Kenaikan proyeksi tersebut didorong oleh risiko geopolitik global yang masih persisten serta meningkatnya permintaan struktural dari bank sentral di berbagai negara. Kondisi ini mencerminkan ekspektasi reli harga emas yang semakin menguat di tengah ketidakpastian geopolitik dan pembelian emas yang cukup agresif oleh bank sentral.

“Dalam jangka pendek, pergerakan emas masih dipengaruhi dinamika dolar AS, imbal hasil obligasi, dan perkembangan konflik global. Namun secara keseluruhan, harga emas diproyeksikan berada di kisaran US$5.500–US$6.000 per troy ons hingga akhir tahun 2026,” ujarnya.

Sejumlah proyeksi dari institusi global juga menunjukkan pandangan yang relatif optimistis. Poll Reuters terhadap 30 analis dan trader internasional memprediksi median harga emas 2026 di US$4.746,50 per troy ons. Goldman Sachs menaikkan target harga emas akhir 2026 menjadi US$5.400, sementara JP Morgan memproyeksikan harga emas dapat mencapai US$6.300 per troy ons pada kuartal IV 2026.

Outlook Minyak Mentah

Sementara itu, analis Research and Development ICDX Girta Putra Yoga mengatakan harga minyak mentah sempat mengalami tekanan sepanjang 2025.

“Tahun 2025 merupakan tahun yang menantang bagi komoditas minyak mentah. Laju harga rata-rata emas hitam ini mencatatkan penurunan sebesar lebih dari 21 persen ke level $60 per barel pada akhir penutupan 2025, dibandingkan harga rata-rata di awal tahun yang mencapai level $77 per barel,” kata Girta.

Tekanan harga terutama dipicu perang tarif antara Amerika Serikat dan China, serta kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global.

Baca Juga :   Perdagangan Pasar Fisik Emas Digital Semakin Diminati, Transaksi Kuartal I 2026 Tumbuh 246%

Namun memasuki 2026, harga minyak kembali menguat seiring meningkatnya ketegangan geopolitik dan kebijakan produksi dari negara-negara produsen utama.

“Penegasan komitmen dari aliansi produsen OPEC yang menyatakan akan mempertahankan produksi sampai Desember 2026 menjadi katalis pemicu yang mengangkat kembali harga minyak mentah,” ujarnya.

Ia juga menyoroti sejumlah dinamika geopolitik yang memicu lonjakan harga pada awal tahun.

“Ketegangan geopolitik yang mewarnai pembukaan tahun 2026 ini, mulai dari penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh militer AS, keinginan Trump untuk mengakuisisi Greenland dari Denmark, serta dimulainya perang AS – Iran, mendorong harga minyak mentah kembali naik hingga menyentuh level $90 per barel pada awal Maret ini, dari sebelumnya di level $57 per barel pada awal Januari 2026,” ungkapnya.

ICDX memperkirakan tren penguatan minyak mentah masih berpotensi berlanjut hingga paruh kedua 2026. Level resistance diproyeksikan berada di kisaran US$95 hingga US$100 per barel, sementara level support berada di kisaran US$75 hingga US$80 per barel.

“Indikator yang dipantau masih akan terfokus pada perkembangan situasi di Timur Tengah, terutama perang AS – Iran, kebijakan produksi OPEC+, dan kebijakan tarif dagang Trump,” jelas Girta.

Forum ICDX Commodity Outlook 2026 sendiri digelar bersamaan dengan kegiatan buka puasa bersama media yang rutin diselenggarakan ICDX setiap bulan Ramadan. Melalui forum ini, ICDX berharap dapat memberikan pembaruan informasi terkait dinamika harga komoditas global yang menjadi perhatian pasar.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics