Allianz Indonesia Ajak Masyarakat Siapkan Strategi Hadapi Risiko Kesehatan di Masa Depan

0
240
Reporter: Rommy Yudhistira

Dalam menghadapi kenaikan biaya medis yang terjadi saat ini, Allianz Indonesia mengajak masyarakat untuk mempersiapkan strategi dalam menghadapi risiko kesehatan di masa mendatang. Salah satu cara mempersiapkan hal itu lewat proteksi tambahan yang diberikan produk asuransi kesehatan

Chief Product Officer Allianz Life Indonesia Himawan Purnama mengatakan, meski sudah terjadi inflasi atau kenaikan biaya medis di Indonesia, belum terlambat bagi masyarakat untuk memiliki produk asuransi kesehatan yang ada saat ini. Calon nasabah akan mendapatkan manfaat dan kenyamanan dalam mengelola manajemen risiko di tengah inflasi medis yang terjadi.

“Prinsipnya adalah semakin muda, semakin baik karena ketika membeli asuransi kesehatan selagi sehat, premi yang dibayarkan pun akan lebih ringan,” kata Himawan dalam diskusi virtual pada Rabu (13/9).

Sedangkan untuk nasabah yang sudah memiliki asuransi kesehatan, kata Himawan, agar lebih bersikap bijak dan cerdas dalam menghadapi situasi inflasi medis. Apalagi asuransi kesehatan memberikan proteksi tambahan sesuai dengan ketentuan yang berlaku jika terjadi risiko.

Dengan adanya hal itu, kata Himawan, nasabah akan lebih terlindungi dari segala risiko finansial apabila mengalami suatu penyakit. Di sisi lain, proteksi yang diberikan juga akan melindungi nasabah dari membengkaknya tagihan biaya kesehatan yang harus dibayarkan.

Baca Juga :   Selamatkan Dana Pemegang Polis, OJK Telusuri Aset Pribadi Pemilik Wanaartha Life

Himawan juga tidak menampik bahwa perusahaan asuransi cukup terdampak dengan adanya kenaikan biaya medis yang menyebabkan naiknya pembayaran klaim secara drastis. Perusahaan asuransi harus melakukan penyesuaian biaya atau repricing untuk menghadapi persoalan tersebut.

Himawan menambahkan, repricing dilakukan melalui berbagai pertimbangan yang menyeluruh dengan proses yang panjang. Untuk perubahan produk yang dilakukan juga sudah mendapat persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Sementara itu, mewakili Rumah Sakit Premier Bintaro Ariska Sinaga mengatakan, berdasarkan survei Mercer Marsh Benefits (MMB) 2021-2023 tentang Estimated Medical Trend Summary, peningkatan inflasi medis di Indonesia telah mencapai 13,6% dalam kurun waktu 3 tahun terakhir. Jumlah tersebut lebih tinggi dari proyeksi Asia yang berada di angka 11,5%.

Bahkan, kata Ariska, inflasi medis yang terjadi sudah melebihi inflasi ekonomi yang berada di angka 3,3% per Agustus 2023. Inflasi medis telah mencapai 4 kali lipat dari inflasi ekonomi.

Di sisi lain, kata Ariska, peningkatan prevalensi penyakit kronis di masyarakat juga terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hal itu juga ditandai dengan semakin banyaknya kasus kesehatan degeneratif di masyarakat. Kelompok usia muda juga turut berperan dalam menyebabkan tingginya permintaan perawatan di rumah sakit.

Baca Juga :   OJK Atur Innovative Credit Scoring

“Ketersediaan jumlah tenaga kesehatan di Indonesia yang tidak sebanding dengan jumlah pasien yang membutuhkan perawatan/pengobatan serta adanya kemajuan teknologi terbaru dari dunia medis dan kedokteran secara keseluruhan juga berperan dalam menyebabkan biaya kesehatan terus meningkat,” ujar Ariska.

Sedangkan perencana keuangan dan Founder Daya Uang Metta Anggriani mengatakan, masyarakat perlu mengelola keuangan dengan baik untuk menghadapi kenaikan biaya medis. Dalam mengelola keuangan perlu diperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan pengaturan budget dan persiapan dana darurat.

Di samping itu, kata Metta, pihaknya mengingatkan masyarakat untuk memastikan diri dan keluarga terdaftar dan menjadi peserta program jaminan kesehatan seperti BPJS. Dan, masyarakat perlu melakukan evaluasi secara berkala terhadap kondisi kesehatan dan keuangan, maupun produk-produk asuransinya.

“Mengelola keuangan dengan baik adalah cara yang paling utama dalam menyiasati kenaikan biaya medis,” ujar Metta.

Leave a reply

Iconomics