Strategi Astra; Terus Perkuat Bisnis Inti dan Investasi di Area Bisnis Baru

0
137

PT Astra International Tbk akan melanjutkan strategi memperkuat bisnis intinya sembari terus masuk ke area-area bisnis baru melalui akuisisi. Saat ini Astra memiliki tujuh lini bisnis sebagai penopang utama usahanya yaitu (1) Otomotif & Mobilitas+, (2) Jasa Keuangan, (3) Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi & Energi, (4) Agribisnis, (5) Infrastruktur, (6) Teknologi Informasi, dan (7) Properti.

Dalam beberapa tahun terakhir, Astra juga terus masuk ke bisnis baru melalui akuisisi seperti infrastruktur, kesehatan, dan mineral.

Presiden Direktur Astra International Djony Bunarto Tjondro mengatakan ke depan, Astra tetap secara konsisten memperkuat lini bisnis inti melalui optimalisasi berbagai aspek operasional sehingga bisa memberikan value creation yang lebih baik. 

“Bisnis inti yang kami miliki hari ini tentunya sangat penting bagi kami sebagai platform untuk kami berkembang lebih jauh,” ujarnya dalam konferensi pers, Rabu (27/8).

Astra, tambah Djony, juga akan terus melakukan akuisisi jika ada peluang yang berkaitan dengan bisnis inti. Langkah ini dilakukan untuk semakin memperkuat ekosistem di bisnis inti Astra.

Astra juga terus melakukan investasi di area-area baru agar terus bertumbuh kembang lebih jauh di masa mendatang. 

Baca Juga :   Kejar Kecepatan Transaksi, Inilah yang Dilakukan DBS Indonesia dan ACC

Senada, Rudy, Wakil Presiden Direktur Astra menyatakan prioritas Astra dalam jangka pendek adalah penguatan tujuh lini bisnis inti Grup Astra saat ini.

“Tetapi tentu akan kita balance juga untuk jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang, dimana ada opportunity yang boleh dibilang menjadi fokus kami untuk beberapa saat ke depan,” kata Rudy.

Rudy mengtakan ada tiga area besar yang dibidik Astra yaitu infrastruktur, kesehatan, dan mineral. 

“Mungkin apabila mengikuti Astra, kita melihat juga dalam beberapa tahun terakhir ada beberapa akuisisi yang relevan atau masuk dalam kategori ini, seperti di mineral kita masuk ke emas, kita masuk ke nikel. Di kesehatan kita ada di Hermina, kita ada di Heartology, kita juga meningkatkan kepemilikan kita di Halodoc,” ujarnya.

Sementara untuk area infrastruktur, kata Rudy, mencakup infrastruktur logistik, seperti modern logistic warehouse atau gudang modern, jalan tol dan infrastruktur digital yang mencakup data center. 

“Tetapi tidak menutup kemungkinan juga untuk ke depannya kami investasi di bidang-bidang atau sektor lain yang berpotensi,” ujarnya. Kriterianya, tambah Rudy, adalah “prospek sektor tersebut cukup menjanjikan dan juga melihat peluang atau tersedianya potensi sinergi atau kolaborasi dengan lini bisnis Astra yang ada pada saat ini.”

Baca Juga :   Astra Gelar SATU Indonesia Awards ke-17, Temukan Talenta Muda Inspiratif

Rudy mengungkapkan sepanjang semester I 2025, Astra telah merealisasikan investasi senilai Rp3,3 triliun. Investasi ini, jelasnya, terutama pada aset gudang logistik modern dan juga sektor kesehatan.

Pada Juli lalu, PT Saka Industrial Arjaya (SIA) bagian dari Astra Property menandatangani Perjanjian Jual Beli Saham bersyarat untuk mengakuisisi saham mayoritas perusahaan pengembang properti industri dan logistik, PT Mega Manunggal Property Tbk (MMP).

Berdasarkan Perjanjian Bersyarat, SIA akan mengakuisisi sekitar 83,67% saham MMP dari PT Suwarna Arta Mandiri, pemegang saham mayoritas MMP dan beberapa pemegang saham minoritas MMP lainnya dengan tunduk pada pemenuhan sejumlah persyaratan pendahuluan. 

Akuisisi ini akan menjadi sebuah langkah strategis bagi Astra Property untuk terus mengembangkan bisnisnya di pasar properti dan sektor infrastruktur industri & logistik sebagai sumber pertumbuhan baru bagi  Grup Astra.

“Rasanya masih ada beberapa proyek dalam pipeline kami saat ini akan kami realisasikan di semester II 2025. Nanti akan kami sampaikan, itu kami sudah mencapai tahap yang cukup matang untuk disampaikan,” kata Rudy.

Baca Juga :   Astra Financial Bukukan Laba Rp6 Triliun pada 2022, Naik 22%

Frans Kesuma, Direktur Astra, sekaligus Presiden Direktur PT United Tractors Tbk (UNTR) mengatakan akan terus menjajaki komoditas pertambangan selain emas dan nikel yang sudah ada dalam portofolio UNTR.

“Memang ke depan kami masih mencari komoditas lain, misalnya tembaga. Kita tahu, copper and gold itu biasanya menjadi satu. Sementara untuk mineral-mineral yang lain sedang dalam studi, karena kita mesti lihat juga bagaimana industrinya sendiri terutama untuk ke depan,” ujar Frans.

Frans mengatakan UNTR – 59,5% sahamnya dimiliki Astra – saat ini juga sedang mempelajari secara teknis terkait dengan proses meningkatkan nilai tambah dari mineral.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics