Kisah Perjalanan Djarum dan Posisinya di Masa Mendatang

0
290
Reporter: Rommy Yudhistira

Oei Wie Gwan adalah pendiri PT Djarum, produsen rokok, yang berdiri sejak 1951. Perusahaan tersebut kini dipimpin oleh generasi ke-9 dari keluarga pendiri Djarum.

Soal ini, Direktur Utama Djarum Victor Hartono bercerita, kisah bisnis keluarga besar Djarum pernah bergelut dalam usaha minyak kacang tanah. Ketika itu, masyarakat Indonesia memanfaatkan minyak kacang tanah untuk memasak, dan kebutuhan lainya.

Seiring waktu berjalan, kata Victor, masuknya inovasi dari minyak kelapa sawit dari Afrika, meruntuhkan bisnis yang dijalankan keluarganya. Inovasi minyak kelapa sawit pun menjatuhkan bisnis generasi ke-4 dalam perjalanan keluarga tersebut.

“Industri yang kita geluti, hari ini bisa memberi nafkah kita, tapi belum tentu jangka panjangnya akan memberi nafkah terus. Kita pikir waktu itu minyak kacang forever, tapi ternyata tidak. Tiba-tiba datang teknologi baru dari Afrika,” kata kata Victor dalam acara Meet The Leaders, di kampus Paramadina, Jakarta, Sabtu (26/7).

Memasuki generasi ke-7, lanjut Victor, sang kakek Oei Wie Gwan membuka bisnis kembang api dengan merek Mercon Cap Leo pada 1927. Tren penjualan Mercon Cap Leo memiliki periode khusus, dan penjualan meningkat pada momen Lebaran, Tahun Baru Imlek, dan Tahun Baru Masehi.

Baca Juga :   Keterbukaan, Kunci Tingkatkan Kepercayaan dan Keterikatan Karyawan ke BRI

“Jadi basically setahun itu cuma 3 peak season itu,” ujar Victor.

Akan tetapi, kata Victor, tepat di 1942, Jepang menginvasi Indonesia. Masuknya Jepang, yang bertujuan untuk mengusir negara-negara sekutu Amerika Serikat (AS), berimbas terhadap unit bisnis keluarga itu.

Kala itu, kata Victor,.pemerintah Hindia Belanda memerintahkan untuk menutup pabrik Mercon Cap Leo. Alasannya, pemerintah Hindia-Belanda khawatir bubuk mesiu yang menjadi bahan dasar kembang api, diambil Jepang, dan digunakan untuk menyerang tentara-tentara sekutu.

“Jadi ini pengalaman traumatik buat keluarga saya. Nafkah yang mestinya sustainable. Lagi enak-enak di Rembang, apa urusannya sama Jepang datang, tutup kita. Ini pelajaran lagi, jadi yang kita pikir sustainable, jangan terlalu optimistis. Siapa yang bisa prediksi tahun 1927 ini dibikin, nanti tahun 1942 industrinya selesai,” tuturnya.

Djarum di Masa Mendatang
Berbekal pengalaman itu, kata Victor, dalam menjalankan Djarum Grup, diversifikasi bisnis menjadi hal yang tidak kalah penting. Tidak hanya bergerak dalam industri rokok, Djarum saat ini telah berkembang menjadi perusahaan multi sektor dengan unit bisnis perbankan, properti, elektronik, kuliner, consumer goods, teknologi, hingga otomotif.

Baca Juga :   PP Akan Fokus Kembali Jadi Perusahaan Konstruksi Nasional

Sebagai putra tertua dari Robert Budi Hartono, kata Victor, Djarum dipimpin oleh 7 orang dengan pembagian saham 51% dan 49% (investment board). Khusus keluarga Hartono yang mendapatkan porsi saham 51%, memiliki peran strategis di perusahaan dan ini diambil melalui musyawarah yang dilakukan oleh keluarga besar Hartono.

Adapun ke-7 sosok itu antara lain Victor Hartono, Martin Hartono, Armand Hartono, dengan kepemilikan saham 51%. Kemudian, Stefanus Hartono, Vannesa Hartono, Natalia Hartono, Roberto Hartono, dengan saham 49%. Ada pula sosok di luar keluarga yang diberikan kepercayaan untuk memimpin unit bisnis Djarum Grup.

“Ada juga pilar-pilar bisnis. Kalau uangnya sudah diinvestasikan, kayak Pak Kusumo untuk di Blibli, dia salah satu yang mengurus di sini (pilar bisnis Djarum Grup). Kalau di rokok ada lagi gengnya itu seperti saya dan lainnya. Investment board sudah tidak terlalu ikut lagi, Roberto, Natalia sudah tidak pernah ikut rapat rokok,” tuturnya.

Lebih jauh Victor mengatakan, dibutuhkan akal sehat, dan strategi yang mumpuni untuk menjalankan suatu bisnis. Selain faktor keberuntungan, untuk memastikan keberlanjutan bisnis, seorang pelaku bisnis harus bisa membaca situasi, dan mengambil langkah strategis ke depan.

Baca Juga :   Menaker Ida Desak Perusahaan Patuhi Keputusan Gubernur soal UMP 2023

“Seseorang dianggap lucky, hoki tidak hoki, tergantung timing. So, apa yang menjadi hokinya kamu hari ini, bisa ada lanjutannya. Jadi, hati-hati (dalam konteks bisnis) saja,” kata Victor.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics