Ekonomi dan Keuangan Syariah Indonesia, Potensi Besar yang Belum Digarap Optimal
Djustini Septiana Deputi Komisoner Pengwas Pasar Modal I Otoritas Jasa Keuangan (OJK)/iconomics
Kinerja Masih Positif
Pandemi Covid-19 menyebabkan perekonomian global dan domestik terkontraksi pada tahun 2020. Melemahanya aktivitas ekonomi membuat sektor riil terpukul, begitu juga kinerja sektor jasa keuangan turut mengalami penurunan.
Namun demikian di tengah kontraksi kredit perbankan nasional sebesar -1,84% per Januari 2021, pembiayaan bank umum syariah justru masih tumbuh positif 8,19% YoY dengan ketahanan permodalan yang memadai yaitu CAR sebesar 21,80%.
Secara umum aset lembaga keuangan syariah Indonesia hingga Januari 2021 tumbuh cukup tinggi yaitu 24,54% YoY, dibandingkan dengan tahun 2020 sebesar 22,79% YoY dan 2019 sebesar 13,84% YoY. Per Januari 2021, jumlah aset keuangan syariah mencapai Rp1.823,13 triliun atau US$129,45 miliar dimana 59% diantaranya merupakan aset pasar modal syariah yaitu sejumlah Rp1.077,62 triliun. Kemudian, aset perbankan sebesar Rp600,99 triliun dan IKNB syariah sebesar Rp115,83 triliun.
Di tataran global Indonesia telah mendapatkan apresiasi sebagai salah satu negara terbaik dalam pengelolaan ekonomi dan keuangan syariah yaitu peringkat kedua secara global sebagai The Most Developed Countries in Islamic Finance, terutama didukung oleh tingginya riset dan kelengkapan regulasi terkait industri keuangan syariah. Kemudian peringkat keempat global untuk sektor ekonomi syariah dan peringkat keenam untuk keuangan syariah.
Bursa Efek Indonsia juga mendapat penghargaan sebagai The Best Islamic Capital Market dari Global Islamic Finance Awards (GIVA) selama dua tahun berturut-turut.
“Dapat kami sampaikan bahwa industri pasar modal syariah Indonesia dalam kurun waktu lima tahun terakhir mengalami pertumbuhan yang positif. Antara lain ditunjukan dengan jumlah saham syariah terus meningkat dari 331 pada tahun 2015 menjadi 449 saham syariah per 26 Maret 2021,” ungkap Djustini.
Kapitalisasi pasar modal syariah mencapai Rp3,57 triliun dengan market share sebesar 47,78% per 19 Maret 2021. Jumlah investor saham syariah naik 1,65% menjadi 85.891 investor per Desember 2020. Artinya 5,5% dari total investor saham.
“Pada Februari 2021, telah dilakukan penggabungan tiga bank syariah milik negara menjadi PT Bank Syariah Indonesia Tbk yang juga merupakan emiten di Bursa Efek Indonesia. Dengan penggabungan tersebut BSI menjadi bank terbesar ketujuh secara nasional dan bank syariah dengan kapitalisasi pasar terbesar ke 10 di dunia,” ujar Djustini.
Penggabungan tiga bank syariah plat merah tersebut, menurutnya, menjadi momentum bagi industri keuangan syariah untuk berkembang, apalagi didukung jumlah penduduk muslim di Indoneisa yang besar.
“Ke depan kami berharap penggunaan instrumen pasar modal syariah dapat terus ditingkatkan sebagai sumber pendanaan industri halal dan ekosistem keuangan syariah yang terintegrasi. Pasar modal syariah juga diharapkan terus memberikan alternatif kebutuhan pendanaan secara syariah antara lain melalui penerbitan efek melalui platform securities crowdfunding syariah,” ujarnya.
Halaman Berikutnya